klikwarta.com, Jatim - Pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, dalam acara Kick Off Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban, menuai sorotan.
Pengasuh pesantren asal Situbondo, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, secara terbuka mendesak KH Miftachul Akhyar untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Desakan itu dipicu oleh dugaan kekeliruan dalam pembacaan ayat saat Rais Aam PBNU menyampaikan sambutan pada Minggu (11/10/2026).
Gus Lilur menegaskan, jabatan tinggi maupun reputasi keilmuan tidak boleh membuat pembacaan kitab suci luput dari koreksi. Al-Qur'an, kata dia, memiliki susunan lafal dan kaidah pelafalan yang presisi dan wajib dijaga.
"Al-Qur'an bukan puisi yang bisa dibaca mengandalkan perkiraan bunyi atau ingatan tanpa diperiksa kembali," ujar Gus Lilur.
Peristiwa ini bermula ketika KH Miftachul Akhyar mengutip Surah Al-Fath ayat 29 untuk mengumpamakan pertumbuhan Islam seperti tanaman yang terus membesar.
Rekaman video acara yang diunggah di saluran YouTube NU Online tersebut kemudian diperiksa oleh Gus Lilur berdasarkan teks tajwid dan kaidah qiraat.
Hasilnya, Gus Lilur mengklaim menemukan empat kekeliruan pada pelafalan ayat tersebut:
*1.* Penghilangan dan perubahan kata: Lafal yang seharusnya _fa-āzarahu fastaghlaẓa_ terucap menjadi _fastaqladhahu_.
*2.* Pengulangan yang tak lengkap: Pada pengulangan ayat, kata _fastawā_ dibaca tanpa didahului _fastaghlaẓa_.
*3.* Pergeseran makna kata: Kata _sūqihi_ yang artinya tangkai-tangkainya, diklaim berubah menjadi _sukbih_.
*4.* Perubahan struktur penutup (i'rab): Bagian akhir _liyaghīẓa bihimul-kuffār_ diklaim berubah menjadi _fa yaghidu bihi mulku kuffar_.
Menurut analisis yang disampaikan Gus Lilur, kekeliruan jenis tersebut dikategorikan sebagai _lahn jalī_, yakni kesalahan yang mengubah struktur serta arti kata. Berbeda dengan _lahn khafī_ yang sebatas pelanggaran tajwid halus.
"Yang terjadi di Tuban bukan sekadar satu _lahn jalī_, melainkan empat kesalahan dalam satu potongan ayat pendek," tutur Gus Lilur.
Gus Lilur menyebut kritik yang ia lontarkan murni bentuk tanggung jawab ilmiah untuk menjaga kehormatan Al-Qur'an dan tradisi akademis pesantren, bukan serangan pribadi. Penghormatan kepada ulama, kata dia, tidak boleh meniadakan tradisi saling mengoreksi.
Ia memaparkan bahwa posisi Rais Aam PBNU merupakan makam keilmuan tertinggi, rujukan utama bagi para kiai dan nahdliyin. Kursi tersebut dulunya diduduki para pendiri NU seperti Hadratussyekh Hasyim Asy'ari, Kiai Wahab Chasbullah, dan Kiai Bisri Syansuri.
Gus Lilur menilai, opsi paling terhormat bagi KH Miftachul Akhyar saat ini adalah meletakkan jabatannya agar kehormatan lembaga dan marwah keulamaan tetap terjaga.
"Mundur bukan bentuk hukuman, melainkan cara seorang alim menjaga kehormatan posisi yang didudukinya. Dalam situasi seperti sekarang, mundur justru lebih memuliakan beliau daripada bertahan," pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari PBNU maupun KH Miftachul Akhyar terkait klaim kekeliruan bacaan tersebut.








