Legislator Benjamin Kristianto Minta Pemerintah Serius Cegah Stunting

Kamis, 30/03/2023 - 20:59
Anggota Komisi E DPRD Jatim, Benjamin Kristianto.

Anggota Komisi E DPRD Jatim, Benjamin Kristianto.

Klikwarta.com, Jatim - Masih Tingginya penderita stunting di Jawa Timur membuat simpati Anggota Komisi E DPRD Jatim, Benjamin Kristianto. Pemerintah diminta serius dalam membuat program pencegahan stunting pada bayi dan balita.

Benjamin mengaku selama ini program pemerintah terkesan hanya seremonial saja dalam menjalankan program pencegahan stunting. Akibatnya dana yang disediakan oleh pemerintah dalam jumlah banyak tidak semua terserap ke bayi dan balita.

Seperti diketahui beberapa waktu sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani membeberkan bahwa dari total anggaran sub kegiatan penanganan stunting senilai Rp77 triliun, dana yang masuk ke mulut bayi hanya Rp34 triliun. Sementara sisanya digunakan untuk kegiatan lain seperti rapat koordinasi dan pembangunan pagar puskesmas. Sri Mulyani menilai anggaran Rp34 triliun masih sangat kecil untuk item yang diperlukan langsung dalam penanganan bayi stunting.

Benjamin turut prihatin dana pencegahan stunting yang dialokasikan banyak yang tidak tepat sasaran. Ia kaget di dapilnya sendiri yakni Sidoarjo ada warga melaporkan bayi stunting. Hal itu diketahui saat reses di Sidoarjo.
Melihat hal itu, Komisi E DPRD Jawa Timur meminta pemerintah agar dalam membuat program penurunan angka penderita stunting terprogram dan terorganisasi dalam waktu panjang. Dengan begitu, tidak hanya seremonial saja. Namun masyarakat memahami tindaklanjut yang harus dilakukan usai diberi sosialisasi pencegahan stunting.

 “Stunting bukan hanya program saja. Misal ada program stunting, ada. Apa itu, pemberian makanan tambahan. Tetapi tidak hanya sebatas itu, dan butuh waktu panjang,” kata Benjamin, Kamis 30 Maret 2023.

Ketua Kesehatan Indonesia Raya (Kesira) Jatim itu menegaskan, hal yang penting adalah merubah mindset masyarakat dalam mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi tinggi. Mengingat pola pikir masyarakat selama ini adalah makanan yang mahal pasti mengandung gizi tinggi. 

Benjamin berharap ada kegiatan-kegiatan untuk memberi pemahaman makanan-makanan yang mengandung gizi tinggi kepada ibu hamil. Namun makanan itu mudah didapat dan tidak mahal. 

“Program itu jangan hanya simbolis ada. Oh, program ini (pencegahan stunting) ada, sosialisasi ada. Tapi tidak ada tindaklanjut. Akhirnya program itu keluar anggaran. Kumpulin massa, foto-foto, massa akhirnya bingung, saya mau ngapain selanjutnya,” terangnya.

Benjamin berharap dalam kegiatan sosialisasi program pencegahan stunting ada petunjuk teknisnya. Setelah diadakan pelatihan, diharapkan bisa merekrut masyarakat lain hinga terbentuk kelompok-kelompok penyuluhan. Nantinya tiap kelompok sosialisasikan makanan-makanan yang mudah didapat, tetapi gizinya tinggi. “Jadi ada pelatihan untuk mengubah mindset, merubah perilaku, budaya,” pungkasnya. (adv)

Berita Terkait