KKN UIN Walisongo Kelompok 9 Mengenalkan "Sikap Moderat Dalam Beragama Kepada Generasi Millenial" Melalui Webinar
Klikwarta.Com - Anggota KKN MIT DR 12 Kelompok 9 UIN Walisongo Semarang mengadakan Webinar Moderasi Beragama yang mengusung tema "Sikap Moderat Beragama Millenial di Era Pandemi : Dari Pemuda untuk Indonesia." Acara tersebut mulai dengan sambutan disampaikan oleh DPL Kelompok 9 yaitu Dr. Kurnia Muhajarah MSI.
Selanjutnya, Keynot Speaker disampaikan oleh M.Rikza Chamami, MSI selaku Kapus PPM LP2M UIN Walisongo, beliau menyampaikan pesan bahwa "Ada tiga hal penting yang menjadi titik point kita memahami Indonesia. Indonesia menjadi negara umat beragama, bukan menjadi negara agama yang dimiliki satu atau dua golongan saja, tetapi menjadi negara yang merupakan manifestasi dari seluruh agama. Oleh sebab itu, memahami Indonesia juga harus memahami agama secara baik.” Tegas nya
Acara webinar kali ini dihadiri oleh 85 peserta dari berbagai lapisan masyarakat. Terdapat dua narasumber dalam acara tersebut. Narasumber pertama yaitu Dr.H. Ahmad Tajudin Arafat MSI selaku Komisi Fatwa MUI Kota Semarang dan Sekjur S2 IAT FUHUM UIN Walisongo Semarang. Narasumber kedua yaitu Setyawan Budi selaku Koordinator Persaudaraan Lintas Agama "Pelita" yang akan menyampaikan materi dari dua sudut agama yang berbeda.
Narasumber pertama Dr. H Tajuddin Arafat, MSI. memberikan pandangan mengenai moderasi beragama dilihat dari sudut pandang Islam. Bahwa dalam beragama mengharuskan kedalaman, kedalaman dalam memaknai pemahaman. Pada zaman sekarang, anak milenial banyak disuguhi informasi yang bertebaran di media sosial yang berkaitan dengan dakwah, dalam hal ini penting bagi anak millenial untuk melihat siapa yang menyampaikan, tidak hanya konten apa yang disampaikan.
"Kita harus melihat standar keagamaan, lihat siapa yang menyampaikan. Karena beragama itu pakai sejarah, pakai guru, yang lainnya terserah karena kita berbicara tentang moderasi beragama." Imbuhnya
Menurutnya, emosi keagamaan yang tinggi tidak dibarengi dengan nalar agama yang tinggi akan menyebabkan terorisme, seharusnya dapat dilakukan dengan mengombinasikan dan mendialogkan agama. "Agama itu mudah, tapi bukan untuk disepelekan. Moderasi beragama harus tetap diperjuangkan, bahasa goyonan saya dalam menyampaikan moderasi beragama juga harus radikal. Radikal dapat diartikan bahwa harus bersungguh-sungguh memperjuangkan. " tambahnya
Setyawan Budy selaku narasumber kedua sharing dan menceritakan pengalaman dengan teman-teman jaringan lintas agama. Menurut Setyawan Budi tantangan generasi milenial pada era pandemi iya itu banyak masyarakat yang tidak percaya terhadap virus covid 19. Hal ini terjadi di beberapa agama dan kepercayaan, kelompok-kelompok dengan doktrin yang tidak mempercayai adanya covid 19, vaksin dan lain sebagainya.
"Keadaan sekarang dengan adanya pandemi covid 19 memang tidak mudah, ini menjadi tantangan bagi kita semua. Apakah kita akan menjadi umat beragama yang egois dan individualis, atau justru situasi pandemi seperti saat ini membukakan mata hati kita terhadap kondisi di sekitar kita." Ujar narasumber 2 dalam webinar tersebut.








