Foto Dokumentasi
Klikwarta.com - Peserta KKN MIT DR XII Kelompok 9 UIN Walisongo Semarang mengadakan diskusi online yang dikemas dalam bentuk ngaji online dengan tema “Status Pendidikan Indonesia dilihat dari Ilmu Mantiq” melalui platform Google Meet. Acara dibuka oleh M. Maulana Ariyanto (koordinator Divisi Keagamaan) selaku moderator kemudian dilanjutkan dengan penyampian materi oleh narasumber yaitu M. Zaki Murtadho (Mahasiswa jurusan Akidah Filsafat Islam UIN Walisongo Semarang).
Acara ngaji online yang dilangsungkan pada pukul 19.30 WIB mendatangkan 35 peserta dari berbagai instansi, karena sifat dari acara ini adalah umum untuk berbagai kalangan. Prolog untuk memulai acara ini, M. Zaki Murtadho menjelaskan perspektif pendidikan secara umum adalah cara seseorang untuk mencapai nilai aksiologi. Pendidikan pada dasarnya meliputi dua hal yang penting, yaitu untuk memperoleh pengetahuan atau ilmu, serta untuk memperoleh akhlak.
“Jadi objek dari sebuah pendidikan adalah pengetahuan dan akhlak. Keduanya merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan.” Ucap Zaki.
Status pendidikan di Indonesia itu orang akan dianggap berpendidikan jika telah melalui sekolah pada umumnya, sekolah yang sudah di susun oleh pemerintah yaitu dari mulai SD Hingga dunia Perkuliahan. Sedangkan jika di lihat dari ilmu mantiq pendidikan itu bisa di dapat dari mana saja, pendidikan bisa di dapatkan melalui pembelajaran-pembelajaran dari alam sekitar. (jelas sang pemateri).
Menurut sang pemateri yaitu M. Zaki Murtado dalam pendidikan formal di Indonesia ilmu mantiq dapat menjadi alat dan formula berpikir bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Karena ilmu mantiq sendiri merupakan cara berpikir atau standarisasi berpikir.
Berbicara mengenai mantiq atau logika merupakan ilmu kaidah berfikir yang dirintis pertama kali oleh Aristoteles. Mantiq juga dikatakan sebagai sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir. Secara tertulis, ilmu mantiq muncul pada abad ke-4 sebelum masehi.
“Jika diterjemahkan lebih jauh lagi mengenai arti kata mantiq, maka pembahasan tidak akan cukup dalam waktu 1 sampai 2 jam saja” ujar Zaki.
Jika dilihat dari ilmu mantiq maka pendidikan yang ada di Indonesia ini masuk ke dalam pemahaman eksidental, bukan pemahaman substansi karena pendidikan di Indonesia tidak dapat dilihat dari intinya saja. Seperti yang kita tahu bahwa pendidikan yang ada di Indonesia , terlebih lagi pendidikan formal terdiri atas beberapa tingkatan mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Sehingga dalam pandangan ilmu mantiq pendidikan tidak dapat diartikan secara garis besar (inti) nya saja. Terlebih lagi standarisasi masyarakat mengenai pendidikan di Indonesia berbeda-beda.
Acara yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam ini, sebenarnya mengundang banyak sekali pertanyaan dan perdebatan yang muncul dari para peserta ngaji online. Sehingga ada salah satu peserta yang menanyakan mengenai
“lebih utama yang mana antara pendidikan formal atau pendidikan non formal di Indonesia?”.
Mendengar pertanyaan itu, M. Zaki Murtadho menjawab “Seperti yang sudah saya sampaiakan diawal tadi, bahwa standarisasi masyarakat mengenai pendidikan itu berbeda-beda. Pendidikan yang mereka tempuh sesuai dengan standar dan kebutuhannya masing-masing. Sehingga tidak ada yang namanya lebih utama mana, karena setiap orang apalagi di Indonesia memiliki kebutuhan yang berbeda-beda terkait pendidikan yang akan ditempuh. Pada dasarnya dan yang paling utama, pendidikan mana pun sebenarnya baik, semua pendidikan itu penting, asalkan mampu melahirkan pengetahuan dan akhlak pada diri seseorang.” Ujar Zaki.
Dalam tanya jawab dengan para audiens beliau menerangan bahwa ilmu mantiq merupakan alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam berpikir. Ilmu mantiq juga merupakan sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir yang salah.
Berdasarkan ilmu mantiq, pengetahuan dan akhlak menjadi suatu tolok ukur atau syarat dapat dikatakan sebagai sebuah pendidikan. Pendidikan di Indonesia pada dasarnya harus mampu melahirkan pengetahuan dan akhlak, sehingga seseorang merasa pendidikannya sudah tercukupi.
Kegiatan ini mendapat feedback yang baik dari para peserta, terlihat dari antusias peserta diskusi dengan memberikan beberapa pertanyaan dan pendapatnya seputar Status Pendidikan Indonesia dilihat dari Ilmu Mantiq.
Kegiatan diakhiri oleh moderator dengan doa bersama yang dipimpin oleh narasumber








