Hadiah dari Kesabaran

Minggu, 11/07/2021 - 12:57
Pict by Unsplash

Pict by Unsplash

Oleh : Sri Wahyuni Sitorus

Masa SMA ku penuh perjuangan. Aku tumbuh dan besar di keluarga perantauan. Ayahku merupakan seorang nelayan, yang pulangnya bisa berbulan-bulan. Tidak dapat kabar dari ayah sudah menjadi hal yang biasa. Di rumah, aku tinggal bersama ibu dan tiga adik kecil ku. Susah senang dirumah hanya aku dan ibu yang tahu.

Awal SMA semua baik-baik saja. Namun tidak di semester satu kelas 2. Adik pertamaku kecelakaan. Ia kelahiran 2001, hanya berbeda setahun lebih muda dariku. Ia masuk rumah sakit dan keadaannya koma. Terhitung sudah tiga hari ibu menginap di rumah sakit, sedangkan aku dan dua adik kecilku harus tetap dirumah. Sesekali aku datang menjenguk, sekaligus bergantian dengan ibu.

Di rumah sakit, aku tetap rajin belajar. Belajar merupakan sebuah kewajiban dan tidak punya alasan untuk tidak dilakukan. Hampir semua perawat dan dokter tahu bahwa aku pernah ada di lorong rumah sakit lengkap dengan buku dan alat tulis lainnya. Oh ya, saat itu ibu langsung mengabari ayah lewat satelit kapal. Mungkin ibu tidak sanggup menghadapi cobaan kali ini sendirian. Terhitung setengah bulan, adik sembuh dan kembali ke rumah. Dunia ku rasanya seperti normal lagi.

Pertengahan tahun 2019, saat aku kelas 3 SMA, aku jatuh sakit. Aku mengidap penyakit limfadenitis tuberculosis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis (MTB). Semakin hari ketiak sebelah kiri makin membengkak, namun itu tidak menjadi alasan untukku berhenti belajar baik di sekolah maupun mengerjakan tugas di rumah. Lalu, ku putuskan untuk menjalani operasi menurut saran dari dokter bedah. Walaupun aku tahu, penyakit yang aku alami tidak bisa langsung sembuh meski melakukan tindakan tersebut. Lalu operasi pun berjalan lancar dan masih ada rawat jalan sembilan bulan yang harus dijalani.

Semangatku dalam belajar masih sama, aku harus terus menggapai cita-cita. Aku juga harus masuk perguruan tinggi negeri agar tidak membebani orang tua. Tiap tiga kali dalam seminggu, aku harus membagi waktu untuk ke rumah sakit bertemu dokter paru dan ambil obat, lalu lanjut berangkat ke sekolah. Tak jarang aku ketinggalan pelajaran. Meski hari-hari yang aku jalani saat itu berat, aku tidak menyerah. Aku selalu mengejar ketertinggalan dan mempersiapkan ujian untuk masuk perguruan.

Aku juga pernah gagal. Aku gagal lolos jalur undangan SNMPTN. Di saat yang bersamaan ibu bilang “Kalau mau kuliah, kau harus berusaha sendiri, lagipula ibu dan ayah belum punya dana”. Rasanya diriku pilu, tanpa sadar air mata jatuh membasahi. Tapi, aku tidak menyerah begitu saja. Aku harus kuliah, aku harus jadi contoh untuk adik-adikku. Aku mencoba ikut berbagai jalur undangan termasuk undangan di Politeknik Negeri Jakarta.

Setelah sebulan menunggu dengan penuh harapan dan doa-doa, namaku akhirnya tercantum sebagai mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, di jurusan Teknik Grafika Penerbitan. Tidak lupa aku sujud syukur dan langsung mengabari Ayah yang masih di tengah laut. Ibu dan ayah sangat senang atas perjuangan ku selama ini tanpa merepotkan mereka sama sekali.

(Politeknik Negeri Jakarta)

Tags

Berita Terkait