Juliyatmono Dorong BRIN Jadikan AI sebagai Pilar Riset Nasional 2026

Senin, 08/12/2025 - 19:17
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar, Juliyatmono, saat mengikuti Rapat Dengar  Pendapat bersama BRIN, Senin (8/12/2025). (Foto: Istimewa)

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar, Juliyatmono, saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat bersama BRIN, Senin (8/12/2025). (Foto: Istimewa)

Klikwarta.com, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) didorong untuk segera merombak prioritas risetnya dan secara tegas menempatkan akselerasi Kecerdasan Buatan atau Artifisial Intelligence (AI) sebagai agenda strategis nasional mulai tahun 2026. 

Desakan kunci ini datang dari Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Juliyatmono, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama BRIN pada Senin (8/12/2025).

Juliyatmono menekankan bahwa BRIN memiliki tanggung jawab sentral untuk memodernisasi kerangka riset Indonesia agar mampu bersaing di kancah global. Ia menilai, model riset yang konvensional dan terpecah-pecah sudah tidak lagi relevan dengan dinamika teknologi saat ini.

Sorotan utama politisi Partai Golkar ini adalah pentingnya integrasi AI secara menyeluruh. Menurutnya, AI adalah general-purpose technology yang sangat krusial untuk mempercepat validasi ilmiah, meningkatkan kualitas temuan riset, bahkan merespons potensi kebencanaan dengan lebih cepat dan akurat.

"Indonesia harus bergerak cepat, dan arah kebijakan riset harus diterjemahkan ke dalam program yang lebih agresif. BRIN perlu membangun ekosistem riset terpadu yang memungkinkan transfer pengetahuan lintas sektor secara efisien," ujar Juliyatmono, mendesak implementasi kebijakan yang lebih akuntabel.

Secara spesifik, Juliyatmono mendesak BRIN agar segera merumuskan Peta Jalan Riset AI Nasional (National AI Research Roadmap) 2026–2030. Peta jalan ini dinilai vital untuk memastikan riset BRIN memiliki korelasi langsung dengan kebutuhan industri, institusi pendidikan, dan pemerintah daerah.

Pemanfaatan AI ini, lanjutnya, harus mencakup pemodelan risiko dan pengembangan sistem deteksi dini kebencanaan, otomasi pengolahan data ilmiah dan kegiatan riset, serta pengembangan teknologi berbasis AI di sektor pangan, energi, dan logistik kemanusiaan.

"Tanpa integrasi AI yang sistematis, Indonesia akan kehilangan momentum dalam transformasi digital yang akan menjadi penentu daya saing negara pada dekade mendatang," tegasnya.

Selain fokus pada teknologi maju, Juliyatmono mengingatkan bahwa setiap hasil riset BRIN wajib menghasilkan solusi nyata yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.

Ia mencontohkan teknologi seperti air siap minum dan ground penetration radar, yang harus diperluas pemanfaatannya secara nasional. Ia juga meminta penguatan kolaborasi dalam isu-isu strategis seperti mitigasi bencana, deforestasi, serta pengembangan teknologi sandang dan pangan darurat.

Menutup RDP, Juliyatmono menjanjikan dukungan regulasi dan anggaran optimal dari Komisi X DPR RI.

"Optimalisasi BRIN ini bukan sekadar kebutuhan birokratik, ini adalah investasi strategis negara. Riset dan inovasi adalah pilar kunci bagi ketahanan ekonomi dan kemandirian teknologi Indonesia," pungkasnya.

Pewarta : Kacuk Legowo

Berita Terkait