Tim Labmino ciptakan inovasi kacamata RunSight
Klikwarta.com, Depok - Empat mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Indonesia (UI) kembali membuat takjub dunia. Mereka membawa sebuah inovasi bernama Runsight ke panggung global dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT).
Mahasiswa UI yang tergabung dalam Tim Labmino ini terpilih sebagai Global Ambassador pada ajang SFT. Sebuah kompetisi inovasi internasional yang mendorong generasi muda menghadirkan solusi berbasis teknologi untuk menjawab tantangan sosial.
Tim Labmino terdiri dari Muhammad Fazil Tirtana, Kaindra Rizq Sachio, Anthony Edbert Feriyanto, dan Ariq Maulana Malik Ibrahim.
“RunSight adalah perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu penyandang disabilitas visual berlari secara mandiri dan aman,” jelas Anthony dalam rilisnya, Sabtu (28/02/26).
Dikatakannya, ide RunSight muncul dari cerita sederhana di lintasan lari. Pengalaman seorang teman yang gemar berolahraga namun mengalami katarak dan kesulitan melihat garis di trek lari.
Tim Labmino kemudian melakukan validasi dan menemukan bahwa permasalahan serupa juga dialami oleh banyak penyandang gangguan penglihatan lainnya, dari sanalah pengembangan solusi dimulai.
Dalam rilis tersebut, RunSight memanfaatkan sensor dan sistem pemrosesan AI untuk membaca kondisi lingkungan sekitar pengguna secara real time.
Perangkat ini memberikan panduan yang membantu pengguna mengenali jalur serta menghindari rintangan saat berlari.
Dalam pengembangannya, tim tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan, efisiensi energi, dan potensi biaya produksi yang lebih terjangkau.
“Kami ingin memastikan perangkat ini tidak hanya canggih, tetapi juga ringan dan hemat daya. Tujuan utamanya adalah membuka akses olahraga yang lebih inklusif bagi teman-teman disabilitas visual,” ujar Anthony.
Perjalanan Tim Labmino dalam Samsung Solve for Tomorrow (SFT) dimulai pada Mei 2025 melalui tahap penyisihan nasional dengan pengumpulan concept paper.
Tim kemudian melaju ke semifinal dan final nasional, sebelum akhirnya lolos ke tahap South East Asia and Oceania Selection dan Global Selection pada akhir 2025.
Mereka tampil dalam kegiatan seremonial bagi para Global Ambassador diselenggarakan di Milan, Italia, pada 8–10 Februari 2026.
Menurut Anthony, proses panjang yang telah dilalui bersama rekan-rekannya menjadi ruang pembelajaran yang membentuk cara pandang tim terhadap inovasi.
“Kami belajar bagaimana menghubungkan empati dengan teknologi. Tantangannya bukan hanya membuat alat yang berfungsi, tetapi memastikan solusi itu benar-benar relevan dan bisa diterapkan,” katanya.
Inovasi Tim Labmino ini membuat Indonesia untuk pertama kalinya meraih predikat Global Ambassador dan menjadi satu dari dua negara di kawasan South East Asia and Oceania (SEAO) yang berhasil mencapainya.
Sementara itu, Rektor UI Prof. Heri Hermansyah menyampaikan apresiasinya kepada Tim Labmino.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa UI tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi yang berangkat dari empati dan kepedulian sosial. Inilah esensi pendidikan tinggi,” tegasnya.
Ke depannya, UI akan mendorong ekosistem inovasi yang kolaboratif dan inklusif agar semakin banyak karya mahasiswa yang dapat berkontribusi di tingkat internasional.
“Kami bangga atas keberanian dan konsistensi mereka membawa gagasan dari kampus hingga ke forum global. Semoga capaian ini menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk terus berinovasi dan menembus batas,” kata Prof. Heri.
(Kontributor: Arif)








