Hery Purnobasuki Guru Besar FST Universitas Airlangga Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga
Bayangkan sebuah hutan yang tidak lagi menunggu asap tebal untuk bergerak. Bayangkan para penjaga hutan, kepala desa, bahkan petani di pinggir lahan gambut sudah tahu tiga bulan sebelumnya bahwa wilayah mereka akan masuk zona merah kebakaran. Mereka tidak lagi terkejut saat titik panas muncul di layar satelit, karena jauh sebelum itu, data sudah berbisik: “Hati-hati, musim kemarau tahun ini lebih kering, angin lebih kencang, dan permukaan lahan lebih mudah terbakar.” Inilah wajah baru pencegahan karhutla yang sedang kita bangun: membaca risiko sebelum api muncul, lalu merespons dengan sistem yang cerdas, dari early warning hingga smart peat.
Selama bertahun-tahun, narasi karhutla di Indonesia terlalu sering terjebak dalam drama pemadaman. Helikopter water bombing melintas di atas kabut asap, petugas lapangan berlari memadamkan api yang sudah telanjur membesar, sementara warga hanya bisa menutup hidung dan menunggu hujan turun.
Padahal, akar masalahnya bukan pada seberapa cepat kita memadamkan, melainkan seberapa baik kita membaca tanda-tanda sebelum api itu lahir. BMKG, Kementerian Kehutanan, hingga BRIN kini mulai menggeser fokus dari reaktif ke antisipatif. Mereka mengembangkan sistem peringatan dini yang tidak hanya menampilkan hotspot, tetapi juga memprediksi potensi kebakaran berdasarkan cuaca, kelembapan, angin, dan kondisi bahan bakar di permukaan lahan.
Salah satu terobosan penting adalah Spartan, Sistem Peringatan Hutan dan Lahan yang dikembangkan BMKG. Platform ini tidak sekadar memberi tahu “ada api di sana”, tetapi menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: “Di mana api berpotensi muncul, kapan, dan seberapa besar risikonya?” Spartan menggunakan parameter Fire Danger Rating System yang mengadopsi Fire Weather Index dari Kanada, lalu dikalibrasi dengan kondisi lokal Indonesia.
Empat parameter utama menjadi tulang punggungnya: kecepatan angin, kelembapan udara, curah hujan, dan suhu. Kombinasi data ini menghasilkan peta risiko yang bisa dibaca hingga tingkat desa, bahkan enam bulan sebelum musim kemarau puncak.
Namun, early warning saja tidak cukup jika informasinya berhenti di dashboard atau rapat koordinasi. Di sinilah pentingnya menerjemahkan data menjadi aksi nyata di lapangan.
Ketika Spartan memberi sinyal bahwa suatu wilayah akan masuk zona oranye atau merah, respons yang diharapkan bukan hanya meningkatkan patroli, tetapi juga mengaktifkan langkah-langkah pencegahan yang lebih konkret. Misalnya, menunda pembukaan lahan dengan bakar, memperkuat sekat bakar di titik-titik rawan, mengintensifkan edukasi ke masyarakat, hingga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca di lokasi yang benar-benar kritis. Integrasi data BMKG dengan command center Polri, TNI, Manggala Agni, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar peringatan dini tidak hanya jadi informasi, tetapi trigger aksi.
Di sisi lain, ada dimensi lain yang tak kalah penting: lahan gambut. Gambut adalah bahan bakar super. Ketika kering, ia bisa terbakar hingga ke lapisan dalam, sulit dipadamkan, dan melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif. Karena itu, mencegah karhutla di Indonesia tidak akan pernah optimal tanpa strategi khusus untuk gambut.
Di sinilah konsep smart peat mulai muncul sebagai bagian dari arsitektur pencegahan yang lebih cerdas. Smart peat bukan sekadar jargon, melainkan pendekatan yang menggabungkan sensor kelembapan gambut, pemantauan muka air, dan sistem irigasi atau pembasahan kembali yang responsif terhadap data.
Bayangkan sebuah lahan gambut di Riau atau Kalimantan yang dipasangi sensor IoT. Sensor ini terus-menerus mengirim data suhu dan kelembapan ke pusat kendali.
Ketika kelembapan turun di bawah ambang batas aman, sistem otomatis memberi peringatan:
“Gambut mulai kering, risiko kebakaran meningkat.” Peringatan ini bisa memicu beberapa respons sekaligus. Di tingkat tapak, petugas lapangan bisa segera membuka kanal atau mengaktifkan pompa untuk menaikkan muka air. Di tingkat kebijakan, pemerintah daerah bisa memperkuat larangan pembukaan lahan dengan bakar di wilayah tersebut. Di tingkat masyarakat, informasi ini bisa diterjemahkan menjadi pesan sederhana: “Minggu ini kondisi gambut sangat kering, hindari membakar sampah atau lahan.”
Integrasi antara early warning cuaca dan smart peat sebenarnya sedang dirintis. BMKG dan Kementerian Kehutanan sudah membahas kerja sama potensial mulai dari pemasangan alat sensor hingga integrasi data prediksi untuk pencegahan karhutla.
BRIN pun mendorong pemanfaatan geoinformatika dan satelit untuk membangun indeks cuaca kebakaran dan potensi kekeringan yang bisa dipantau harian. Semua ini adalah kepingan dari satu puzzle besar: membuat sistem pencegahan karhutla yang tidak hanya melihat api, tetapi membaca seluruh ekosistem risiko di sekitarnya.
Tentu saja, teknologi saja tidak akan pernah cukup.
Early warning dan smart peat akan tetap jadi menara gading jika tidak terhubung dengan perubahan perilaku masyarakat. Sebagian besar karhutla di Indonesia masih dipicu oleh aktivitas manusia, mulai dari pembukaan lahan hingga pembakaran sampah di sekitar hutan. Karena itu, sistem peringatan dini harus mampu “berbicara” dalam bahasa yang dipahami warga. Bukan dalam bentuk grafik FWI atau peta sebaran hotspot, tetapi dalam pesan yang jelas: “Desa Anda masuk zona merah minggu ini, jangan bakar lahan,” atau “Kondisi gambut sangat kering, hindari aktivitas yang berpotensi memercikkan api.” Ketika informasi ini sampai ke level dusun, dan disertai dengan insentif bagi yang patuh serta penegakan hukum bagi yang melanggar, barulah sistem pencegahan ini benar-benar hidup.
Ada pelajaran penting dari musim karhutla 2026. Indonesia sebenarnya sudah punya early warning yang cukup canggih, mampu memetakan risiko hingga tingkat desa dan memprediksi potensi kebakaran enam bulan sebelumnya. Namun, api tetap meluas. Ini bukan bukti bahwa teknologi gagal, melainkan bahwa mata rantai antara data, kebijakan, dan aksi lapangan masih sering putus.
Dashboard terintegrasi sudah ada, SOP sudah disusun, tetapi implementasinya belum optimal di banyak daerah. Di sinilah pentingnya political will dan koordinasi lintas sektor. Early warning harus jadi dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar pajangan di ruang rapat.
Ke depan, skenario ideal pencegahan karhutla bisa digambarkan seperti ini. Enam bulan sebelum musim kemarau, BMKG merilis peta risiko karhutla hingga tingkat desa berdasarkan analisis iklim dan data historis. Pemerintah daerah menggunakan peta ini untuk menyusun rencana aksi: di mana sekat bakar harus diperkuat, wilayah mana yang perlu prioritas modifikasi cuaca, dan desa mana yang butuh intensifikasi edukasi.
Tiga bulan sebelum puncak kemarau, sensor smart peat di lahan gambut mulai mengirim data kelembapan. Ketika tren kekeringan terdeteksi, sistem otomatis mengirim peringatan ke petugas lapangan dan komunitas setempat.
Satu bulan sebelum puncak kemarau, patroli terpadu TNI-Polri-Manggala Agni-masyarakat sudah berjalan di zona merah, sementara operasi modifikasi cuaca siap diaktifkan jika kondisi kritis. Ketika akhirnya ada titik panas terdeteksi, respons bukan lagi kepanikan, melainkan eksekusi rencana yang sudah disiapkan sejak lama.
Inilah makna sebenarnya dari “membaca risiko sebelum api muncul”. Bukan sekadar punya teknologi canggih, tetapi membangun budaya antisipasi yang menyatu dari level kebijakan hingga level dusun. Early warning dan smart peat adalah alat, bukan tujuan. Tujuannya adalah mengubah cara kita berpikir: dari budaya memadamkan api menjadi budaya menjaga hutan tetap basah, aman, dan hidup.
Jika ini berhasil, kita tidak lagi perlu bangga dengan seberapa banyak helikopter water bombing yang kita kerahkan. Kebanggaan sejati adalah ketika musim kemarau datang, tapi hutan tetap hijau, gambut tetap basah, dan tidak ada lagi cerita pilu tentang asap yang menutupi langit. (**)








