Angka Pengobatan Penderita TBC di Tahun 2020 Hanya Capai 30 Persen

Rabu, 24/03/2021 - 17:49
Kasi P2PM Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung Muhroji

Kasi P2PM Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung Muhroji

Klikwarta.com, Tulungagung - Penderita tuberkolosis (TBC) sebanyak 600 penderita atau hanya 30 persen saja, capaian ini menurun apabila dibandingkan dengan 2019, yakni mencapai 80 persen sesuai data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mencatat selama tahun 2020 lalu pihaknya telah menemukan dan mengobati penderita tuberkolosis (TBC). 

“Target dari provinsi sebanyak 1.800 penemuan dan mengobati penderita TBC, namun di Tulungagung hanya ditemukan sebanyak 600 saja,” jelas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung, dr Kasil Rokhmad melalui Kasi P2PM, Muhroji, Rabu (24/3/2021).

Muhroji melanjutkan, tak hanya di Tulungagung, capaian TBC di Provinsi Jawa Timur (Jatim) pun juga menurun. Berdasarkan data, di Jatim hanya tercapai 29,2 persen atau 27.977 kasus. Menurunnya capaian penemuan ini salah satunya merupakan imbas dari pandemi Covid- 19.

Banyak masyarakat yang enggan untuk memeriksakan kondisi kesehatan ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang telah disediakan pemerintah.

“Karena pandemi ini masyarakat takut terkena Covid- 19, padahal TBC juga sama- sama membahayakan,” jelasnya.

Menurut Muhroji, di 2021 hingga pertengahan Maret ini, pihaknya telah kembali menemukan penderita TBC. Namun, untuk datanya belum ada, data pelaporan bersifat triwulanan.

Lanjut Muhroji, TBC merupakan penyakit yang lebih dikenal dengan nama penyakit paru- paru tuberkolosa yang penularannya melalui udara dan melalui percikan air liur (droplet). TBC bisa menyerang siapa saja, tidak memandang faktor usia, bahkan anak usia dua tahunpun bisa saja terkena penyakit ini.

“Satu penderita TBC berpotensi untuk menularkan ke 20 orang yang melakukan kontak erat dengannya. Jadi harus di screaning semua,” tuturnya.

Masih menurut Muhroji, cara pencegahan agar meminimalisir terkena TBC dengan memakai masker dan memahami etika batuk dengan benar.

Bedanya gejala Covid- 19 dengan TBC yaitu, kalau Covid- 19 batuk dan demam selama satu hingga dua hari saja, hilangnya indra penciuman, dan sakit pada saluran telan.

Sedangkan kalau untuk TBC batuk dan demam lebih dari dua minggu.
“Kalau kurang dari dua minggu berarti bukan TBC,” tambahnya.

Sekedar diketahui, pada Rabu, (24/3/2021) merupakan hari TBC sedunia, dan bertemakan setiap detik berharga, selamatkan bangsa dari tuberkolosis.

Muhroji mengatakan, kematian yang disebabkan karena TBC sangat tinggi, tingkat kematiannya mencapai 15 hingga 20 persen. Sedangkan Covid- 19 merupakan penyakit baru. Kematian dari kejadian Covid- 19 hanya dua persen.

“Namun, masyarakat lebih takut Covid- 19, dan mengabaikan bahayanya TBC. Setiap detik itu berharga bagi kami semua untuk menemukan dan mengobati penderita TBC. Tujuannya agar di 2024 mendatang TBC sudah tidak ada, tidak ada TBC baru. Target kami 2024 nanti TBC harus sudah tereliminasi,” tandasnya.

(Pewarta : Cristian)

Berita Terkait