Foto bersama
Klikwarta.com, Jember – Kepala BPBD Kabupaten Jember, Drs. Edy Budi Susilo, M.Si, mengajak kader Tim Penggerak PKK menjadi ujung tombak edukasi kebencanaan di tingkat keluarga dan masyarakat. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Kader PKK dalam Kesiapsiagaan Keluarga Tanggap Bencana Alam dan Penanggulangan Kebakaran Lingkungan yang digelar Pokja IV TP PKK Kabupaten Jember di Kantor IBI Jember, Rabu (5/8/2026).
Menurut Edy, penanggulangan bencana merupakan urusan kemanusiaan yang tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah maupun BPBD. Dibutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat, termasuk kader PKK yang memiliki jaringan hingga tingkat desa.
"Ibu-ibu PKK memiliki peran strategis karena menjadi penggerak di keluarga dan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh hari ini diharapkan dapat diteruskan kepada warga agar semakin banyak masyarakat yang siap menghadapi bencana," ujarnya.
Edy mengungkapkan, intensitas bencana di Kabupaten Jember terus meningkat.
Sejak dirinya dilantik sebagai Kepala BPBD pada Januari 2026, BPBD telah menangani 345 kejadian bencana hanya dalam kurun waktu enam bulan.
Dari jumlah tersebut, 271 kejadian merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir akibat hujan deras, angin kencang yang merusak rumah, pohon tumbang, hingga tanah longsor.
Selain itu terdapat pula bencana nonalam dan kondisi kedaruratan lain yang juga membutuhkan penanganan cepat.
"Melihat tingginya jumlah kejadian, penanganan bencana tidak mungkin hanya menjadi tugas BPBD. Semua pihak harus terlibat, mulai dari pemerintah, dinas terkait, relawan hingga masyarakat," tegasnya.
Sebagai upaya mengurangi risiko bencana, BPBD Jember terus menggencarkan edukasi mitigasi melalui berbagai program. Salah satunya Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang menyasar sekolah mulai tingkat PAUD hingga perguruan tinggi. Selain itu BPBD juga membuka edukasi mitigasi bagi instansi pemerintah, organisasi masyarakat, hingga perusahaan.
BPBD juga telah membentuk 226 Desa Tangguh Bencana dan 22 Kelurahan Tangguh Bencana. Selanjutnya, pada September mendatang akan dibentuk Kecamatan Tangguh Bencana di seluruh wilayah Jember yang ditargetkan diluncurkan pada April 2027 bertepatan dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana.
Edy mencontohkan pentingnya edukasi kebencanaan dengan membandingkan dampak tsunami Aceh tahun 2004 yang menelan ratusan ribu korban jiwa dengan Jepang yang memiliki budaya kesiapsiagaan tinggi sehingga mampu menekan jumlah korban saat terjadi bencana.
Ia juga mengimbau masyarakat menyimpan nomor-nomor layanan darurat seperti BPBD, pemadam kebakaran, kepolisian, dan instansi terkait agar pelaporan dapat dilakukan secepat mungkin ketika terjadi keadaan darurat.
"Deteksi dini, pelaporan cepat, dan penanganan cepat menjadi kunci mengurangi risiko bencana. Semakin cepat informasi diterima, semakin besar peluang menyelamatkan korban dan meminimalkan kerugian," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Edy menegaskan BPBD Jember siap memberikan edukasi mitigasi bencana secara gratis kepada pemerintah kecamatan, desa maupun organisasi masyarakat sebagai bentuk komitmen memperkuat budaya sadar bencana di Kabupaten Jember.
"BPBD tidak mungkin bekerja sendiri mengingat luas wilayah Jember mencapai sekitar 3.293 kilometer persegi dengan 31 kecamatan, 226 desa, 22 kelurahan dan penduduk lebih dari 2,6 juta jiwa. Karena itu kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama membangun Jember yang tangguh terhadap bencana," pungkasnya. (*)








