Kemendikdasmen Perluas Akses PAUD melalui Wajib Belajar 13 Tahun dan Bantuan Pendidikan

Minggu, 25/10/2026 - 00:20
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan pendidikan anak usia dini berperan penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya. “Pendidikan anak usia dini adalah fondasi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan,” ujarnya di GOR Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/10).  Fotografer: Morecka

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan pendidikan anak usia dini berperan penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya. “Pendidikan anak usia dini adalah fondasi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan,” ujarnya di GOR Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/10). Fotografer: Morecka

Klikwarta.com, Semarang - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, bantuan revitalisasi taman kanak-kanak (TK), Program Indonesia Pintar (PIP), serta peningkatan kualifikasi akademik guru. Langkah ini dilakukan untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan sejak dini sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Upaya ini merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, sebagaimana tercantum dalam Asta Cita keempat, dengan memulai penguatan pendidikan sejak taman kanak-kanak.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan pendidikan anak usia dini berperan penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya. “Pendidikan anak usia dini adalah fondasi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan,” ujarnya di perayaan Milad TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) ke-107 dan Milad Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) ke-29 di GOR Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/10).

Melalui kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, pemerintah mendorong pemberian layanan pendidikan prasekolah selama satu tahun sebelum sekolah dasar (SD). Abdul Mu’ti juga menyampaikan bahwa terdapat 103.221 satuan TK di Indonesia dengan 3.808.734 murid. Namun, masih terdapat sekitar 1.372.947 murid kelas 1 SD yang belum pernah mengikuti pendidikan anak usia dini. Data tersebut menunjukkan perlunya memperluas akses agar semakin banyak anak memperoleh pengalaman belajar sejak usia dini.

Untuk mendukung peningkatan kualitas sarana dan prasarana, Kemendikdasmen mengalokasikan 13.831 bantuan revitalisasi TK pada 2026, meningkat dari 1.355 TK pada 2025. Pemerintah juga memberikan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 888.000 murid TK pada 2026, dengan bantuan sebesar Rp450.000 per tahun bagi setiap penerima yang memenuhi kriteria. Bantuan tersebut diharapkan membantu memperluas kesempatan anak mengakses pendidikan sejak dini.

Selain memperluas akses bagi murid, Kemendikdasmen juga mendorong peningkatan kualifikasi akademik guru. Pada 2025, pemerintah mengalokasikan program peningkatan kualifikasi S1/D4 melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi 12.500 guru yang belum berpendidikan S1 atau D4. Pada 2026, alokasi program tersebut direncanakan bagi 150.000 guru. Mendikdasmen mendorong para peserta untuk mengikuti proses pendidikan dengan baik agar kompetensi dan kualifikasi pendidik semakin meningkat.

 “Semua teori pendidikan mengatakan bahwa pendidikan anak usia dini itu prinsip pedagogisnya adalah bermain sambil belajar, bukan belajar sambil bermain,” kata Mendikdasmen. Ia mengingatkan agar anak tidak dibebani hafalan berlebihan maupun pekerjaan rumah yang tidak sesuai dengan usianya. Pembelajaran perlu memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan kemampuan motorik, bersosialisasi, dan berimajinasi.

Kemendikdasmen juga mengenalkan pendekatan STEAMS (_Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Sport_) untuk memperkenalkan sains, teknologi, seni, matematika, dan olahraga sejak dini melalui kegiatan yang menyenangkan. Pengenalan konsep matematika, misalnya, dapat dilakukan melalui lagu dan permainan yang membantu anak mengenal angka, warna, gerakan, serta nilai berbagi. Pendekatan ini diharapkan mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, mencakup aspek fisik, intelektual, emosional, dan karakter.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turut menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia dan upaya penanggulangan kemiskinan. Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah setiap tahun memberikan bantuan pendidikan kepada 5.000 anak, termasuk dukungan kebutuhan sekolah berupa pakaian, buku, dan seragam. Program tersebut dilaksanakan melalui 139 sekolah sebagai upaya membantu anak-anak agar dapat melanjutkan pendidikan.

Menteri Abdul Mu’ti mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kerja sama dalam meningkatkan akses dan mutu pendidikan sejak usia dini. Dukungan pemerintah, peningkatan kompetensi guru, serta penerapan pembelajaran yang berpihak pada kebutuhan anak menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang berkarakter dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. (**) 

Berita Terkait