Ketua Forkompeta Jatim Kecam Tudingan Gus Kikin Tak Bisa Ngaji

Kamis, 03/09/2026 - 00:54
Ketua Forkompeta Jatim, Syaifudin

Ketua Forkompeta Jatim, Syaifudin

Klikwarta.com, Surabaya - Tudingan miring yang sempat dialamatkan kepada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih periode 2026–2031, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, terus memantik respons dari berbagai kalangan Nahdliyin. 

Kali ini, Syaifudin, seorang warga NU yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Komunitas dan Pemerhati Tambang  (Forkompeta) Jawa Timur, turut angkat bicara.

Syaifudin menilai tudingan yang menyebut Gus Kikin tidak bisa mengaji atau tidak mumpuni membaca kitab kuning sebagai pernyataan yang absurd, tidak berdasar, dan sekadar bisingan politik menjelang Muktamar ke-35 NU kemarin.

"Tudingan itu sangat tidak masuk akal. Gus Kikin adalah cicit dari pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, dan merupakan pengasuh utama Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Menuduh pengasuh Tebuireng tidak bisa ngaji itu sama saja dengan meragukan kredibilitas pesantren yang menjadi pilar sejarah keilmuan NU," tegas Syaifudin kepada media, Rabu (2/9/2026).

Menurut Syaifudin, rekam jejak Gus Kikin yang tenang dan bijaksana justru menunjukkan kelasnya sebagai ulama sekaligus pemimpin yang matang. 

Respons santai Gus Kikin yang hanya meminta pembuktian ketimbang meladeni debat kusir dinilai Syaifudin sebagai teladan kepemimpinan yang berwibawa.

Lebih lanjut, Syaifudin mengaitkan kapabilitas kepemimpinan Gus Kikin dengan tantangan NU ke depan, termasuk mengenai pengelolaan konsesi tambang yang kini diamanatkan kepada organisasi keumatan tersebut. 

Pemilihan Gus Kikin sebagai nakhoda baru PBNU dianggap sangat tepat karena ia mengombinasikan latar belakang keilmuan pesantren yang kuat dengan pengalaman profesional yang luas di sektor industri strategis, termasuk minyak dan gas bumi (migas).

"Gus Kikin tidak hanya mumpuni secara spiritual dan keilmuan turost, tetapi beliau juga seorang profesional yang paham tata kelola industri energi dan migas. Ini adalah modal besar bagi PBNU agar bisa mengelola amanat tambang secara transparan, profesional, dan berorientasi penuh pada kemaslahatan warga Nahdliyin di bawah," tambah Syaifudin.

Di akhir pernyataannya, Syaifudin mengajak seluruh warga NU untuk menyudahi segala polemik dan dinamika yang terjadi selama proses Muktamar. 

Ia meminta seluruh elemen organisasi bersatu mendukung kepemimpinan Gus Kikin dalam merevitalisasi Qanun Asasi NU serta membawa kemandirian ekonomi bagi umat. (*)

(Kontributor : Arif)

Berita Terkait