Anggota Komisi E DPRD Jatim Cahyo Harjo Prakoso saat sidak salah satu MBG di SDN di Surabaya
klikwarta.com, Jawa Timur - Program Makan Bergizi Gratis yang baru jalan beberapa bulan langsung "tamparan" di Jatim. Ratusan siswa dan santri di Sidoarjo keracunan setelah makan menu MBG pada Kamis (3/9/2026).
DPRD Jatim langsung bereaksi. Komisi E menyebut ini bukan sekadar kasus, tapi sinyal kuat lemahnya pengawasan di lapangan.
Korban tercatat *566 orang* hingga Rabu (2/9/2026) siang. Mereka berasal dari santri Pondok Pesantren Manba'ul Hikam dan siswa di 19 lembaga pendidikan se-Kecamatan Tanggulangin.
Gejalanya sama: mual, muntah, pusing. Menu yang dimakan: nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu bali, tumis buncis, dan buah apel. Semua dipasok SPPG Kalitengah.
Anggota Komisi E DPRD Jatim, Cahyo Harjo Prakoso, menyebut kejadian ini tamparan keras.
"Efektivitas program yang baik ini tentu menjadi perhatian dan atensi dari kami untuk terus meningkatkan pengawasan, monitoring, maupun evaluasi," ujarnya usai Paripurna di Gedung DPRD Jatim, Rabu (2/9/2026).
Cahyo menyinyalir SPPG Kalitengah tidak jalan sesuai SOP Badan Gizi Nasional.
"Sejatinya, ketika kita berbicara SOP yang sudah ditetapkan BGN, itu betul-betul melahirkan produk yang tidak hanya bergizi, tetapi berkualitas dan baik rasanya. Ketika ada kejadian seperti ini, pasti ada salah satu SOP yang tidak dilakukan oleh pihak SPPG," tegas legislator Gerindra Dapil Surabaya itu.
Baginya, MBG adalah amanah konstitusi dari Presiden Prabowo Subianto. Programnya bagus. Tapi di hilir, pengawasan keteteran.
Untuk mencegah hal serupa, Komisi E mendorong evaluasi menyeluruh. Bukan hanya SPPG Kalitengah, tapi seluruh SPPG di Jatim. Evaluasi itu mulai pemilihan bahan baku, kebersihan dapur, cara masak, sampai rantai distribusi ke sekolah.
"Kami berharap kejadian ini bisa menjadi pengingat bagi seluruh pihak pelaksana SPPG di Jawa Timur untuk terus menjaga standarisasi SOP. Bukan hanya pada produk akhirnya, melainkan juga pada seluruh pelaksanaan proses menuju produk tersebut," pungkas Cahyo.
Di tengah keprihatinan, DPRD juga memberi apresiasi. Penanganan 566 korban disebut cepat dan terkoordinasi.
Cahyo berterima kasih ke Pemkab Sidoarjo, Forkopimda, tim medis RS, dan pengasuh ponpes yang sigap merujuk korban ke layanan kesehatan.
"Insiden ini harus jadi pelajaran. Jangan sampai niat baik memberi gizi anak justru mencelakai mereka karena prosedur diabaikan," tutupnya.








