Misteri Jenazah Tak Utuh di Kawasan Wisata Grojogan Sewu Tawangmangu Terungkap, Tim Forensik: "Bukan Korban Mutilasi"

Selasa, 14/03/2023 - 02:06
Kapolres Karanganyar, AKBP Jerrold Hendra Yosef Kumontoy, menunjukkan foto Satiyem (81), saat menggelar konferensi pers di Mapolres Karanganyar, Senin (13/3/2023) sore.

Kapolres Karanganyar, AKBP Jerrold Hendra Yosef Kumontoy, menunjukkan foto Satiyem (81), saat menggelar konferensi pers di Mapolres Karanganyar, Senin (13/3/2023) sore.

Klikwarta.com, Karanganyar - Misteri identitas jenazah tak utuh bahkan sebagian besar telah membusuk yang ditemukan di aliran sungai kawasan Taman Wisata Alam Grojogan Sewu Tawangmangu beberapa waktu lalu, kini telah terungkap.

Jenazah itu, adalah jasad seorang nenek, Satiyem (81), warga Blumbang, Tawangmangu, Karanganyar, yang juga dikabarkan hilang beberapa hari sebelum munculnya penemuan potongan kaki dan mayat di lokasi wisata tersebut.

Identitas korban sepenuhnya terkuak setelah dua pekan polisi melakukan penyelidikan secara intensif. Bukti bahwa jenazah tersebut adalah jasad Satiyem diperkuat dengan hasil identifikasi jenazah oleh tim kedokteran forensik Rumah Sakit Dr Moewardi Surakarta dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah.

Dalam konferensi di Mapolres Karanganyar, Senin (13/3/2023) sore, Spesialis Forensik Rumah Sakit Dr Moewardi Surakarta, dr. Herratri Wikan Nur Agustin menjelaskan, dari kondisi jenazah saat dilakukan autopsi, korban telah meninggal dua hingga tiga hari sebelum ditemukan.

“Berdasar hasil autopsi yang kami lakukan, tidak ditemukan luka sebelum kematian korban. Mengenai potongan kaki dari ujung jari hingga pangkal paha yang terpisah dari bagian tubuhnya, lebih disebabkan karena terjadinya lilitan oleh suatu benda dan tertarik tekanan yang kuat, hingga kaki itu terputus," ungkapnya. 

Dr. Herratri menambahkan, dari pemeriksaan luka pada bagian tubuh jenazah yang terpisah itu, pihaknya menyimpulkan bahwa Satiyem bukan merupakan korban mutilasi.

"Bukan korban mutilasi. Karena apabila luka bekas mutilasi, bagian tubuh korban yang terpotong atau putus lebih cenderung rapi. Sedangkan, saat bagian kaki jenazah ditemukan di lokasi, bekas lukanya tidak rapi. Begitu juga dengan hilangnya organ korban bagian dalam, adalah terjadi setelah korban meninggal," terangnya.

Baca: Temuan Potongan Kaki Kanan Manusia Gegerkan Pengunjung Obyek Wisata Grojogan Sewu Tawangmangu

Pada kesempatan yang sama, Kasubbid Kimbiofor Puslabfor Polda Jawa Tengah, AKBP Arif Budiarto, mengatakan hasil tes DNA melalui pengambilan sampel darah milik Satinem atau saudara perempuan korban, menunjukkan hasil identik dengan golongan darah korban, Satiyem.

“Dari hasil identifikasi sampel darah milik saudara perempuan korban tersebut, bahwa DNA keduanya identik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jenazah korban adalah jasad Satiyem,” papar Arif.

Baca: Setelah Potongan Kaki, Jasad Manusia Ditemukan di Aliran Sungai Air Terjun Grojogan Sewu Tawangmangu

Sementara itu, Kapolres Karanganayar, AKBP Jerrold Hendra Yosef Kumontoy, memaparkan hasil penyelidikan yang telah dilakukan polisi terkait pengungkapan identitas juga penyebab kematian korban.

Dia ikut menegaskan, bahwa jenazah Satiyem bukan merupakan korban pembunuhan atau pun mutilasi, melainkan karena sebuah insiden kecelakaan murni.

"Dari hasil penyelidikan yang kami lakukan, bahwa korban diketahui belum berumah tangga dan juga tidak memiliki anak. Dia tinggal di rumah salah satu saudara juga keponakannya di Desa Blumbang, Tawangmangu, yang selama ini mengurusnya," ungkapnya. 

Sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia, lanjut Jerrold, korban bermaksud ingin berkunjung ke rumah saudaranya yang lain. Rumah saudara yang hendak dikunjungi Satiyem itu kurang lebih berjarak empat kilometer dari Desa Blumbang. 

"Secara fisik korban memang masih kuat, namun korban sudah pelupa atau pikun karena faktor usia. Saat menuju ke rumah saudaranya itulah, Satiyem melewati salah satu anak sungai yang dilalui aliran air terjun Grojogan Sewu. Dari anak sungai, rumah saudara korban tersebut tinggal berjarak 100 meter," tambahnya.

Lebih lanjut, AKBP Jerrold Hendra Yosef Kumontoy  menyampaikan, derasnya aliran sungai diduga menyeret tubuh Satiyem sehingga hanyut juga terhantam ke bebatuan tajam dan material keras lainnya di lokasi yang juga dekat dengan air terjun berketinggian sekira 81 meter.

"Melalui pengembangan penyelidikan dan olah TKP. Selain batuan tajam, kami juga menemukan sampah-sampah kayu dan anyaman besi yang sisi-sisi permukaannya juga terbilang runcing dan cukup tajam. Jadi sangat memungkinkan jika benda-benda tersebut menyebabkan tubuh korban tercabik dan hancur, seperti kondisi saat jenazah korban ditemukan" tandasnya.

Dengan telah terungkapnya identitas beserta hasil pemeriksaan tim forensik terhadap jenazah korban tersebut, Kapolres Karanganyar menyatakan bahwa kasus ini telah selesai dan resmi ditutup.

"Hasil identifikasi forensik, termasuk pemeriksaan DNA telah menunjukkan bahwa hasilnya identik, jenazah korban adalah jasad Satiyem. Dengan demikian, maka secara resmi Polres Karanganyar menyatakan kasus ini telah ditutup  Surat Perintah Penghentian Penyidikan atau SP3 juga telah kami serahkan kepada pihak keluarga. Korban juga telah dimakamkan," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, jasad manusia tanpa busana telah menjadi jenazah dengan kondisi hancur dan sebagian besar membusuk  ditemukan di aliran sungai air terjun kawasan Taman Wisata Alam Grojogan Sewu, Tawangmangu, Jumat (24/2/2023). 

Sehari sebelum penemuan jenazah tersebut, Kamis (24/2/2023), potongan kaki kanan terlebih dahulu ditemukan oleh pengunjung obyek wisata itu juga, saat ia hendak berswafoto.

(Pewarta : Kacuk Legowo)

Berita Terkait