Proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Sambi, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
MANGGARAI, Klikwarta.com — Aroma janggal menyeruak dari proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Sambi, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek yang menelan anggaran fantastis hingga Rp 1,6 miliar untuk pembangunan gerai ini terpantau minim pengawasan dan mengabaikan pemberdayaan warga lokal.
Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan yang ironis. Dengan anggaran miliaran rupiah, pengerjaan fisik gerai justru dilakukan secara manual tanpa menggunakan mesin pencampur semen (molen). Terlihat hanya ada lima orang pekerja yang sibuk mengaduk campuran semen dan pasir secara manual menggunakan sekop.
Bukan hanya soal metode kerja yang kuno untuk proyek bernilai jumbo, kelima pekerja tersebut ternyata seluruhnya didatangkan dari Pulau Jawa. Proyek ini sama sekali tidak melibatkan masyarakat setempat, sebuah kebijakan yang langsung memicu tanda tanya besar sekaligus kekecewaan dari warga dan pemerintah desa.
-
Kepala Desa Merasa Diabaikan
Kepala Desa Sambi, Basilius Panja, saat dikonfirmasi mengaku sama sekali tidak tahu-menahu mengapa warganya "dianaktirikan" dalam proyek yang berdiri di atas tanah mereka sendiri. Basilius bahkan merasa posisinya sebagai pimpinan wilayah sengaja diabaikan oleh pelaksana proyek.
"Soal tenaga kerja itu katanya ditentukan dari pusat semua, sehingga saya tidak bisa mengintervensi," ujar Basilius dengan nada kecewa kepada wartawan.
Padahal, Basilius berharap proyek KDMP ini bisa menjadi angin segar bagi perekonomian warganya yang sedang lesu melalui penyerapan tenaga kerja lokal. "Saya sangat berharap pelibatan masyarakat lokal dalam proyek ini bisa membantu mendongkrak ekonomi mereka," tambahnya.
-
Dandim Manggarai Kaget dan Janji Tindak Lanjut
Sengkarut proyek di hilir ini tampaknya belum sampai ke telinga petinggi militer di daerah. Komandan Kodim (Dandim) 1612 Manggarai, Letkol Arh Amos Comenius Silaban, S.H., M.H., mengaku kaget saat dikonfirmasi oleh awak media mengenai kondisi di lapangan.
"Terima kasih atas informasinya. Saya baru mendapatkan informasi ini," kata Letkol Amos.
Merespons keluhan warga dan kepala desa, pihak Kodim 1612 Manggarai berjanji akan segera turun tangan guna mengevaluasi pelaksanaan proyek tersebut, terutama terkait tuntutan pelibatan pekerja lokal. "Kami akan tindak lanjuti segera terkait permintaan pelibatan masyarakat lokal dalam proyek KDMP ini," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana proyek maupun otoritas pusat yang disebut-sebut menentukan sepihak tenaga kerja tersebut belum memberikan konfirmasi resmi terkait penggunaan metode manual dan pengabaian tenaga kerja lokal pada proyek senilai Rp 1,6 miliar ini.
Penulis: Kordianus Lado








