Perkuat Literasi Sains dan Budaya Berpikir Ilmiah, Kemendikdasmen Salurkan Bantuan Laboratorium IPA SMA

Selasa, 23/06/2026 - 17:07
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq

Klikwarta.com, Tangerang Selatan - Di tengah derasnya arus informasi yang dihadapi generasi muda saat ini, kemampuan berpikir kritis dan literasi sains menjadi semakin penting. Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat SMA memberikan Bantuan Pemerintah Sarana Laboratorium IPA kepada 100 SMA terpilih guna memperkuat budaya sains, keterampilan eksperimen, dan pembelajaran berbasis praktik di sekolah.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, dalam sambutannya menegaskan bahwa bantuan sarana laboratorium IPA tidak semata-mata dipandang sebagai dukungan penyediaan fasilitas fisik, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong peserta didik memahami, menguji, dan menggunakan pengetahuan secara kritis. Menurutnya, laboratorium memiliki peran strategis dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual.

“Sekolah tanpa laboratorium tidak punya makna pembelajaran. Dia hanya sekolah, hanya schooling, bukan learning. Bantuan ini sebenarnya upaya untuk memperkuat ekosistem pembelajaran anak-anak kita,” ujar Wamen Fajar saat membuka Bimbingan Teknis Bantuan Pemerintah Sarana Laboratorium IPA Jenjang SMA di Tangerang Selatan, Senin (22/6).

Wamen Fajar menjelaskan bahwa laboratorium merupakan ruang penting untuk menumbuhkan literasi sains, yakni kemampuan menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk memahami berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Di tengah derasnya informasi yang diterima anak-anak saat ini, kemampuan tersebut menjadi semakin penting agar peserta didik tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu memahami dan menggunakannya secara tepat.

“Literasi sains itu dipahami ketika anak mampu menggunakan informasi atau pengetahuan yang dia miliki untuk melihat fenomena yang terjadi di lingkungannya. Bukan sekadar dia mengerti, tetapi dia tahu bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk melihat fenomena yang berkembang tadi,” katanya.

Lebih lanjut, Wamen Fajar juga menilai praktik di laboratorium sejalan dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang saat ini didorong Kemendikdasmen. Melalui kegiatan praktikum, peserta didik tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga menguji dan membuktikan konsep-konsep tersebut secara langsung.

“Praktikum di laboratorium dan proses bekerja sains di laboratorium itu mencerminkan praktik pembelajaran mendalam. Ketika di kelas anak diberi teori, di laboratorium anak diminta untuk menguji teori,” jelasnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh satuan pendidikan penerima bantuan untuk menjadikan laboratorium sebagai ruang pembentukan budaya berpikir ilmiah, rasa ingin tahu, dan keberanian bertanya. Menurutnya, peserta didik perlu didorong untuk mengalami sendiri proses memperoleh pengetahuan sehingga tidak hanya menjadi konsumen informasi.

“Yang harus kita bangun adalah budaya berpikir ilmiah. Murid kita tidak hanya menjadi konsumen teori atau konsumen informasi. Dia harus didorong untuk bisa mengalami pengetahuan itu. Jadi kata kuncinya, pengetahuan itu harus dialami, bukan hanya diketahui,” tegas Wamen Fajar.

Sementara itu, Direktur SMA, Yuli Haryanto, menyampaikan bahwa program bantuan sarana laboratorium IPA tahun 2026 merupakan langkah strategis untuk memperkuat kualitas pembelajaran sains di sekolah. Selain menyediakan sarana praktikum, program ini juga dibarengi dengan bimbingan teknis yang bertujuan meningkatkan pemahaman sekolah dalam perencanaan, pengelolaan, pemanfaatan, serta perawatan laboratorium secara tepat dan aman. 

Yuli mengungkapkan bahwa antusiasme satuan pendidikan terhadap program ini sangat tinggi. Dalam waktu sekitar satu minggu masa pengusulan, sebanyak 1.834 SMA mengajukan permohonan bantuan melalui Sistem Informasi Manajemen Sarana dan Prasarana (Simaspras). Namun, karena kuota yang tersedia pada tahun 2026 hanya 100 paket bantuan, proses seleksi dilakukan secara cermat berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, termasuk prioritas bagi sekolah penerima revitalisasi, sekolah terdampak bencana, wilayah 3T, serta sekolah yang menjadi model pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial.

“Kami ingin meningkatkan kapasitas sekolah dalam merancang kegiatan pembelajaran praktikum yang bermakna, relevan dengan kurikulum, dan mendorong keterampilan eksperimen siswa,” ujar Yuli.

Ia berharap seluruh satuan pendidikan penerima bantuan dapat memanfaatkan sarana laboratorium secara optimal untuk memperkuat pembelajaran sains sekaligus menumbuhkan budaya berpikir ilmiah di lingkungan sekolah. (**) 

Berita Terkait