Pict by Unsplash
Oleh : Sri Wahyuni Sitorus
Terlihat seorang ibu muda duduk termenung di depan pintu rumah. Sesekali ia juga memandangi dua anaknya yang masih usia balita dan batita. Dari raut wajahnya tidak bisa dipungkiri ada rasa sedih dan kepahitan hidup yang ia alami selama ini. Iya, perempuan dua anak tersebut tengah menunggu kepulangan suami tercinta. Suami nya seorang nelayan yang berlayar di laut lepas di negeri jiran.
Hidup perempuan kelahiran 1983 itu cukup memprihatinkan. Ia tinggal bersama dua anaknya di sebuah kontrakan sempit yang hanya cukup untuk tidur saja. Ia juga sering menahan lapar agar anak-anaknya lebih dulu merasa kenyang. Anak pertama dari ibu muda itu terlihat kurus kurang gizi. Bagaimana tidak? jangankan untuk membeli susu, untuk makan sesuap nasi saja hasil dari pemberian tetangga.
Terhitung sudah hampir setahun suaminya tidak ada kabar. Namun, ia selalu percaya bahwa suaminya pasti pulang dan baik-baik saja. Sementara itu, tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri yang setia sekaligus menjadi ibu tetap ia jalani setiap hari. Ia bekerja banting tulang demi sesuap nasi sebagai kuli cuci. Tak jarang ia juga menjadi pembantu di rumah saudara sendiri.
Tangis ibu dua anak itu pecah, ia tak dapat membendung kesedihan dan kepahitan yang ia alami selama ini sendirian. Di tambah, hari esok adalah hari raya idul fitri, dimana semua orang bersuka cita menyambut hari kemenangan. Ia hanya bisa menerima keadaan, di rumahnya tidak ada sehelai baju baru ataupun sekarung beras untuk di makan. Suami yang ia tunggu juga tidak kunjung pulang.
Terdengar dari kejauhan sayup-sayup suara anak kecil bersahut-sahutan. “Pak Budi pulang.. Pak Budi pulang”. Semakin lama, suara itu semakin mendekat ke arah rumah ibu dua anak itu. Betapa kaget dan histeris ia melihat sosok laki-laki yang ia tunggu selama ini ada di depan matanya. Iya, suami nya benar-benar pulang. Tangis haru penuh syukur tidak dapat dibendung, sambil menggendong dua anaknya ia memeluk suami tercinta.
Rasanya, penantian dan kesabaran ibu muda ini terbayarkan. Betapa senang dan bahagia hatinya saat melihat ayah dari anak-anak tidak menghianati janji setia. Perlu diketahui pula, selama hampir setahun suaminya berjuang di negeri orang, banyak hal yang terjadi sampai akhirnya mereka dapat bersatu kembali. (Sri Wahyuni Sitorus/Politeknik Negeri Jakarta)
Terlihat seorang ibu muda duduk termenung di depan pintu rumah. Sesekali ia juga memandangi dua anaknya yang masih usia balita dan batita. Dari raut wajahnya tidak bisa dipungkiri ada rasa sedih dan kepahitan hidup yang ia alami selama ini. Iya, perempuan dua anak tersebut tengah menunggu kepulangan suami tercinta. Suami nya seorang nelayan yang berlayar di laut lepas di negeri jiran.
Hidup perempuan kelahiran 1983 itu cukup memprihatinkan. Ia tinggal bersama dua anaknya di sebuah kontrakan sempit yang hanya cukup untuk tidur saja. Ia juga sering menahan lapar agar anak-anaknya lebih dulu merasa kenyang. Anak pertama dari ibu muda itu terlihat kurus kurang gizi. Bagaimana tidak? jangankan untuk membeli susu, untuk makan sesuap nasi saja hasil dari pemberian tetangga.
Terhitung sudah hampir setahun suaminya tidak ada kabar. Namun, ia selalu percaya bahwa suaminya pasti pulang dan baik-baik saja. Sementara itu, tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri yang setia sekaligus menjadi ibu tetap ia jalani setiap hari. Ia bekerja banting tulang demi sesuap nasi sebagai kuli cuci. Tak jarang ia juga menjadi pembantu di rumah saudara sendiri.
Tangis ibu dua anak itu pecah, ia tak dapat membendung kesedihan dan kepahitan yang ia alami selama ini sendirian. Di tambah, hari esok adalah hari raya idul fitri, dimana semua orang bersuka cita menyambut hari kemenangan. Ia hanya bisa menerima keadaan, di rumahnya tidak ada sehelai baju baru ataupun sekarung beras untuk di makan. Suami yang ia tunggu juga tidak kunjung pulang.
Terdengar dari kejauhan sayup-sayup suara anak kecil bersahut-sahutan. “Pak Budi pulang.. Pak Budi pulang”. Semakin lama, suara itu semakin mendekat ke arah rumah ibu dua anak itu. Betapa kaget dan histeris ia melihat sosok laki-laki yang ia tunggu selama ini ada di depan matanya. Iya, suami nya benar-benar pulang. Tangis haru penuh syukur tidak dapat dibendung, sambil menggendong dua anaknya ia memeluk suami tercinta.
Rasanya, penantian dan kesabaran ibu muda ini terbayarkan. Betapa senang dan bahagia hatinya saat melihat ayah dari anak-anak tidak menghianati janji setia. Perlu diketahui pula, selama hampir setahun suaminya berjuang di negeri orang, banyak hal yang terjadi sampai akhirnya mereka dapat bersatu kembali.
(Politeknik Negeri Jakarta)








