ilustrasi
(Ilustrasi ibu dan anak. Sumber foto: id.pinterest.com)
Kehadiran seorang ibu menjadi sosok anugerah yang wajib kita syukuri. Seorang wanita yang memberikan suri teladan, mengajarkan banyak hal kepada buah hatinya, memberikan rasa aman, tenang, dan tentram pada siapapun yang ada di dekatnya.
Setiap waktu dan setiap hari doa demi doa selalu beliau panjatkan hanya untuk dapat memberikan kebahagiaan kepada keluarga kecilnya. Kesabaran dan ketulusan yang menjadi sebuah prinsip.
Tanpa ibu, aku tidak akan tahu tulusnya kasih sayang, pusingnya mengatur perselisihan, sulitnya menahan kemarahan, letihnya mengurus pekerjaan rumah, memberikan saran yang bijak untuk anak-anaknya, dan masih banyak hal mulia lainnya.
Mendadak teringat penanganan ibu. Waktu itu, dada terasa nyeri dan membuatku merintih kesakitan. Ibu segera menghampiri ke kamar. Aku melihat raut wajah penuh khawatir. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, beliau langsung mengoleskan minyak urut.
Namun, tidak berapa lama rasa sakit itu kembali lagi. Kali ini, ibu membawa air putih hangat. Air tersebut didoakannya terlebih dahulu. Yang aku dengar saat itu “Gusti, paringano mari nggo anakku”. Jika diterjemahkan artinya “Tuhan, beri kesembuhan untuk anakku”.
Dicipratkan air tersebut ke wajah, lalu gelasnya ditekan di bagian dadaku. Setelah air mulai adem, ibu menyuruhku untuk meminum air tersebut dan segera beistirahat.
Ibu menungguku semalaman tanpa tidur, terus berdoa. Sesekali memijat tangan dan kaki, mengelus rambut, dan juga mencium kening hingga akhirnya aku tertidur pulas di pelukan ibu. Keesokan harinya, aku pun pulih. Wajah berseri kembali hadir.
Aku sangat bersyukur memiliki ibu sebagai dokter pertamaku. Sayangnya, aku terlalu malu dan ragu. Aku ingin ungkapkan segala hal yang mengganjal di hatiku. Ibu, ketahuilah anakmu ingin sekali memeluk erat tubuhmu, ingin mendengar dekat detak jantungmu, ingin sekali mengatakan beribu-ribu ucapan terima kasih, dan betapa ingin sekali menanyakan hal apa yang bisa menebus atas segala pengorbananmu
(Vidiana Lihayati – Politeknik Negeri Jakarta)








