Rekonstruksi Sosio-Kultural: Menggali Jejak Leluhur dan Peradaban Jawa di Gunung Lawu

Minggu, 08/03/2026 - 16:23
Seminar bertajuk "Kembal ke Jatidiri Jawa dengan Menggali Jejak Leluhur" di Gedung Paripurna DPRD Karanganyar, Sabtu (7/3/2026) malam.

Seminar bertajuk "Kembal ke Jatidiri Jawa dengan Menggali Jejak Leluhur" di Gedung Paripurna DPRD Karanganyar, Sabtu (7/3/2026) malam.

Klikwarta.com, Karanganyar – Sebuah narasi besar tentang identitas dan akar budaya mengemuka dalam seminar bertajuk "Kembal ke Jatidiri Jawa dengan Menggali Jejak Leluhur" yang digelar Yayasan Surya Candra Kartika, di Gedung Paripurna DPRD Kabupaten Karanganyar, Sabtu (7/3/2026) malam.

Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pelestarian dan penguatan nilai-nilai ritual tradisi Jawa sebagai warisan budaya luhur yang sarat makna spiritual, sosial, dan estetika.

Seminar yang menghadirkan narasumber seorang peneliti sekaligus penggali budaya Jawa, Bayu Sigit Wibowo ini, menyoroti keterkaitan erat antara sains, sejarah, dan spiritualitas leluhur Jawa. Melalui pendekatan ilmiah berbasis data DNA, peneliti, sejarawan, budayawan dan pegiat budaya berupaya menggali kembali potongan sejarah yang selama ini tersembunyi di balik kabut waktu.

Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa pemahaman mengenai jati diri manusia Jawa tidak lagi hanya bersandar pada mitologi, melainkan diperkuat oleh pembuktian sains.

"Kita belajar bersama agar mengetahui sejatinya secara DNA, secara ilmu pengetahuan, kita itu berasal dari mana saja dan bagian dari ras mana saja," ungkap Tony Hatmoko, Ketua Yayasan Surya Candra Kartika sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan tersebut.

Penelitian ini juga menegaskan keberadaan Pancadatu, yakni lima titik sentral yang menjadi pilar peradaban dan spiritualitas di tanah Jawa, yakni Rembang, Borobudur, Dieng, Prambanan, dan Gunung Lawu. Kelima lokasi itu diyakini memiliki keterkaitan historis dan energi yang mendalam bagi perjalanan panjang masyarakat Jawa dari masa ke masa.

Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan utama adalah rencana besar untuk melakukan rekoneksi dengan Gunung Lawu. Gunung yang diselimuti legenda ini dipandang sebagai titik penting yang ritual-ritual kunonya kini telah memudar, bahkan hilang tanpa jejak.

"PR besar kita adalah kembali menghidupkan ritual-ritual yang dulu dilakukan leluhur kita di Lawu. Selama ini sudah hilang, sudah tidak ada jejaknya lagi," tegas Tony dengan nada optimistis.

Upaya ini bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan sebuah langkah strategis untuk mempererat kembali ikatan budaya. Dengan menggali literasi, manuskrip kuno, serta masukan dari para sesepuh dan komunitas adat, diharapkan ritual seperti Rajek Wesi dan tradisi khas lainnya dapat kembali berdenyut.

Meskipun dasar-dasar literasi dan naskah kuno telah dikantongi, forum ini sepakat bahwa kolaborasi lintas elemen sangat diperlukan. Diskusi di dalam ruangan yang berbasis pada data ilmiah diharapkan segera bertransformasi menjadi aksi nyata di situs-situs bersejarah.

Langkah ini diharapkan mampu membangkitkan kembali "jiwa" dari situs-situs sakral tersebut, sehingga generasi mendatang tidak hanya mengenal leluhurnya melalui teks sejarah, tetapi juga merasakan langsung denyut tradisi yang pernah membawa Nusantara pada kejayaannya. 

"Melalui kegiatan ini diharapkan terbangun pemahaman yang utuh mengenai perjalanan peradaban sejarah dan budaya leluhur Jawa. Sehingga, bisa menjadi sarana untuk belajar sekaligus terbukanya wawasan spiritual dalam kehidupan masyarakat di Jawa," pungkas Tony.

Pewarta : Kacuk Legowo

Berita Terkait