Inovasi Sinyal Otak dan Kecerdasan Buatan untuk Mendukung Kesehatan Mental dalam Kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Senin, 05/05/2025 - 15:25
ilustrasi. Istimewa

ilustrasi. Istimewa

Oleh: Ayu Sekar Safitri S.T., M.T.

Kesehatan mental remaja saat ini menjadi isu yang semakin penting untuk diperhatikan oleh berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan pemerintah. Masa remaja adalah fase kehidupan yang penuh perubahan, baik secara fisik maupun emosional. Dalam fase ini, remaja sering kali mengalami tekanan dari berbagai sumber, seperti tuntutan akademik di sekolah, dinamika dalam keluarga, interaksi sosial di lingkungan pergaulan, serta pengaruh dari media sosial yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Jika tekanan ini tidak ditangani dengan baik, bisa berdampak negatif terhadap kondisi emosional dan mental mereka, bahkan memicu gangguan mental seperti stres berat atau depresi yang berkepanjangan.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa satu dari delapan orang di dunia mengalami gangguan mental, dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya. Di Indonesia, survei nasional menunjukkan bahwa sekitar 5% remaja mengalami depresi, dan hampir 10% lainnya mengalami gangguan emosional, seperti cemas atau merasa tidak berdaya. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja bukanlah hal yang bisa dianggap sepele atau hanya menjadi urusan pribadi. Bahkan, laporan World Happiness Report tahun 2023 menempatkan Indonesia di peringkat ke-84 dari 137 negara, sebuah peringatan bahwa kesejahteraan psikologis masyarakat kita, terutama kalangan muda, masih membutuhkan perhatian serius.

Masalah kesehatan mental juga berdampak langsung terhadap pembangunan nasional. Ketika seseorang mengalami gangguan emosional, hal ini dapat mengganggu kemampuannya untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi secara produktif dalam masyarakat. Oleh karena itu, kesehatan mental menjadi bagian dari agenda global dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dari PBB. Khususnya pada poin ke-3 tentang “kehidupan sehat dan sejahtera”, serta poin ke-4 mengenai pendidikan berkualitas, dan poin ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Menjaga kesehatan mental remaja berarti ikut membangun fondasi masa depan bangsa yang lebih kuat, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan mental adalah kemampuan untuk mendeteksi gejala gangguan emosi sejak dini. Namun, mengenali emosi seseorang bukanlah hal yang mudah, terutama jika hanya mengandalkan pengamatan secara kasat mata karena banyaknya jenis emosi yang terbagi dalam empat kuadran. Banyak remaja yang memilih untuk diam atau menutupi perasaannya, baik karena tidak tahu harus bercerita kepada siapa, merasa malu, atau takut dianggap lemah. Ekspresi wajah, nada bicara, dan gerakan tubuh tidak selalu mencerminkan apa yang mereka rasakan di dalam hati, sehingga masalah emosi kerap kali tidak terdeteksi hingga menjadi lebih serius.

 

D
(Pembagian jenis emosi dalam empat kuadran. Sumber: researchgate.net)

Di sinilah teknologi bisa memainkan peran penting sebagai alat bantu dalam memahami kondisi emosi seseorang secara lebih objektif. Salah satu teknologi yang kini semakin berkembang adalah Electroencephalogram atau EEG, yaitu alat yang digunakan untuk membaca aktivitas listrik di otak. Alat ini bekerja seperti “peta sinyal otak” yang bisa menunjukkan bagaimana kondisi emosional seseorang, tanpa perlu bergantung pada ekspresi luar atau perkataan. Karena bersifat non-invasif dan sulit dimanipulasi, EEG memberikan hasil yang lebih jujur dan akurat dalam memantau keadaan psikologis seseorang.

Lebih canggih lagi, sinyal otak dari EEG kini bisa digabungkan dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi AI mampu mempelajari pola sinyal otak dan menghubungkannya dengan berbagai kondisi emosi, seperti perasaan senang, sedih, marah, atau cemas. Sistem ini bisa dilatih untuk mengenali perubahan suasana hati seseorang secara otomatis dan dalam waktu singkat. Dengan demikian, AI bisa menjadi alat bantu yang sangat efektif dalam pemantauan kesehatan mental secara berkelanjutan, karena mampu memberikan peringatan dini sebelum gangguan emosional berkembang lebih parah.

Teknologi ini sangat mungkin diimplementasikan di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, kampus, hingga tempat kerja. Misalnya, dengan memanfaatkan alat ini, guru atau konselor di sekolah bisa membantu siswa yang tampak baik-baik saja tetapi sebenarnya sedang mengalami tekanan emosional. Deteksi dini ini dapat menjadi langkah awal dalam memberikan dukungan psikologis yang tepat. Selain itu, teknologi ini juga dapat digunakan untuk mengembangkan program pembinaan karakter, pelatihan pengelolaan emosi, atau sistem pendampingan bagi remaja yang rentan secara mental.

Pemanfaatan sinyal otak dan AI ini juga sangat relevan dengan tujuan SDG ke-9 yang menekankan pentingnya inovasi dan pembangunan infrastruktur. Inovasi dalam bidang teknologi kesehatan mental merupakan bentuk nyata dari penggunaan teknologi untuk menjawab tantangan sosial yang ada di masyarakat. Dengan terus mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi ini, kita dapat membantu lebih banyak orang untuk hidup lebih sehat secara mental. Ini adalah investasi jangka panjang bagi terciptanya generasi muda yang kuat, cerdas, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan lebih siap. (*)

Berita Terkait