Asia Timur Jadi Magnet Baru: Indonesia Perkuat Diplomasi Pendidikan dan Riset

Senin, 04/05/2026 - 22:33
Foto istimewa

Foto istimewa

Klikwarta.com, Jakarta – Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) di KBRI Beijing, KBRI Seoul, dan KBRI Tokyo secara proaktif memperluas jejaring kerja sama pendidikan, riset, dan kebudayaan di kawasan Asia Timur. Langkah strategis ini dipaparkan dalam forum “Webinar Series Atdikbud & Wadetap RI-UNESCO”, yang menegaskan posisi pendidikan sebagai instrumen utama diplomasi soft power Indonesia di tengah kompetisi global talenta dan inovasi.

Dalam konteks global, data UNESCO Institute for Statistics menunjukkan bahwa lebih dari 6,4 juta mahasiswa belajar lintas negara pada 2024. Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 59.000–62.000 mahasiswa di luar negeri. Namun, pada saat yang sama, arus masuk mahasiswa asing ke Indonesia masih relatif terbatas, menandakan perlunya strategi dua arah dalam diplomasi pendidikan.

Tiongkok: Ekspansi Akses Studi dan Kolaborasi Teknologi

Sistem pendidikan Tiongkok terus berkembang pesat. Hingga 2026, jumlah mahasiswa Indonesia di Tiongkok diperkirakan mencapai sekitar 20.000 orang, meningkat signifikan dibandingkan sekitar 14.000 pada 2018.

.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Puspita Lestari, menegaskan bahwa tren ini bukan semata soal jumlah, tetapi juga kualitas dan arah kolaborasi.

“Tiongkok tidak hanya menawarkan akses pendidikan yang luas, tetapi juga ekosistem riset dan inovasi yang semakin terbuka bagi mahasiswa internasional. Ini menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat kapasitas SDM di bidang sains dan teknologi,” ujarnya.

Sebaliknya, jumlah mahasiswa Tiongkok di Indonesia masih berada pada kisaran 1.000–2.000 mahasiswa. Menurut Puspita, ketimpangan ini perlu dibaca sebagai peluang.

“Kita memiliki ruang besar untuk meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai destinasi studi, terutama melalui penguatan program internasional dan promosi keunggulan budaya serta bahasa Indonesia,” tambahnya.

Korea Selatan: Internasionalisasi Pendidikan dan Integrasi Industri

Korea Selatan menunjukkan performa pendidikan yang kuat secara global. Dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, Korea Selatan berada dalam kelompok teratas untuk literasi membaca, matematika, dan sains.

Saat ini terdapat sekitar 2.700 mahasiswa Indonesia di Korea Selatan. Program “Study Korea 300K Project” menjadi pendorong utama internasionalisasi pendidikan, dengan target ambisius menarik 300.000 mahasiswa asing.

.

Atdikbud KBRI Seoul, Amaliah Fitriah, menyoroti pentingnya integrasi pendidikan dengan industri. “Korea Selatan menawarkan model yang sangat relevan bagi Indonesia, di mana universitas tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung erat dengan kebutuhan industri dan pemerintah daerah. Ini memberikan nilai tambah nyata bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, jumlah mahasiswa Korea Selatan di Indonesia diperkirakan sekitar 700–1.000 mahasiswa. Amaliah melihat adanya potensi peningkatan. “Minat terhadap Indonesia mulai tumbuh, terutama pada studi bahasa, budaya, dan ekonomi kawasan. Tantangannya adalah bagaimana kita mengemas Indonesia sebagai destinasi akademik yang kompetitif secara global,” ujarnya.

Jepang: Kolaborasi Riset dan Model Triple Helix

Kerja sama pendidikan Indonesia–Jepang telah berlangsung lama dan terus berkembang. Saat ini, jumlah mahasiswa Indonesia di Jepang diperkirakan mencapai 6.000–7.000 orang, menjadikan Jepang salah satu tujuan utama studi di Asia.

Atdikbud KBRI Tokyo, Amzul Arifin, menekankan kekuatan Jepang pada kolaborasi riset. “Keunggulan Jepang terletak pada integrasi antara universitas, industri, dan pemerintah. Ini menciptakan ekosistem riset yang sangat kondusif dan terbuka untuk kolaborasi internasional, termasuk bagi peneliti Indonesia,” ungkapnya.

.

Sebaliknya, jumlah mahasiswa Jepang di Indonesia masih relatif kecil, yakni sekitar 300–600 mahasiswa. Menurut Amzul, hal ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih proaktif. “Kita perlu memperkuat promosi akademik Indonesia, tidak hanya sebagai destinasi studi budaya, tetapi juga sebagai mitra riset yang relevan dalam isu-isu global seperti keberlanjutan dan transformasi digital,” tambahnya.

Pendanaan riset di Jepang sendiri didukung oleh lembaga seperti Japan Society for the Promotion of Science, Japan Science and Technology Agency, dan New Energy and Industrial Technology Development Organization.

Diplomasi Pendidikan Dua Arah sebagai Strategi Geopolitik Talenta

Data mobilitas mahasiswa menunjukkan bahwa diplomasi pendidikan Indonesia di Asia Timur masih didominasi oleh arus keluar, sementara arus masuk relatif terbatas. Kondisi ini mencerminkan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pengetahuan regional.

Ke depan, strategi diplomasi pendidikan perlu diarahkan pada pendekatan dua arah—tidak hanya mengirim mahasiswa ke luar negeri, tetapi juga menarik mahasiswa internasional ke Indonesia. Dalam konteks persaingan global atas talenta, langkah ini menjadi krusial untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi juga produsen dalam ekosistem global.

(Kontributor : Arif)

Berita Terkait