Menjaga Asa di Tengah Kepungan Karhutla

Sabtu, 24/10/2026 - 18:59
Hery Purnobasuki

Hery Purnobasuki

Oleh: Hery Purnobasuki (Guru Besar FST Universitas Airlangga/Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga)

Pagi belum benar-benar terang ketika langit sudah tampak kusam. Matahari seperti enggan muncul, tertahan kabut asap yang menggantung rendah di atas permukiman. Udara terasa berat. Tenggorokan gatal. Mata perih. Anak-anak yang biasanya berlari di halaman kini lebih sering berada di dalam rumah. Sekolah mungkin diliburkan, pasar menjadi sepi, sementara para petani dan pekerja harian harus menghitung ulang risiko keluar rumah.

Di tengah suasana seperti itu, menjaga asa bukan perkara mudah. Harapan sering kali terdengar seperti kata yang terlalu ringan untuk menghadapi persoalan seberat kebakaran hutan dan lahan. Namun, justru di tengah kepungan asap, asa menjadi sesuatu yang paling penting untuk dipelihara. Bukan asa yang naif, bukan pula optimisme kosong, melainkan keyakinan bahwa keadaan masih bisa diperbaiki jika kita mau bergerak bersama.

Karhutla bukan sekadar pemandangan api yang membakar semak atau pepohonan. Ia adalah bencana yang membawa dampak ekologis, ekonomi, sosial, bahkan politik. Kebakaran hutan dan lahan dapat dipicu faktor alam maupun ulah manusia, tetapi dampaknya sama-sama meluas: ekosistem rusak, satwa kehilangan habitat, kualitas udara memburuk, aktivitas ekonomi terganggu, dan kesehatan masyarakat terancam.

Yang paling menyedihkan, karhutla sering datang sebagai bencana yang berulang. Kita seolah hidup dalam siklus yang sama: musim kemarau tiba, titik panas bermunculan, asap menyebar, warga mengeluh, petugas bekerja keras, pejabat memberi pernyataan, lalu semuanya perlahan mereda. Ketika hujan turun dan langit kembali biru, perhatian publik pun ikut surut. Sampai musim berikutnya datang dan masalah yang sama kembali mengetuk pintu.

Siklus semacam ini seharusnya tidak kita terima sebagai sesuatu yang biasa. Bencana boleh berulang, tetapi respons kita tidak boleh tetap sama. Kalau setiap tahun masyarakat hanya diminta bersabar, memakai masker, mengurangi aktivitas di luar rumah, dan menunggu hujan, berarti kita sedang mengobati gejala tanpa menyentuh sumber penyakit.

Kita perlu jujur mengakui bahwa sebagian besar persoalan karhutla tidak berdiri sendiri. Di balik kepulan asap, ada persoalan tata kelola lahan, lemahnya pengawasan, konflik kepentingan, praktik pembukaan lahan yang tidak bertanggung jawab, serta penegakan hukum yang belum selalu memberi efek jera. Api memang terlihat di permukaan, tetapi akar masalahnya sering tersembunyi di balik keputusan-keputusan manusia.

Karena itu, menjaga asa tidak berarti menutup mata terhadap kenyataan. Sebaliknya, harapan harus dibangun dari keberanian untuk melihat masalah secara utuh. Kita tidak boleh berhenti pada pertanyaan siapa yang memadamkan api. Kita juga harus bertanya siapa yang menyalakan, mengapa api bisa menyebar, mengapa lahan begitu mudah terbakar, dan mengapa pencegahan sering kalah cepat dibandingkan bencana.

Di titik ini, negara memiliki tanggung jawab besar. Pemerintah tidak boleh hanya hadir ketika api sudah membesar. Kehadiran negara harus terasa sejak tahap pencegahan: memastikan tata kelola lahan berjalan, memperkuat pemantauan titik rawan, mendukung masyarakat yang menjaga wilayahnya, serta menindak tegas pelaku pembakaran tanpa pandang bulu.

Penegakan hukum juga tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan yang sering kali hanya menjadi bagian kecil dari rantai persoalan. Jika memang ada pihak yang mendapat keuntungan dari pembakaran lahan, maka penyelidikan harus menjangkau aktor utama dan pemodalnya. Hukum akan kehilangan wibawa jika yang dihukum hanya mereka yang berada di ujung, sementara pihak yang memiliki kuasa dan keuntungan tetap aman di belakang layar.

Namun, tanggung jawab tidak hanya berada di tangan pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting. Kepedulian terhadap lingkungan tidak harus selalu dimulai dari tindakan besar. Tidak membakar sampah sembarangan, melaporkan titik api, membantu menyebarkan informasi resmi, menjaga lahan tetap bersih dari material mudah terbakar, dan saling mengingatkan adalah bentuk-bentuk kecil yang berarti.

Di banyak tempat, masyarakat lokal sebenarnya memiliki pengetahuan yang sangat berharga. Mereka mengenal perubahan angin, kondisi tanah, pola kekeringan, dan wilayah yang mudah terbakar. Pengetahuan ini seharusnya tidak dipandang sebelah mata. Pemerintah dan lembaga terkait perlu melibatkan warga sebagai mitra, bukan sekadar objek yang diberi imbauan ketika bencana terjadi.

Kita juga harus memberi perhatian lebih besar kepada mereka yang paling rentan terdampak asap. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan tidak memiliki pilihan yang sama dengan mereka yang bisa bekerja dari rumah atau berpindah sementara ke tempat yang lebih aman. Bagi sebagian warga, asap bukan hanya ketidaknyamanan, melainkan ancaman langsung terhadap kesehatan dan penghidupan.

Dalam situasi seperti ini, informasi yang akurat menjadi bentuk perlindungan. Masyarakat perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai kualitas udara, kondisi sekolah, layanan kesehatan, wilayah evakuasi, dan langkah yang harus dilakukan. Jangan biarkan ruang publik dipenuhi kabar simpang siur, saling menyalahkan, atau informasi yang menyepelekan dampak asap. Kepanikan memang tidak membantu, tetapi menganggap remeh bahaya juga sama berbahayanya.

Media massa dan media sosial pun memiliki peranan penting. Pemberitaan tentang karhutla semestinya tidak hanya menampilkan gambar api yang dramatis. Publik perlu diajak memahami dampak jangka panjang, kisah warga yang terdampak, kerusakan ekosistem, serta persoalan kebijakan yang memungkinkan bencana berulang. Dengan begitu, karhutla tidak berhenti sebagai berita musiman, tetapi menjadi agenda publik yang terus diawasi.

Di tengah semua itu, ada satu hal yang sering terlupakan: manusia yang berada di garis depan. Petugas pemadam, relawan, tenaga kesehatan, aparat, dan warga yang berjibaku memadamkan api bekerja dalam kondisi yang tidak mudah. Mereka berhadapan dengan panas, asap, medan sulit, dan risiko keselamatan. Kerja mereka patut dihargai, tetapi penghargaan tidak cukup dalam bentuk ucapan terima kasih. Mereka juga membutuhkan peralatan memadai, pelatihan, perlindungan kesehatan, dan dukungan kelembagaan.

Asa tumbuh dari tindakan nyata. Ia hadir ketika seorang warga melaporkan titik api sebelum membesar. Ia terlihat ketika kelompok masyarakat membuat sekat bakar dan menjaga lahan bersama. Ia muncul saat guru tetap mendampingi murid meski kegiatan sekolah terganggu. Ia hidup dalam diri tenaga kesehatan yang terus melayani pasien dengan keluhan pernapasan. Asa juga tampak pada anak-anak yang menanam kembali pohon di lahan yang pernah terbakar.

Kita tidak boleh membiarkan asap membakar keyakinan bahwa perubahan mungkin terjadi. Memang, persoalan karhutla tidak bisa diselesaikan dalam satu malam. Tidak ada kebijakan tunggal yang mampu menghapus seluruh risiko. Namun, bukan berarti kita tidak berdaya. Perubahan besar sering berawal dari konsistensi atas hal-hal yang tampak sederhana: pengawasan yang tidak putus, penegakan hukum yang adil, keterlibatan warga, dan keberanian untuk tidak menganggap bencana sebagai rutinitas.

Menjaga asa juga berarti menjaga ingatan. Jangan biarkan masyarakat melupakan siapa yang terdampak, berapa banyak ruang hidup yang rusak, dan berapa besar kerugian yang harus ditanggung. Setiap musim karhutla semestinya menjadi bahan evaluasi, bukan sekadar catatan tahunan. Pemerintah harus berani mengukur apakah kebijakan pencegahan benar-benar bekerja. Masyarakat harus terus mengawasi. Media harus terus mengingatkan.

Pada akhirnya, asa bukanlah menunggu langit biru sambil berpangku tangan. Asa adalah keputusan untuk tetap peduli ketika keadaan membuat kita lelah. Asa adalah keberanian untuk percaya bahwa hutan dan lahan tidak ditakdirkan menjadi korban keserakahan. Asa adalah kesediaan untuk merawat udara sebagai hak bersama, bukan sebagai kemewahan yang hanya bisa dinikmati ketika musim hujan tiba.

Kepungan karhutla memang menguji kesabaran dan ketahanan kita. Asap bisa mengaburkan pandangan, tetapi tidak boleh mengaburkan arah. Kita harus terus bergerak dari sekadar memadamkan api menuju mencegahnya sejak awal. Dari sekadar mengeluh menuju mengawasi. Dari sekadar menunggu hujan menuju membangun sistem yang lebih kuat.

Sebab harapan tidak tumbuh di tempat yang steril dari masalah. Harapan justru tumbuh di tengah kesulitan, ketika orang-orang memilih untuk tidak menyerah. Selama masih ada warga yang menjaga, petugas yang berjuang, anak-anak yang belajar mencintai alam, dan pemimpin yang bersedia bertindak tegas, langit yang kelabu belum menjadi akhir cerita.

Di tengah kepungan karhutla, kita memang sedang kehilangan banyak hal: udara bersih, ketenangan, rasa aman, bahkan sebagian ruang hidup. Tetapi satu hal tidak boleh ikut hilang keyakinan bahwa bumi ini masih bisa dipulihkan. Asal asa dirawat, dan asal harapan itu diterjemahkan menjadi tindakan. (*)

Tags

Berita Terkait