Rasa Sakit Menguatkanku

Minggu, 11/07/2021 - 19:58
Ilustrasi foto : Bavorndej/iStock

Ilustrasi foto : Bavorndej/iStock

Klikwarta.com - Semua orang pasti memiliki ujian dengan porsinya masing-masing. Ujianku datang dari tempat pertama
aku belajar, yaitu keluarga. Aku datang dari keluarga yang tidak utuh. Orang-orang lebih sering menyebutnya brokenhome. Mempunyai latar belakang yang berbeda dengan anak-anak lain cukup sulit aku jalani. Ketika orang tuaku berpisah, aku tidak diberikan pilihan untuk setuju atau tidak. Kami, anak brokenhome, dipaksa terbiasa dengan keputusan yang menyakitkan.

Perpisahan orang tuaku merupakan awal mula kehidupanku yang sesungguhnya. Ujian demi ujian terus berdatangan tanpa mengenal jeda. Setetes, dua tetes, tiga tetes air mata terus berjatuhan dari waktu ke waktu. Terkadang aku ingin bertukar posisi dengan mereka yang lebih beruntung. Bahkan, terkadang sebuah keinginan untuk hilang dari muka bumi terbesit di pikiranku.

Tak hanya harus menerima perpisahan mereka yang tiba-tiba, aku juga dipaksa menerima hadirnya sosok-sosok baru dalam hidupku, orang tua sambung. Lagi-lagi, aku tidak diberikan kesempatan untuk mengutarakan perasaanku terhadap keputusan besar itu. Benar saja, semua tidak berjalan semulus ekspektasi.

Tuhan yang paling tahu berapa kali aku berteriak dan menangis memandang langit, bertanya mengapa hal ini harus terjadi pada keluargaku. Tuhan juga yang paling tahu seberapa malu aku di depan teman- temanku yang memiliki keluarga normal.

Setelah berkali-kali melewati fase paling rendah dalam hidup, aku menyadari bahwa ujianku ini yang membentuk karakterku. Meskipun sangat menyakitkan dan menyedihkan, aku sadar bahwa hal itu yang membuat aku dewasa. Ujian itu yang mendekatkan diriku kepada Tuhan. Ujian itu juga yang membuat aku terus memperbaiki diri agar hal serupa tidak terjadi pada keluarga kecil yang aku bangun.

Telah banyak kasus anak brokenhome yang salah memilih jalan hidup. Aku tidak menganggap itu sepenuhnya salah mereka karena ada alasan kuat di balik perbuatan mereka. Bisa jadi mereka kurang perhatian, kurang didikan, dan kurang kasih sayang.

Meskipun begitu, aku tetap tidak membenarkan perbuatan mereka. Latar belakang seperti ini bisa menjadikan kita lebih kuat dan lebih dewasa daripada yang lainnya. Namun itu semua kembali kepada bagaimana kita menyikapinya. Terkadang rasa sakitlah yang menguatkan kita.

(Ajeng Putri/PNJ)

Tags

Berita Terkait