Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menerima audiensi Buana Triarta dan Timberlab di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Klikwarta.com, Jakarta, 15 Juli 2026* – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, membahas inovasi arsitektur berbasis material kayu dengan Buana Triarta dan Timberlab. Wamen Ekraf menekankan potensi ini sebagai solusi bisnis kreatif keberlanjutan.
"Kita harus memahami seperti apa industri kreatif bergerak mengikuti tren global. Material ramah lingkungan seperti _engineered wood_ memiliki peluang besar, tetapi harus dibangun melalui ekosistem yang kuat, kolaborasi lintas sektor, serta pembuktian melalui praktik atau proyek nyata yang berkelanjutan sehingga dapat dilihat dan dirasakan masyarakat," ungkap Irene dalam pertemuan yang berlangsung di kantor Kementerian Ekraf, Jakarta pada Rabu (15/7).
Pembahasan itu menjadi ruang diskusi terkait penguatan ekosistem arsitektur, penentuan arah mengenai _sustainability building_, serta pemanfaatan material berkelanjutan yang mampu meningkatkan nilai tambah industri kreatif. Irene juga menyampaikan bahwa pemerintah membuka peluang untuk menghadirkan karya-karya berbasis kayu di berbagai ruang publik sebagai media edukasi sekaligus etalase inovasi Indonesia.
Kehadiran instalasi maupun paviliun berbahan kayu harus didorong sehingga memperluas eksposur terhadap pasar ekspor yang kemungkinan membuka pemanfaatan alternatif material kayu sehingga lebih fungsional. Kementerian Ekraf dapat membantu membuka akses melalui berbagai _showcase_, pameran, maupun ruang publik yang memungkinkan masyarakat melihat langsung potensi material kayu ini.
“Semakin banyak orang dapat menyentuh, merasakan, dan memahami manfaat bahan baku lokal, maka semakin besar pula peluang industri ini berkembang memiliki nilai tambah ekonomi yang mengurangi ketergantungan pada material impor," tambah Irene.
Buana Triarta merupakan perusahaan manufaktur material mentah yang memiliki anak perusahaan jasa seperti Timberlab yang spesifik mengeksekusi kebutuhan desain dan konstruksi bangunan, terutama menggunakan bahan material dari kayu. Menurut _Founder_ Timberlab, Indonesia memiliki sumber daya hutan yang melimpah sehingga sudah saatnya mampu menjadi pemain utama dalam pengembangan arsitektur berbasis kayu di kawasan Asia Tenggara.
“Kami mendapat arahan dari Wamen Ekraf bahwa jangan hanya menunggu market yang ter-_develop_ di Indonesia saja, tetapi harus bisa melihat ke luar negeri seperti Filipina atau Singapura. Alangkah baiknya kalau mereka bisa menggunakan kayu asli dari Indonesia. Banyak arah kolaborasi yang juga kami diskusikan hari ini, termasuk menghidupkan bangunan-bangunan dari kayu (_public space_) yang bisa membantu mendorong industri kreatif,” ucap Tirto Hutomo Yuandi sebagai _founder_ Timberlab sekaligus Direktur PT Buana Triarta.
Sebelumnya, Timberlab pernah terlibat dalam desain serta konstruksi booth maupun instalasi Hackathon Arch ID 2026 yang berkolaborasi dengan Kementerian Ekraf dan IAI. Konsep yang diusung yaitu Parametric Modular Timber Pavilion dengan material Glulam (_Glued-laminated Timber_). Instalasi ini bisa didirikan dengan cepat, minim sisa limbah (_zero waste_), dan dapat dibongkar pasang (modular).
Dalam agenda audiensi, Wamen Ekraf Irene Umar didampingi Direktur Arsitektur dan Desain, Sabar Norma Megawati Panjaitan. Turut hadir General Manager Timberlab William Jose Wisnuwardana beserta arsitek Timberlab, Nathania Dwi Putri. (*)








