(Ilustrasi alat cukur Sumber : Pinterest)
Penulis : Rofifah Hanna Luthfiah
Pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia sejak Maret 2020 telah memukul kehidupan sosial masyarakat. Kisah-kisah pilu pun bermunculan, mulai dari banyaknya karyawan yang di PHK hingga kondisi masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan kesehariannya bahkan sampai mengalami kelaparan. Virus corona memang sejahat itu, dari mulai membuat seseorang kehilangan pekerjaan dan bahkan hingga merenggut banyak nyawa.
Virus ini dapat menyebar hanya dengan berdekatan. Lalu bagaimana dengan nasib tukang cukur? Di masa pandemi ini para tukang cukur mencari cara untuk tetap bertahan hidup. Bahkan banyak dari mereka yang beralih berganti profesi. Keharusan untuk selalu menjaga jarak ini telah menyulitkan usahanya. Bagaimana tidak, profesi ini memerlukan kontak langsung dengan pelanggannya.
Setiap hari seorang laki-laki duduk di depan teras rumahnya untuk menunggu pelanggannya. Dengan segelas kopi panasnya ia duduk di teras sambil mempromosikan jasanya di media sosial. Ya, ia adalah Arif. Salah satu warga yang ikut terdampak di tengah pandemi Covid-19 yang kini tengah melanda Indonesia. Arif adalah seorang yang berprofesi sebagai tukang cukur di dalam gang kecil di daerah Depok, Jawa Barat. Arif membuka jasa cukurnya di teras depan rumahnya. Ia hidup bersama kakak perempuan dan keponakannya.
Biasanya setiap hari ada saja pelanggan yang mengantre untuk dicukur. Tapi apa daya terkadang pelanggan tak menentu membuatnya termenung sambil berharap kepada Tuhan agar jasanya laku. Alhasil penghasilannya selalu berkurang. Tak hanya itu, ketakutannya pada virus ini juga membuatnya sempat mengurungkan niat untuk membuka jasanya. Tapi mau bagaimana lagi? Jika ia menutup jasanya maka penghasilannya sangat menurun drastis atau bahkan tidak mempunyai pemasukan sama sekali.
Bila biasanya ada banyak pelanggan, kali ini hanya satu atau dua pelanggan yang memakai jasanya pasca-kebijakan social distancing. Selain itu juga masyarakat diimbau untuk tidak keluar rumah demi memutus rantai penularan Covid-19. Pelanggan menjadi sepi imbas dari kebijakan pembatasan sosial guna pencegahan penyebaran virus Covid-19.
Untuk mengakali penghasilannya yang berkurang, ia biasanya beralih profesi sebagai pengasah pisau cukur. Bersyukurnya ia ketika mempunyai keahlian lain selain menjadi tukang cukur. Sejak membuka jasa asah pisau cukurnya itu, banyak pelanggan yang datang untuk mengasah pisau cukur. Selain itu juga adanya kiriman paket yang berdatangan dari berbagai daerah yang berisikan pisau atau gunting cukur yang mau diperbaiki.
“Ya banyak-banyak bersyukur aja masih dikasih rezeki, semoga pandemi cepet selesai biar normal lagi. Kalo pendapatan sih udah pasti menurun, tapi mau gimana lagi” ungkap Arif.
Entah sampai kapan Arif harus hidup dalam kondisi seperti ini. Namun, ia sangat bersyukur setiap kali ada pelanggan yang memakai jasanya. Walau itu hanya satu atau dua orang saja. Sudah terlalu banyak orang yang menderita akibat pandemi Covid-19. Maka dari itu, mari kita sama-sama mulai biasakan diri untuk selalu mematuhi protokol kesehatan.
(Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)








