Mendikdasmen Abdul Mu'ti
Klikwarta.com, Medan, 27 Agustus 2026 - Upaya mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua terus dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui penguatan pendidikan nonformal dan pendidikan vokasi. Kemendikdasmen menyalurkan bantuan peningkatan mutu kepada 71 lembaga kursus dan pelatihan (LKP) terdampak bencana banjir di Aceh dan Sumatra Utara, sekaligus melaksanakan program _upskilling_ dan _reskilling_ bagi 118 guru SMK dari 11 provinsi pada Rabu (26/8) di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bidang Bangunan dan Listrik (BBL) Medan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan bermutu tidak hanya berlangsung melalui sekolah formal. Berbagai jalur pendidikan, termasuk pendidikan nonformal, perlu mendapat ruang untuk memberikan kesempatan belajar dan mengembangkan kemampuan masyarakat.
"_Education is not only about schooling but the essence of education is learning_. Esensi pendidikan itu belajar, tidak hanya sekolah. Undang-Undang Sisdiknas sudah membuat rumusan yang sangat komprehensif mengenai jenis pendidikan itu: ada pendidikan formal, informal, dan nonformal. Semua diwadahi, semua diberikan kesempatan untuk memberikan layanan pendidikan karena tidak semua orang bisa sekolah formal,” jelasnya.

Prinsip tersebut juga menjadi pijakan dalam penguatan pendidikan vokasi. Mendikdasmen mendorong agar pendidikan di SMK tidak hanya diarahkan untuk menyiapkan peserta didik memasuki dunia kerja, tetapi juga membangun keberanian untuk menciptakan peluang usaha melalui kreativitas dan _soft skills_.
“Jangan selalu anak SMK itu didorong kerja kantor pakai lamaran berlapis-lapis, beri mereka visi tentang entrepreneurship. Karena kreativitas dan _soft skills_-nya itu yang didorong. Kalau _hard skills_, keterampilan teknis, akan cepat usang,” ungkap Mendikdasmen.
Penguatan orientasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan SMK yang lebih beragam dan sesuai dengan potensi daerah. Abdul Mu’ti mengatakan, potensi lokal seperti kopi, teh, nilam, hingga perikanan dapat dikembangkan menjadi bidang keahlian di SMK sehingga peserta didik mampu mengolah kekayaan alam daerah melalui keterampilan yang dimiliki dan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Untuk memastikan pendidikan vokasi tetap relevan dengan perkembangan dunia kerja dan teknologi, peningkatan kompetensi guru juga dilakukan secara berkelanjutan melalui _upskilling_ dan _reskilling_. Penguatan tersebut tidak hanya mencakup keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan untuk menghadapi perubahan.
“Para guru ini memang harus terus meningkatkan kemampuannya. _Continuing Professional Development_. _Upskilling_, _reskilling_, itu ditingkatkan kemudian pelajari _skill_ yang baru. Tapi _hard skills_ saja tidak cukup, _soft skills_ harus kita perkuat. Karena _hard skills_ atau kemampuan teknis itu akan mudah usang sehingga yang harus kita tekankan adalah _soft skills_: kreativitas, inovasi, kemampuan untuk beradaptasi, menyelesaikan masalah dan lain-lain, AI, koding, dan sebagainya itu juga harus kita berikan,” ucap Mendikdasmen.
Kemendikdasmen melaksanakan program _upskilling_ dan _reskilling_ pada 20 Agustus s.d. 2 September 2026 yang diikuti 118 guru dari 11 provinsi. Program ini berfokus pada tiga bidang keahlian, yakni Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, dan Teknik Komputer dan Jaringan. Melalui lokakarya, kunjungan industri, dan uji kompetensi keahlian, program ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi guru sesuai standar teknis industri, memperkuat kompetensi pedagogik dan jiwa kewirausahaan, serta kemampuan beradaptasi dengan pembelajaran berbasis projek dan pembelajaran mendalam yang terintegrasi dengan teknologi digital, coding, dan kecerdasan artifisial.
Di sisi lain, penguatan pendidikan nonformal juga menjadi perhatian Kemendikdasmen, terutama bagi LKP yang terdampak bencana alam di Aceh dan Sumatra Utara. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan bencana alam yang terjadi di kedua wilayah tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi fisik lembaga, tetapi juga keberlangsungan proses pembelajaran.
“Kalau kita review ke sebelumnya, bencana alam di wilayah Aceh dan Sumatra Utara berdampak merusak bangunan dan merendam alat praktik serta menguji keberlangsungan proses belajar di LKP. Namun LKP bukan sekadar fisik bangunan saja yang terkena, melainkan juga ruang harapan bagi anak bangsa untuk meraih keterampilan. Dalam kondisi sulit apa pun tentu kita harus tetap memastikan pendidikan bermutu untuk semua, dan Kemendikdasmen menyalurkan bantuan peningkatan mutu sebesar Rp4,18 miliar kepada 71 lembaga kursus dan pelatihan,” jelas Dirjen Tatang.
Dari 71 LKP penerima bantuan, sebanyak 49 LKP berada di Provinsi Aceh, yakni 21 LKP di Kabupaten Bireuen, 12 LKP di Kabupaten Aceh Tamiang, 10 LKP di Kota Langsa, dan 6 LKP di Kota Lhokseumawe. Sementara itu, di Sumatra Utara terdapat 22 LKP penerima bantuan, yakni 17 LKP di Kabupaten Langkat dan 5 LKP di Kabupaten Deli Serdang. Menurut Tatang, bantuan tersebut menjadi modal untuk memulihkan sarana belajar sekaligus memperkuat tata kelola dan menghadirkan kembali media pembelajaran yang adaptif.
“Penyaluran ini merupakan modal nyata untuk memulihkan sarana belajar sekaligus memperkuat tata kelola dan menghadirkan kembali media pembelajaran yang adaptif sejalan dengan kebijakan pemerataan mutu dan pendidikan karakter berbasis vokasi,” jelasnya.
*LKP Rasakan Langsung Manfaat Bantuan*
Pimpinan LKP Sakinah, Samsinar, mengatakan bantuan Kemendikdasmen membantu lembaganya kembali menjalankan kegiatan kursus bagi masyarakat, khususnya anak-anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan formal. LKP Sakinah sebelumnya terdampak banjir pada November 2025 lalu yang merendam berbagai fasilitas, termasuk mesin jahit dan peralatan tata busana serta kecantikan. Bantuan tersebut akan digunakan untuk mengganti sarana yang rusak akibat banjir. Selama ini, LKP Sakinah turut membantu anak-anak putus sekolah memperoleh keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi usaha, seperti menjahit dan tata rias pengantin.
“Alhamdulillah dengan adanya bantuan dari Kemendikdasmen, kami hari ini sudah pelan-pelan bangkit kembali untuk menjalankan kursus ini, yang selama ini anak-anak, terutama anak putus sekolah, sangat membutuhkan lembaga kursus ini tetap berjalan,” jelas Samsinar.
Dukungan serupa diterima LKP Rita di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Banjir merendam lembaga dan merusak berbagai sarana pembelajaran. Bantuan sebesar Rp50 juta akan digunakan untuk mengganti mesin sekaligus mendukung kegiatan pelatihan bagi masyarakat. Pimpinan LKP Rita, Dewi Rita, mengatakan bantuan tersebut memberikan semangat bagi lembaganya untuk kembali menjalankan kegiatan pembelajaran karena menurutnya, LKP menjadi salah satu jalur bagi masyarakat untuk memperoleh keterampilan dan membangun kemandirian.
"Semoga dengan bantuan ini kami dapat meningkatkan dan mengembalikan kembali sarana sebagai penunjang dalam melaksanakan program kami, dan terus semangat mendidik murid sehingga dapat meningkatkan SDM yang bermanfaat di masyarakat,” jelasnya.
Dewi Rita menambahkan, keberadaan LKP memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan dan membangun kemandirian. “Dengan adanya LKP mereka mampu berkarya walaupun tidak harus dengan berkuliah (sehingga) mereka mampu berusaha sendiri,” tutupnya.
(Kontributor : Arif)








