Tour de Bintan 2026 Sukses Digelar, Pulau Bintan Kembali Harumkan Nama Indonesia di Mata Dunia
Klikwarta.com, Bintan - Beberapa hari setelah sukses diselenggarakannya Tour de Bintan 2026, Minggu (23/8), suasana jalan di Kabupaten Bintan, kembali berjalan seperti biasa. Jalanan Kabupaten Bintan yang selama tiga hari menjadi lintasan para pesepeda dari berbagai negara kembali digunakan masyarakat. Ratusan peserta mancanegara pulang dengan cerita tentang Bintan dan promosi Indonesia pun berlangsung secara alami.
Pulau Bintan di Provinsi Kepulauan Riau telah berhasil membuktikan kebangkitannya menjadi panggung bagi sebuah kompetisi olahraga dunia balap sepeda Tour de Bintan.
Keberhasilan event ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Kabupaten Bintan, penyelenggara, pengelola kawasan, aparat keamanan, tenaga medis, komunitas, hingga pelaku usaha.
“Kerja sama tersebut terlihat dari satu hal yang sederhana namun penting: peserta dapat menyelesaikan perlombaan dengan aman di lintasan yang telah dipersiapkan,” jelas Abdul Wahab, Chief Operating Officer Bintan Resorts.
Berlangsung pada 21–23 Agustus, Tour de Bintan 2026 diselenggarakan Bintan Resorts berkolaborasi dengan Trifactor, dengan kawasan Lagoi Bay sebagai pusat rangkaian kegiatan. Dukungan pemerintah dan sejumlah pemangku kepentingan turut tercermin sepanjang penyelenggaraan, dengan Laksamana TNI (Purn.) Prof. Dr. Marsetio, M.M, turut melepas peserta pada hari pertama, disusul Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura pada hari kedua, dan Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar
Ahmad pada hari ketiga.
Ajang ini mempertemukan olahraga, pariwisata, komunitas, dan promosi destinasi dalam satu pengalaman yang dinikmati langsung oleh ratusan peserta dari berbagai penjuru dunia.
“Sebanyak 800 pesepeda dari 42 negara ambil bagian dalam penyelenggaraan tahun ini. Menariknya, 616 peserta merupakan pesepeda mancanegara, sementara 184 peserta berasal dari Indonesia,” kata Raja Azmizal Usman, Koordinator Utama Tour de Bintan 2026.
Dengan komposisi tersebut, para peserta internasional secara tidak langsung menjadi bagian dari “duta” yang membawa cerita tentang Bintan dan Indonesia ketika mereka kembali ke negaranya masing-masing.
Di lintasan, para peserta datang dengan tujuan yang berbeda. Ada yang mengejar catatan waktu terbaik, ada yang ingin menguji kemampuan, ada yang datang bersama komunitas, dan tidak sedikit yang ingin menikmati pengalaman bersepeda di sebuah pulau tropis bernama Pulau Bintan. Pada akhirnya, podium menjadi bagian yang paling mudah dikenang dari sebuah perlombaan Tour de Bintan di hati peserta yang menang dan pendukungnya. Pembalap Singapura Eamon Lim, misalnya, tampil sangat menonjol.
Ia berhasil menjadi juara pada kategori pria usia 19–34 tahun untuk Gran Fondo Classic 150 km, Gran Fondo Century 100 km, sekaligus Individual Time Trial 17 km. Pada Gran Fondo Classic 150 km, posisi kedua juga ditempati pembalap Singapura, Khon Fung Tong, sementara posisi ketiga menjadi milik pembalap Indonesia, Qorismayu Irwandi Setra.
Di kategori perempuan usia 19–34 tahun untuk Gran Fondo Classic 150 km, podium juga dikuasai para pesepeda Singapura. Rae Woon meraih posisi pertama, disusul Chng Jiaying Crystal dan Meliani JuliaMartina Lee. Dominasi pembalap Singapura tersebut justru memperlihatkan sesuatu yang menarik: Indonesia, khususnya Bintan, mampu menyediakan panggung kompetisi yang membuat atlet dari negara lain datang dan bertarung secara serius. Di sisi lain, pesepeda Indonesia pun turut mengukir prestasi di podium.
Nama Michyko Anesthasya menjadi salah satu cerita yang membanggakan. Pembalap muda Indonesia tersebut berhasil menjadi juara pertama kategori Elite Individual Time Trial 17 kilometer setelah mengungguli sejumlah peserta mancanegara.
Prestasi tersebut menjadi gambaran bahwa kehadiran event internasional di Indonesia juga dapat menjadi ruang bagi atlet nasional untuk menguji kemampuan tanpa harus selalu pergi bertanding ke luar negeri.
Cerita lain datang dari Chaidir Akbar, yang berhasil meraih juara pertama Gran Fondo Discovery 45 km kategori pria usia 40–44 tahun. Menariknya, ia bahkan mengaku semula datang dengan niat mengikuti ride santai, bukan secara khusus mempersiapkan diri untuk sebuah perlombaan. Mungkin inilah alasan mengapa Tour de Bintan layak dilihat dalam perspektif yang lebih luas. Ketika lebih dari tiga perempat peserta datang dari mancanegara, mereka tidak hanya membawa sepeda, tetapi juga membawa keluarga, komunitas, serta kebutuhan akomodasi, kuliner, transportasi, dan berbagai aktivitas selama berada di Bintan.
“Lebih jauh lagi, mereka pulang membawa pengalaman,” ujar Hasan, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari cerita yang mereka bawa pulang ke negara masing-masing, mengharumkan nama Indonesia, dengan Provinsi Kepri dan Pulau Bintan sebagai salah satu wajahnya di mata dunia. (**)








