Ubah Limbah Jadi Biogas, Warga Manokwari Selatan Hemat Energi & Biaya

Rabu, 07/10/2026 - 14:21
Warga Manokwari Selatan Hemat Energi & Biaya

Warga Manokwari Selatan Hemat Energi & Biaya

Klikwarta.com, Manokwari Selatan - Selama ini, kotoran sapi menjadi limbah yang mengganggu di kampung Margorukun, Distrik Oransbari, Manokwari Selatan, Papua Barat. Di sisi lain, warga setempat kesulitan karena dijatah hanya 20 liter minyak tanah per bulan.

Masalah berganda ini diatas Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 08 dari Institut Teknologi Surabaya (ITS), dengan inovasi kompor biogas. Kini warga bisa leluasa memasak, kotoran sapi berkurang, bahkan bisa mendapat tambahan pupuk.

Manfaat tersebut mulai dirasakan langsung oleh warga. Aswati, salah satu mitra pengguna biogas mengatakan, penggunaan kompor biogas tidak jauh berbeda dengan kompor yang biasa digunakan.

“Sama dengan kompor biasa, namun saat ini masih adaptasi karena terbiasa menggunakan kompor minyak tanah. Api yang dihasilkan juga stabil dan menyala dengan sempurna,” kata Aswati, Kamis (01/10/2026).

Salah satu anggota TEP 08 ITS, Jinan, mengatakan biogas mulai dihasilkan setelah proses pemasukan kotoran sapi ke dalam reaktor berlangsung sekitar tiga minggu. Gas tersebut kemudian disalurkan ke kompor biogas dan telah dimanfaatkan untuk memasak.

“Api yang dihasilkan stabil, dapat diperbesar maupun diperkecil, dan tidak mengandung bau sama sekali. Tim juga mencoba merebus telur dengan hasil matang sempurna,” ujar Jinan, Kamis (01/10/2026).

Program ini dikembangkan untuk menjawab persoalan energi rumah tangga sekaligus memanfaatkan potensi peternakan di Margorukun. Sebagian warga memelihara sapi dengan pola ternak lepas, sementara kebutuhan memasak masih bergantung pada minyak tanah yang pasokannya kerap terbatas atau LPG nonsubsidi yang harganya relatif mahal.

Ketua TEP 08 ITS, Dr. Ir. Arief Abdurrakhman, S.T., M.T., menjelaskan biodigester berkapasitas 12 meter kubik (12 m³) yang dibangun tim mampu mengolah kotoran sekitar 10 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan memasak tiga rumah tangga.

Pemanfaatan biogas tersebut berpotensi menghemat biaya energi sekitar Rp50 ribu per bulan bagi warga. Danun, salah satu penerima manfaat, mengatakan kelangkaan minyak tanah menjadi salah satu alasan pentingnya alternatif energi seperti biogas.
“Minyak tanah sekarang langka hingga dua kali dalam sebulan, sementara setiap KK hanya boleh mendapat empat jeriken atau sekitar 20 liter,” tuturnya, Sabtu (12/09/2026).

Selain menghasilkan biogas, proses fermentasi kotoran sapi juga menghasilkan bioslurry yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pemanfaatan tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dari luar kampung. Ke depan, bioslurry juga dapat dikembangkan menjadi produk yang dipasarkan melalui BUMDes.

Pemanfaatan biogas juga diarahkan untuk menghasilkan energi listrik. Arief menjelaskan, dengan ketersediaan sekitar 20 ekor sapi, biogas yang dihasilkan berpotensi dikonversi menjadi listrik sebesar 2.000 watt selama lima jam per hari.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara yang meninjau lokasi pada 12 September 2026 mendorong agar pemanfaatan biogas tidak berhenti pada kebutuhan memasak.

“Konversi listrik harus segera direalisasikan,” tegasnya, Sabtu (12/09/2026).

Pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas dan pupuk organik menjadi salah satu bentuk nyata transformasi energi di kawasan transmigrasi. Limbah peternakan yang sebelumnya belum termanfaatkan kini mulai diolah menjadi sumber energi sekaligus mendukung kebutuhan pertanian masyarakat.

Langkah tersebut sejalan dengan pesan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengenai pentingnya transformasi energi yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Mentransformasi energi berarti meningkatkan bukan hanya teknologi, tetapi juga kemanusiaan,” tegas Agus Harimurti Yudhoyono pada 23 Agustus 2026. (**) 

Berita Terkait