Muhadjir Effendy Tegaskan Islam Damai, Dorong Akselerasi UMKM Muhammadiyah

Sabtu, 11/04/2026 - 15:38
Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy

Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy

Klikwarta.com, Garut - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cibiuk, Garut, menggelar kegiatan Silaturrahmi Ba’da Idul Fitri pada Jumat (10/4/2026) di Pesantren Al-Furqon Garut.

Mengangkat tema “Pembinaan dan Pengembangan Usaha Mikro dan Menengah Kabupaten Garut 2026”, acara ini tidak sekadar menjadi ajang saling memaafkan pasca-Ramadan, tetapi juga momentum penguatan konsolidasi gerakan keagamaan dan ekonomi Muhammadiyah.

Hadir sebagai pembicara utama, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menyampaikan dua pesan utama, yakni pentingnya membangun Islam yang damai dan terbuka, serta perlunya memperkuat ekonomi umat melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam perspektif keagamaan, Muhadjir menegaskan bahwa perbedaan penetapan Idul Fitri tidak seharusnya dimaknai sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap pemerintah. Ia menilai anggapan tersebut keliru dan dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Perbedaan Idul Fitri bukan berarti tidak taat kepada pemerintah. Pandangan seperti itu tidak tepat,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan bagian dari tradisi ijtihad dalam Islam yang perlu disikapi dengan bijak. Karena itu, ia mengajak umat untuk memperkuat silaturrahmi sebagai sarana menjaga persatuan.

“Dengan memperbanyak silaturrahmi, perbedaan tidak menjadi sumber konflik, tetapi justru menjadi kekayaan,” ujarnya.

Muhadjir juga menekankan bahwa keterbukaan merupakan ciri penting gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid. Sikap terbuka, menurutnya, menjadi kunci agar Muhammadiyah tetap relevan dan tidak terjebak dalam pandangan sempit.

“Kita harus berpikiran terbuka. Tanpa itu, semangat tajdid tidak akan berjalan,” katanya.

Dalam konteks global, ia turut menyinggung konflik di Timur Tengah. Muhammadiyah, jelasnya, secara konsisten mendorong solusi damai melalui skema dua negara sebagaimana pernah diperjuangkan Yasser Arafat bersama faksi Fatah. Ia menegaskan bahwa pendekatan damai tersebut dinilai lebih realistis dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan.

“Kita mendukung solusi dua negara sebagai jalan damai yang rasional,” ungkapnya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kepentingan nasional Indonesia, termasuk dalam hubungan strategis dengan Arab Saudi, khususnya terkait penyelenggaraan ibadah haji.

Beralih ke sektor ekonomi, Muhadjir menyoroti bahwa tantangan utama UMKM saat ini terletak pada akses pasar, bukan semata pada produksi. Ia menilai selama ini Muhammadiyah cukup kuat di sisi produksi, namun masih perlu memperkuat jaringan distribusi dan pemasaran.

“UMKM membutuhkan pasar yang jelas. Saat ini pasar tidak hanya konvensional, tetapi juga berbasis digital dan jaringan distribusi modern,” jelasnya.

Sebagai upaya konkret, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendorong pengembangan Suryamart sebagai jaringan ritel umat. Inisiatif ini diharapkan menjadi sarana distribusi bagi produk-produk UMKM warga Muhammadiyah dalam satu ekosistem ekonomi yang terintegrasi.

“Suryamart kita dorong sebagai jaringan ritel umat agar produk UMKM memiliki akses pasar yang berkelanjutan,” katanya.

Ia mengaitkan penguatan ekonomi tersebut dengan agenda besar Muhammadiyah menjelang Muktamar di Medan. Menurutnya, perkembangan sektor ekonomi diharapkan mulai terlihat sebagai salah satu pilar penting gerakan.

“Kita berharap saat Muktamar di Medan, pilar ekonomi Muhammadiyah sudah menunjukkan kemajuan yang nyata,” ujarnya.

Muhadjir menegaskan bahwa seluruh upaya ini merupakan bagian dari gerakan tajdid yang berjalan secara bertahap dan berkelanjutan, bukan sesuatu yang instan.

“Gerakan tajdid itu proses bertahap. Yang penting arah kita jelas dan terus bergerak,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PCM Cibiuk Yanto Asyatibi menyampaikan bahwa kegiatan silaturrahmi ini menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk hadir di tengah masyarakat, baik dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah maupun pemberdayaan ekonomi umat.

“Silaturrahmi ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga sarana memperkuat pemahaman tentang Islam yang damai dan berkemajuan,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari peserta. Diskusi yang berkembang menunjukkan semangat kolektif dalam merespons berbagai tantangan, mulai dari isu keagamaan hingga persoalan ekonomi seperti akses pasar, permodalan, dan digitalisasi usaha.

(Kontributor: Arif)

Berita Terkait