Ondel-Ondel: Kontroversi Budaya Turun ke Jalan

Senin, 20/06/2022 - 20:51
Foto: Pengamen Ondel-Ondel Jalanan/ Sumber: Dok. Pribadi

Foto: Pengamen Ondel-Ondel Jalanan/ Sumber: Dok. Pribadi

Oleh : Muhammad Rifai mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta Program Studi Penerbitan (Jurnalistik). 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali mewacanakan melarang penggunaan ondel-ondel sebagai sarana mengamen. Bahkan mereka menyiapkan sanksi bagi yang melanggar nanti.

Rencana pelarangan itu dibuat setelah ada keluhan dari masyarakat karena pengamen ondel-ondel mengganggu dan meresahkan. Apalagi ondel-ondel merupakan ikon budaya Betawi.

Ondel-ondel ngamen di jalan rupanya menjadi kontroversi di kalangan komunitas kesenian dan masyarakat asli Jakarta. Ondel-ondel ngamen di jalan dipandang sudah melenceng dari pakem seni Ondel-ondel dan budaya Betawi.

Pakem yang dimaksud di antaranya melibatkan oknum non seniman Betawi, anak-anak di bawah umur hingga penggunaan musik Minus One. Hal tersebut dianggap melenceng dari pakem seni ondel-ondel itu sendiri.

Menengok ke belakang, dalam tradisi Betawi ondel-ondel memang digunakan sebagai sarana mengamen. Pemain ondel-ondel keliling kampung untuk mengusir bala kemudian mendapat imbalan dari warga.

Fungsi mengusir bala membuat ondel-ondel sering tampil dalam berbagai acara resmi resmi atau sakral. Ondel-ondel paling sering tampil di ulang tahun kota Jakarta, pernikahan, peresmian tempat tinggal baru, atau upacara lain.

Biasanya pihak yang menghelat hajatan seperti pernikahan, sunatan, atau peresmian gedung, memanggil ndel-ondel demi tujuan mengusir bala atau nasib buruk. Rombongan ondel-ondel dengan alat musik tradisional seperti rebab kemudian mendapat imbalan bayaran dari 'shohibul hajat'.

Saat ini penggunaan ondel-ondel mengalami pergeseran pada era modern sampai sekarang hingga menjadi sarana mengamen. Kini, nasib warisan budaya Betawi menjadi tidak jelas setelah Pemprov DKI berencana melarang. Terlebih wadah untuk menampilkan ondel-ondel sangat sedikit.

Di balik kontroversi tersebut ada sebagian masyarakat yang mendukung maupun tidak, seperti yang di ungkapkan Sekar yang merupakan salah seorang warga Jakarta.

”Menurut saya pengamen ondel-ondel tuh keren, dalam arti mereka masih berusaha buat melestarikan budaya Betawi yang sedikit demi sedikit udah pudar, kalau dibilang meresahkan juga ngga sih, karena mereka juga nyari uang engga dengan cara yang maksa, malah kadang menghibur juga,” Ungkapnya.

Berbeda dengan yang dengan Iqbal, salah seorang warga keturunan Betawi yang saya temui disalah satu warung kopi yang berada di daerah Bintaro.

“Menurut saya Ondel ondel yang mengamen di pinggir jalan atau yang suka meminta minta termasuk menjelek jelekan budaya asli Jakarta karena budaya yang salah digunakan. Saya masih mengapresiasikan kepada ondel-ondel yang mengamen. Namun, diiringi dengan alat musik khas Jakarta secara langsung atau bukan kaset rekaman. Karena saya menganggap masih ada yang bisa meneruskan budaya Jakarta. Tapi tetap saja, harus diperbaiki lagi dengan tanda kutip 'Jangan buat ngamen',” ungkap Iqbal.

Namun, dibalik semua kontroversi yang ada, terdapat sisi positif yang dapat diambil. Meskipun dinilai mengganggu atau meresahkan setidaknya pengamen ondel-ondel tetap melestarikan budaya dengan caranya sendiri.

Berita Terkait