Presiden Prabowo Subianto dalam acara Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo.
Klikwarta.com, Gorontalo — Presiden Prabowo Subianto menempatkan petani dan nelayan sebagai tulang punggung bangsa dalam Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo. Pesan itu menjadi penting bagi Kementerian Transmigrasi, karena pembangunan kawasan transmigrasi selama ini juga bertumpu pada kekuatan rakyat pekerja: petani, pekebun, peternak, nelayan, dan keluarga-keluarga produktif di wilayah baru.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara hadir dalam kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 24 Juni 2026 tersebut. Kehadirannya menunjukkan bahwa agenda transmigrasi memiliki titik temu yang kuat dengan arah Presiden Prabowo: membela rakyat kecil, memperkuat produksi nasional, dan memastikan Indonesia tidak bergantung pada negara lain untuk kebutuhan dasarnya.
Dalam pidato utamanya, Presiden menegaskan bahwa petani dan nelayan telah berjasa sejak masa perjuangan kemerdekaan. Mereka memberi makan rakyat dan para pejuang, bahkan ketika negara belum memiliki APBN. Karena itu, keberpihakan kepada petani dan nelayan bukan hanya pilihan kebijakan, tetapi utang sejarah bangsa.
Presiden juga mengkritik cara pandang lama yang terlalu mudah menyerahkan kebutuhan pangan kepada impor dengan alasan efisiensi. Bagi Presiden, kemerdekaan Indonesia harus menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat kecil, bukan hanya keuntungan bagi segelintir pihak.
Kementerian Transmigrasi membaca pesan tersebut sebagai mandat moral pembangunan kawasan. Transmigrasi harus menjadi jalan untuk membuka akses rakyat terhadap lahan, pekerjaan, pendidikan, teknologi, pasar, dan masa depan yang lebih baik. Kawasan transmigrasi tidak boleh berhenti sebagai permukiman, tetapi harus tumbuh sebagai ekosistem ekonomi yang produktif.
Di hadapan puluhan ribu petani dan nelayan, PENAS XVII juga memperlihatkan optimisme baru: harga pupuk turun 20 persen, Nilai Tukar Petani mencapai 127 persen, sektor pertanian tumbuh 5,74 persen, dan produksi pangan nasional disebut mencapai 38 juta ton. Capaian tersebut memperkuat keyakinan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Bagi Menteri Transmigrasi, semangat itu menjadi arah kerja kementerian ke depan. Kawasan transmigrasi harus hadir sebagai bagian dari solusi: mengurangi kemiskinan, memperluas pemerataan, menciptakan pusat produksi baru, dan menjaga martabat petani serta masyarakat kawasan.
PENAS XVII di Gorontalo akhirnya bukan hanya perayaan petani dan nelayan. Ia menjadi panggilan bagi seluruh sektor pembangunan, termasuk transmigrasi, untuk kembali kepada tujuan paling dasar bernegara: menyejahterakan rakyat.
*Sumber: Tim Kementerian Transmigrasi*








