Jerat Krisis di Tenda Darurat, Pasien Gempa Ruteng Kehabisan Obat Antinyeri dan Selimu

Rabu, 19/08/2026 - 21:50
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Ben Mboy terpaksa memindahkan puluhan pasien ke tenda darurat lantaran bangunan utama rumah sakit, khususnya di lantai dua dan tiga, mengalami kerusakan signifikan dan terancam ambruk

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Ben Mboy terpaksa memindahkan puluhan pasien ke tenda darurat lantaran bangunan utama rumah sakit, khususnya di lantai dua dan tiga, mengalami kerusakan signifikan dan terancam ambruk

Klikwarta.com, Ruteng - Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Ruteng berdampak parah pada infrastruktur kesehatan setempat. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Ben Mboy terpaksa memindahkan puluhan pasien ke tenda darurat lantaran bangunan utama rumah sakit, khususnya di lantai dua dan tiga, mengalami kerusakan signifikan dan terancam ambruk.

Humas RSUD dr. Ben Mboy Ruteng, Yohana RD Mari, mengungkapkan kerusakan terparah terlihat pada akses struktur bangunan atas. "Kalau dicek di lantai satu mungkin terkesan tidak terlalu berdampak. Tapi dinding, tangga, serta akses ke lantai dua dan tiga sudah goyang dan retak. Di lantai dua dan tiga bahkan ada bangunan yang ambruk. Sangat riskan menempatkan pasien di ruangan yang sudah rapuh," ujar Yohana saat ditemui pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Hingga Rabu pagi, tercatat ada 35 pasien yang terpaksa dirawat di tenda darurat. Mereka meliputi pasien korban gempa, pasien dengan klasifikasi Trias IGD, serta pasien ruang bedah (Dahlia) dan penyakit dalam. Sementara itu, untuk pasien perawatan intensif (ICU), bayi (NICU), pasca-operasi, dan ibu bersalin, pihak RS mengondisikan mereka di gedung lama berlantai satu yang aman dari dampak gempa.

Meski berada dalam situasi darurat dan serba terbatas, Yohana memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan normal. Menurutnya, pihak rumah sakit tidak mungkin memulangkan pasien dengan kondisi yang tidak stabil.

"Visite dokter spesialis, tindakan operasi, cuci darah, hingga koordinasi poliklinik tetap berjalan. Bahkan, alat rontgen kami pindahkan ke tenda agar pasien tetap bisa mengaksesnya secara langsung," tutur Yohana.

Lebih lanjut, Yohana menceritakan kepanikan luar biasa yang terjadi saat gempa berkekuatan 7,7 SR itu mengguncang. Saat guncangan terjadi, para tenaga kesehatan berjibaku mengevakuasi pasien dari lantai perawatan menuju tiga titik kumpul yang telah ditetapkan, yakni di belakang ruang HD, belakang ruang VIP, dan depan Poliklinik. Sayangnya, situasi panik tak terhindarkan. Seorang petugas medis bahkan mengalami patah tulang tangan akibat terjatuh saat berusaha keras menyelamatkan pasien keluar dari gedung.

Pascagempa, RSUD dr. Ben Mboy terus menerima pasien rujukan dari sejumlah fasilitas kesehatan, seperti Puskesmas Reo, Sampek, Wae Ri'i, Mano, dan Pagal. Total pasien rujukan hingga hari ini mencapai 28 orang. Namun, keterbatasan fasilitas darurat membawa duka; pada Rabu sore, seorang bayi rujukan yang baru lahir dengan berat badan 700 gram meninggal dunia sesampainya di tenda darurat (Dead on Arrival).

Dalam penanganan medis lanjutan, pihak RS tetap melakukan operasi sesar (SC) darurat sejak hari pertama gempa. Memasuki hari kedua dan ketiga, dengan datangnya bantuan dokter spesialis ortopedi, tindakan operasi tulang bagi para korban reruntuhan mulai dilakukan. Sebagian tindakan operasi kini dipusatkan di Rumah Sakit Lapangan yang didirikan di Stadion Golodukal.

Kini, tantangan terbesar bagi tenaga medis dan pasien adalah cuaca dingin dan menipisnya stok medis. Yohana menegaskan bahwa rumah sakit membutuhkan bantuan segera.

"Kondisi sangat tidak kondusif di tenda. Kami sangat membutuhkan selimut untuk pasien dan kursi, karena untuk sekadar duduk berjaga bagi perawat dan keluarga pasien saja tidak ada. Selain itu, kami butuh alat kesehatan dasar dan obat antinyeri, karena mayoritas pasien rujukan datang dengan kondisi patah tulang akibat tertindih reruntuhan," pungkasnya.

Penulis : Kordianus Lado

Berita Terkait