Preman Nyali Krupuk

Sabtu, 03/10/2026 - 13:08
Hery Purnobasuki Guru Besar FST Universitas Airlangga Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga

Hery Purnobasuki Guru Besar FST Universitas Airlangga Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga

Klikwarta.com - Ada pemandangan yang hampir bisa dijamin bakal membuat orang yang lewat gedung perkantoran atau warung kopi menghela napas: preman yang mendadak berubah peran bak aktor sinetron. Di depan, penuh wibawa, menantang, bicara dengan intonasi seolah-olah dunia ini punya satu aturan: aku yang pegang kendali.

Dua langkah ke samping entah karena ditangkap warga yang muak melihat ulahnya atau karena polisi baru saja turun dari sepeda motor dan, voilà, sang preman berubah wujud layaknya krupuk yang disiram kuah panas: meletus lembek, tak berdaya, dan langsung nyari jalan buat minta belas kasihan.

Sikap “garang-pertama, cengeng-kemudian” ini bukan cuma hiburan gratis buat penonton yang kebetulan lewat. Ia juga semacam mikrodrama sosial yang menyoroti banyak hal: kepura-puraan, hukum jalanan, harga diri yang mudah pecah, dan tentu saja kelucuan situasi ketika realitas menghantam ego yang terlalu bengkak.

Mari kita uraikan dulu satu dua hal yang bikin fenomena ini terasa lucu sekaligus tragis. Pertama, pose. Orang yang ingin ditakuti sering mempersenjatai dirinya bukan hanya dengan otot atau pisau, melainkan dengan gesture-gesture khusus: dagu dagang ke atas, napas panjang seperti mau mengumumkan perang, dan nada bicara yang dibuat serendah mungkin supaya tergambar sebagai "orang penting".

Ada seni tersendiri dalam berdandan jadi ancaman, seolah-olah intimidasi itu semacam kostum yang bisa dipakai kapan saja. Hanya saja, seperti kebanyakan kostum yang bagus, ia rapuh di bawah tekanan nyata.
Kedua, audiens.

Preman biasanya butuh audiens. Tampang garang akan terasa kurang kalau tidak ada yang terkesima atau ketakutan. Saat jalan sepi, kadang drama garang jadi monolog yang kurang greget; begitu ada yang berani menegur atau bertindak warga yang muak atau polisi yang tiba tiba muncul naskah pun berubah. Di sinilah letak komedi: sang aktor mendadak lupa dialog lamanya dan mulai improvisasi dengan suara mendadak cempreng, pembenaran setengah sadar, atau tangisan serupa yang tak padamkan rasa bersalah melainkan rasa takut pada konsekuensi.

Perumpamaan “krupuk disiram kuah” pas sekali untuk menggambarkan transisi itu. Sebelum disiram, krupuk adalah lambang kekeringan dan renyah mirip citra preman yang garang: keras, kering, tak kenal kompromi. Setelah disiram, krupuk langsung lembek, tak menarik lagi, dan hilang fungsi dasarnya. Sama halnya, ketika sang preman dihadapkan pada otoritas atau solidaritas warga, semua gertakannya “meleleh”. Gertakan yang semula berdentum seperti drum kenangan mendadak serupa bunyi sendok tentang mangkok: nyaring sebentar, lalu hambar.

Kita bisa juga melihat fenomena ini sebagai cermin ego. Garang di waktu aman bukan berarti punya kekuatan sejati; seringkali itu adalah alat untuk menutup rapat kekosongan: kurang pendidikan, kurang peluang, atau trauma. Intimidasi menjadi bahasa praktis untuk mendapatkan sedikit ruang dan penghormatan yang mungkin tak datang lewat cara lain. Tetapi begitu ada risiko hilang ketika warga atau polisi menunjukkan konsekuensi semua retorika itu runtuh. Ego yang tadinya seperti beton berubah seperti semen yang belum kering: retak dan cair.

Selain itu, ada unsur hiburan publik dalam adegan ini. Ada kepuasan moral yang aneh ketika kita melihat seseorang yang sok kuat akhirnya menunjukkan sisi manusiawinya: takut. Bukan karena kita senang melihat penderitaan, tapi karena ada keadilan naratif yang terpenuhi.

Seperti komik yang mempertemukan tokoh antagonis dengan hero yang perlahan menegakkan tatanan. Tapi jangan salah, kadang kepuasan itu juga bisa menyeret kita pada penilaian mudah: “dia memang penakut, jadi biarkan saja.”

Padahal kerapkali di balik cengeng itu tersimpan masalah struktural yang tidak akan selesai dengan hanya tertawa atau menghakimi.

Lalu bagaimana sebaiknya masyarakat bereaksi ketika menghadapi fenomena ini? Ada beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan tanpa kehilangan rasa realis sekaligus kemanusiaan.

Pertama, tegas tapi proporsional. Ketika preman melakukan kekerasan atau pemerasan, reaksi tegas penting agar tidak ada ruang bagi kekerasan berulang. Tapi tegas bukan berarti kejam; hukum harus berjalan, bukan main hakim sendiri.

Kedua, bangun solidaritas lokal. Banyak tindakan “menangkap preman” yang sukses adalah hasil dari warga yang bersatu, bukan sekadar amukan sementara. Solidaritas membuat lingkungan lebih aman dan mencegah satu-dua orang merasa perlu menjadi preman untuk menegakkan “hukum” versi mereka sendiri.

Ketiga, restoratif bila mungkin. Setelah ada konsekuensi, peluang rehabilitasi atau dialog kadang lebih efektif untuk mencegah pengulangan. Ketika preman yang cengeng itu diberi pilihan: kembalikan barang curian, minta maaf pada korban, ikut program pelatihan, maka ada peluang ia tidak kembali ke pola lama.

Keempat, jangan romantisasi. Ada film-film atau lagu yang kadang mem-glamor-kan preman sebagai sosok heroik. Realitanya, intimidasi merusak komunitas. Kita boleh menghargai cerita-cerita perjuangan, tapi jangan sampai memberi legitimasi pada tindakan salah.

Sekarang, mari kita bawa kembali humor, jika hidup ini terlalu serius, sedikit tawa membuat obat lebih manjur. Bayangkan sebuah adegan: preman sedang berakting garang di depan warung kopi, menuntut jatah parkir, sambil sok saintifik menyebut aturan-aturan semu. Tiba-tiba seorang nenek lewat, menamparnya dengan sendok sayur, dan berkata, "Kamu mau kuah atau sambal?" Sang preman, yang tadi menyerupai pahlawan era kegelapan, kini menatap sendok itu seperti melihat laser. Terlihat jelas: ketangguhan bubar. Itu scene yang lucu karena ia mematahkan ekspektasi.

Tapi jangan lupa, sang nenek itu juga pahlawan ia mempertahankan ruang publik tanpa drama berlebihan, dan itu yang patut ditidurkan di hati.
Kenyataan lainnya: preman yang cengeng kadang jadi bahan meme dan cerita di warung kopi. "Eh, kau ingat si Dargombes? Dulu besar kepala.

Sekarang malah minta-minta ke anak SD." Masyarakat punya cara-cara penanggulangan informal yang ironis namun efektif: pengucilan sosial.

Kata-kata pedas dan ejekan bisa lebih menekan ego kecil itu daripada ancaman fisik. Namun ini juga berbahaya jika berujung pada pembalasan atau memperparah situasi.

Akhirnya, mengolok-olok sikap preman yang jadi cengeng bukan berarti kita meremehkan pentingnya penegakan hukum. Sebaliknya, ini mengajak kita melihat fenomena itu dari banyak sisi: komedi, tragedi, dan peluang perbaikan. Kita bisa tertawa melihat bagaimana krupuk jadi lembek setelah disiram kuah, tetapi lebih baik lagi jika kita mencegah krupuk itu pernah dimaksudkan untuk menggantikan fungsi makanan: dalam komunitas yang sehat, tidak ada ruang bagi mereka yang memilih menakut-nakuti sebagai mata pencaharian.

Jadi, ketika kamu melihat preman yang sedang berpose layaknya poster film laga, ingatlah satu hal sederhana: ketangguhan sejati bukan soal suara serendah kamar mandi yang ditutup, melainkan kemampuan untuk menahan diri, bertanggung jawab, dan hidup tanpa harus menakut-nakuti orang lain. Dan jika mereka benar-benar berubah jadi krupuk lembek setelah disiram kuah ya sudah, biarkan mereka merasakan akibatnya, lalu berikan jalan untuk bangkit tanpa harus kembali menjadi ancaman. Lagipula, hidup terlalu singkat untuk ditonton hanya sebagai drama "sebelum-dan-sesudah" premannya kota; lebih seru kalau kita ubah cerita itu jadi komedi yang berakhir dengan perbaikan bersama. (**) 

Tags

Berita Terkait