Jejak Bekas Hujan di Tengah Keramaian Pasar

Rabu, 05/07/2023 - 20:42
ilustrasi

ilustrasi

Keadaan Pasar Kramat Jati pada pagi hari itu terlihat sibuk, hujan yang mengguyur kota begitu meninggalkan jejak. Aroma petrichor bercampur bau sampah sangat terasa merasuki ruang-ruang kalbu. Pagi itu, aku mengantarkan ibu berbelanja ke pasar tradisional, tempat terbaik untuk merasakan laju kehidupan di kota.

Memanjakan mata dengan pemandangan sayur-mayur hingga buah-buahan, ibu-ibu rumah tangga yang terlihat menjinjing kantong belanja, hingga penjual yang sibuk saling melempar tawar-menawar dengan pembeli.

Saat ini aku telat menginjak kaki di Pasar Kramat Jati. Pasar yang telah berdiri pada tahun 1972. Sebuah pasar tradisional yang terletak di Kramat Jati, Jakarta Timur. Pasar yang juga termasuk terbesar dan terkenal di Jakarta Timur. Pasar ini memang jauh dari rumah ku, mau bagaimana lagi, pasar inilah yang paling lengkap dibandingkan yang lain.

Sejak berdirinya, pasar ini merupakan pasar yang penting bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Di tengah maraknya pembangunan pusat perbelanjaan serta pasar swalayan, Pasar Kramat Jati masih tetap berdiri kokoh hingga sekarang. Pemandangan yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan

“Mbah, ayam ini seekor berapa, ya?” lamunanku tiba-tiba buyar berkat suara ibu. Ibu dan Mbah pun tetap melanjutkan tawar-menawar disampingku. Agar tidak suntuk, aku menyibukkan diri dengan melihat sekeliling sambil mencari sayuran yang aku cari untuk makan siang nanti.

Pasar ini tersedia berbagai macam kebutuhan untuk sehari-hari. Pasar bagian luar biasanya menyediakan berbagai macam daging, sayuran, buah-buahan, dan rempah-rempah. Lalu bagian dalam, tersedia perhiasan, tekstil, alat memasak, dan sebagainya. Pasar Induk Kramat Jati juga merupakan tempat yang strategis bagi para pedagang sayur untuk berbelanja sayuran dengan harga murah dan terjangkau.

Aku berjalan pelan-pelan di antara berbagai penjual yang sibuk menawarkan dagangan mereka. Suara puluhan orang berbicara dan transaksi yang terjadi di sekeliling membuat suasana semakin ramai dan berisik.

Tiba-tiba, tanpa sadar, pikiranku pun mulai melayang jauh dari keramaian tersebut. Aku membiarkan imajinasi mengambil kendali dan membawa ku ke dunia yang berbeda. Di tengah kegaduhan pasar, akupun mulai melamun.

Dalam lamunan ku, keadaan pasar berubah menjadi tempat yang tenang dan damai. Kerumunan orang digantikan oleh heningnya alam dan suara gemericik air hujan yang jatuh dari atap.

Saat melamun, saku merenungkan tentang kehidupan dan keberadaan diri ku di tengah kesibukan yang seringkali menekan. Aku memikirkan impian-impian yang ingin aku capai dan perjalanan hidup yang telah aku lalui. Melalui melamun di pasar ini, aku pun mencari inspirasi dan ketenangan dalam diri yang mungkin tersembunyi di tengah kehidupan yang sibuk.

Namun, lamunan ku tidak berlangsung lama. “Kak, ayo!” seru ibu terlihat sambil membawa kantong belanja yang telah banyak sekali. Suara ibu memecah keheningan dan membawa ku kembali ke kenyataan. Aku pun segera membantu membawakan untuk meringankan bebannya. Ibu pun menawarkan kepada ku untuk sarapan soto ayam disana, aku pun lantas mengiyakan karena soto disana memang enak dan sesuai seleraku.

Kami berjalan bersama dan memasuki ke dalam pasar dan melewati kios-kios yang dipenuhi dengan berbagai jenis dagangan. Aroma harum soto ayam telah merasuki ke hidung kami. Kami duduk di meja, memesan dua porsi soto ayam hangat. Kami menikmati setiap suapan soto yang gurih, dengan irisan daging ayam yang lembut. Terjadilah percakapan ringan antara si anak pertama dengan ibunya sambil menikmati hidangan lezat di tengah keramaian pasar.

Saat aku dan ibu menyelesaikan makanan, terlihat keadaan pasar semakin ramai dan banyaknya pembeli. Aku pun tersenyum, merasa senang karena dapat berbagi momen bersama ibu meskipun hanya di pasar. Dengan perut kenyang dan hati bahagia, kami pun berjalan keluar dari pasar sambil membawa kantong belanja yang berisi berbagai kebutuhan kami.

Penulis: Narissa Nurulita Pamuji

Berita Terkait