Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X
Klikwarta.com, Yogyakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah perlu diarahkan pada pertumbuhan yang inklusif, inovatif, dan berorientasi pada kemaslahatan manusia. Potensi kreativitas dan tradisi kewirausahaan Yogyakarta dinilai menjadi modal penting untuk memperluas peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rantai ekonomi haji dan umrah, termasuk menembus pasar internasional.Hal tersebut disampaikan Sri Sultan HB X dalam Jogja Expo 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Jumat (23/10).
Menurut Sri Sultan, haji dan umrah tidak hanya mengandung dimensi ibadah, tetapi juga harapan, pengorbanan, serta perjalanan manusia dalam mencari makna kehidupan. Di dalamnya terbentuk ekosistem ekonomi yang memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Dimensi haji dan umrah mengandung harapan, pengorbanan, dan perjalanan pencarian makna kehidupan. Di dalamnya juga terbentuk ekosistem ekonomi. Dalam perspektif pembangunan, pertumbuhan ekonomi memperoleh makna ketika mampu menghadirkan kemaslahatan bagi manusia,” ujar Sri Sultan.
Ia mengatakan, penguatan ekosistem tersebut perlu dilakukan melalui perluasan kemitraan, peningkatan kapasitas produksi, serta pengembangan produk dan layanan yang memiliki nilai tambah. Yogyakarta, dengan kreativitas masyarakat dan tradisi kewirausahaannya, memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam pengembangan ekonomi haji dan umrah.
Potensi tersebut, lanjut Sri Sultan, perlu dipertemukan dengan inovasi agar mampu menghasilkan produk yang relevan dengan kebutuhan jemaah sekaligus memiliki daya saing di pasar global.
Namun, inovasi dan perluasan pasar harus berjalan seiring dengan integritas dan standar mutu. Menurutnya, upaya membawa produk UMKM ke pasar internasional tidak cukup hanya dengan memperluas jangkauan, tetapi juga harus disertai tata kelola yang baik dan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Membangun ekonomi haji dan umrah di DIY harus kreatif, inovatif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai dasar. Kembali memuliakan manusia dan menghadirkan nilai ekonomi yang membawa kemaslahatan. Inovasi harus berjalan dengan integritas, sementara perluasan internasional perlu ditempa dengan standar mutu,” tuturnya.
Sri Sultan juga menekankan bahwa nilai-nilai ibadah semestinya menjadi landasan dalam membangun aktivitas ekonomi. Kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap manusia perlu tumbuh sebagai bagian dari budaya usaha, sehingga ekonomi haji dan umrah tidak semata-mata mengejar keuntungan, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia berharap Jogja Expo 2026 dapat melahirkan kemitraan yang berkelanjutan, memperluas akses UMKM Yogyakarta ke pasar global, serta memperkuat tata kelola layanan haji dan umrah yang bermartabat.
“Keberhasilan sistem ekonomi ditentukan oleh kemampuannya menghadirkan manfaat nyata. Ketika kesejahteraan benar-benar dirasakan masyarakat, di situlah pertumbuhan menemukan nilai kemanusiaannya,” kata Sri Sultan.
Jogja Expo 2026 menjadi ruang pertemuan bagi pelaku usaha, pemerintah, dan mitra untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah. Melalui sinergi tersebut, potensi lokal diharapkan dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan kemaslahatan.
(Kontributor : Arif)








