ilustrasi
Sosoknya yang kuat membuatnya tak kenal apa arti lelah. Pagi dan malam, apa pun ia lakukan walau harus mengeluarkan banyak tenaga dan pikiran. Demi sesuap nasi, ia korbankan seluruh jiwa dan raga untuk membahagiakan keluarga kecilnya. Figur yang memiliki pendirian kokoh dan tak tergoyahkan. Ayah, lelaki terhebat yang memainkan peran dalam kehidupan.
Untuk banyak orang, Ayah adalah seseorang yang terus mengajarkan kita agar lebih hebat dan bijaksana, terutama bagi anak-anaknya. Setahun lebih Covid-19 belum juga usai, begitu banyak hal yang diberikan Ayah untukku. Ia menjadi pahlawan dimana kehidupan harus menyesuaikan dengan situasi sekarang. Tak mau merasa kekurangan dalam segala hal, ia bekerja keras demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Aku terlahir sebagai anak perempuan pertama di keluarga. Terbilang cukup dekat dengan sosok Ayah, ia yang diharuskan untuk tidak bekerja dari rumah (WFH), membuatku khawatir dengan keselamatannya. Ya, ayahku memang sering ditugaskan untuk bekerja di luar kota. Biasanya, ia menetap lama disana dan pulang hanya sebulan sekali atau saat hari raya. Itulah mengapa aku terus merindukannya dan membuatku selalu ingin dekat dengan Ayah.
Ada satu hari dimana angka virus terus meningkat. Perasaan gelisah mengguyur tubuhku sebab Ayah yang kebetulan berangkat ke Kalimantan pada esok paginya. Sempat bilang kepada Ayah untuk tidak nekat berangkat, namun mengingat kewajibannya yang harus bekerja. Dengan sigap aku memberi “alat perang” seperti membawakan vitamin, masker, dan _handsanitizer._ Sebelumnya Ayah sudah melakukan _swab antigen,_ dikarenakan Ayah berangkat menggunakan pesawat dan syaratnya harus menunjukkan surat hasil tes tersebut. Bersyukurnya, Ayah dinyatakan negatif dari virus mematikan itu.
Tidak hentinya aku mengirim pesan untuk Ayah agar selalu waspada dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Pekerjaan Ayah yang tidak selalu di dalam ruangan dan harus bertemu dengan banyak orang. Rasanya ingin aku menemaninya bekerja bahkan membantu Ayah. Namun, aku pun juga punya kewajiban yaitu kuliah. “Tetap kuliah, nak. Itu saja sudah membuat Ayah bangga”, itulah perkataan Ayah yang selalu kuingat. Aku tidak ingin mengecewakan Ayah, seperti Ayah yang tidak pernah mengecewakanku.
Disaat aku dan Ayah berjauhan, setiap malam kami selalu melakukan panggilan video untuk mengurangi rasa rindu. Kami bertukar cerita tentang kegiatan sehari-hari. Dikala aku tidak kuat karena terus-menerus berkabar melalui virtual dengan Ayah, aku suka menangis setelah panggilan telepon selesai. Entah, setiap harinya aku cemas tentang keberadaan Ayah. Apalagi dengan kondisi saat ini, aku harus memantau kesehatan Ayah bahkan keluarga di rumah dan diriku sendiri.
Ternyata berat rasanya ketika harus berjarak dengan Ayah. Kepulangan Ayah menjadi hal yang paling aku tunggu. Biasanya, aku menunggu depan pintu dan langsung merentangkan tangan bersiap untuk memeluk Ayah. Jika Ayah sudah mulai bekerja ke luar kota, aku suka membuat daftar kegiatan yang akan dilakukan bersama Ayah jika sudah pulang. Mulai dari olahraga bersama, menonton _film_ , sampai menggambar yang menjadi hobi dari aku dan Ayah.
Semakin bertumbuh dewasa, aku sadar perjuangan Ayah untuk menghidupi keluarga tidak main-main. “Nak, Ayah bekerja untuk menghidupi kamu dan keluarga. Doakan Ayah agar bisa membuatmu terus senang”, ucapan yang membuat mataku semakin terbuka. Sebagai anak, aku harus benar-benar berubah menjadi manusia yang mandiri. Aku harus bisa membuat bangga Ayah dengan pencapaian yang aku raih. Karena Ayah, aku bisa berada disini. Karena Ayah, aku bisa merasakan kasih sayang yang abadi.
*(Nadhifa Putri Nauramiyanti/Politeknik Negeri Jakarta)*








