Ketika Generasi Muda Turun Langsung Mengenalkan QRIS Kepada Masyarakat

Senin, 02/11/2026 - 15:33
Tesalonika R.M. Panggabean saat Turun Langsung dan Mengedukasi Masyarakat Mengenai Penggunaan QRIS Bagi Pelaku UMKM. Foto: (Dokumentasi Pribadi)

Tesalonika R.M. Panggabean saat Turun Langsung dan Mengedukasi Masyarakat Mengenai Penggunaan QRIS Bagi Pelaku UMKM. Foto: (Dokumentasi Pribadi)

Oleh: Ghaida

Transformasi digital dalam sektor ekonomi tidak cukup hanya diperkenalkan melalui informasi di media sosial atau berbagai platform digital. Lebih dari itu, diperlukan pendekatan langsung agar masyarakat dapat memahami manfaat teknologi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang dilakukan Tesalonika R.M. Panggabean bersama timnya melalui edukasi penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kepada masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Melalui program QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) 2026, Tesalonika dan tim tidak hanya menyampaikan informasi mengenai pembayaran digital, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk berinteraksi dengan para pelaku usaha. Mereka mengunjungi sejumlah UMKM yang belum menyediakan QRIS, kemudian memberikan penjelasan mengenai manfaat, kemudahan, serta cara menggunakan sistem pembayaran tersebut. Pendekatan ini menjadi upaya untuk memastikan bahwa edukasi digitalisasi tidak berhenti pada sebatas pengetahuan, melainkan dapat mendorong perubahan dalam praktik transaksi masyarakat.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan generasi muda memiliki peran penting dalam memperluas pemahaman masyarakat terhadap perkembangan teknologi. Sebab, tidak semua pelaku UMKM memiliki tingkat pemahaman yang sama mengenai sistem pembayaran digital. Sebagian masih membutuhkan pendampingan dan penjelasan secara langsung agar lebih mengenal cara kerja serta manfaat QRIS bagi kegiatan usaha mereka.

Menurut Tesalonika, edukasi secara langsung menjadi penting karena masih terdapat pelaku UMKM yang membutuhkan pemahaman lebih lanjut mengenai penggunaan QRIS. Melalui interaksi tatap muka, mereka dapat menjelaskan bagaimana sistem pembayaran tersebut bekerja sekaligus memberikan gambaran mengenai penerapannya dalam aktivitas jual beli. Dengan demikian, QRIS tidak hanya diperkenalkan sebagai sebuah inovasi teknologi, tetapi juga sebagai alternatif pembayaran yang relevan dengan kebutuhan pelaku usaha.

Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat, keberadaan metode pembayaran digital juga semakin penting. Kebiasaan konsumen, khususnya generasi muda, yang mulai terbiasa menggunakan dompet digital dan mengurangi ketergantungan pada uang tunai menjadi salah satu alasan mengapa UMKM perlu beradaptasi. Pelaku usaha yang hanya menyediakan pembayaran tunai berpotensi kehilangan kesempatan transaksi ketika konsumen tidak membawa uang cash.

“Anak muda itu sering enggak punya uang cash, jadi mereka sering enggak jadi beli di UMKM karena enggak ada QRIS,” ujar Tesalonika.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ketersediaan metode pembayaran dapat memengaruhi keputusan konsumen dalam berbelanja. Dalam situasi ketika masyarakat semakin terbiasa dengan transaksi non-tunai, QRIS dapat menjadi fasilitas pendukung yang membantu mempertemukan kebutuhan konsumen dengan kesiapan pelaku usaha. Kemudahan pembayaran bukan sekadar persoalan praktis, melainkan juga bagian dari upaya UMKM menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku pasar.

Bagi UMKM, menyediakan QRIS berarti membuka alternatif transaksi yang lebih fleksibel bagi konsumen. Kehadiran metode pembayaran ini juga dapat membantu pelaku usaha menjangkau kelompok masyarakat yang lebih terbiasa melakukan pembayaran secara digital. Oleh karena itu, pengenalan QRIS perlu dipandang sebagai bagian dari proses adaptasi usaha terhadap perkembangan teknologi dan kebiasaan konsumen, bukan semata-mata mengikuti tren digitalisasi.

Melalui QJI 2026, Tesalonika dan tim berupaya menjembatani perkembangan teknologi pembayaran dengan kebutuhan nyata masyarakat. Pengalaman turun langsung ke lapangan memberikan pemahaman bahwa transformasi digital bukan hanya tentang menghadirkan teknologi, tetapi juga memastikan masyarakat mampu mengenal, memahami, dan memanfaatkannya.

Pada akhirnya, digitalisasi UMKM membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan fasilitas. Diperlukan pula edukasi, pendampingan, dan keterlibatan berbagai pihak agar perubahan dapat diterima dan diterapkan secara bertahap. Dalam hal ini, generasi muda dapat mengambil peran sebagai penghubung antara perkembangan teknologi dan masyarakat yang sedang beradaptasi.

Apa yang dilakukan Tesalonika dan tim melalui QJI 2026 menjadi gambaran bahwa kontribusi generasi muda tidak harus selalu diwujudkan melalui inovasi teknologi baru. Turun langsung ke masyarakat, berbagi pengetahuan, dan membantu pelaku UMKM memahami manfaat pembayaran digital juga merupakan bentuk kontribusi nyata dalam mendukung transformasi ekonomi. Sebab, kemajuan digital tidak hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang tersedia, tetapi juga dari seberapa luas masyarakat dapat merasakan manfaatnya. (*)

Tags

Berita Terkait