Dua Patriot Senior Pilih Mengabdi untuk Menjadikan Kawasan Transmigrasi sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru
Klikwarta.com, Jakarta - Ketika ribuan anak muda bersiap mengikuti Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, dua peserta dengan usia lebih dari setengah abad justru hadir membawa pesan berbeda. Bagi Erick V. Gumulya (56) dari Jayapura dan Nurjiantoro (54) dari Sorong, usia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Mereka memilih kembali turun ke lapangan demi satu tujuan mulia, yaitu membantu menjadikan kawasan transmigrasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Keduanya akan bertugas di lokus kawasan transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, bersama peserta lintas disiplin ilmu dari berbagai perguruan tinggi. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa Program Transmigrasi Patriot tidak hanya mempertemukan energi generasi muda, tetapi juga memadukannya dengan pengalaman panjang para peserta senior untuk melahirkan solusi pembangunan yang lebih matang dan berkelanjutan.
Bagi Erick, keputusan bergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot lahir dari keinginannya menjawab tantangan besar membangun kawasan transmigrasi menjadi kawasan yang masyarakatnya hidup lebih sejahtera. Menurut alumnus Institut Teknologi Indonesia itu, kemajuan sebuah wilayah tidak selalu ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam, tetapi oleh kemampuan masyarakat mengelola peluang yang dimiliki secara bersama.
“Kekayaan sebuah kawasan tidak selalu lahir dari sumber daya yang melimpah, tetapi dari kemampuan masyarakat melihat peluang dan mengelola potensi yang mereka miliki secara bersama-sama,” ujar Erick dalam keterangannya, Rabu (29/7).
Ia menilai banyak desa di Indonesia telah membuktikan hal tersebut. Desa-desa seperti Kutuh di Bali, Ponggok di Jawa Tengah, Kasongan di Yogyakarta, hingga Pujon Kidul di Jawa Timur mampu berkembang karena berhasil mengelola potensi lokal melalui pariwisata, hasil laut, industri kreatif, maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Menurutnya, kawasan transmigrasi memiliki peluang yang sama untuk tumbuh apabila potensi yang dimiliki dipetakan dan dikembangkan secara tepat.
Pengalaman bertugas di daerah selama satu tahun membuat Erick tidak khawatir menghadapi berbagai tantangan selama penugasan. Baginya, keterbatasan fasilitas bukanlah hambatan selama mampu beradaptasi dengan lingkungan dan menjaga semangat bekerja bersama masyarakat.
“Saya pernah bertugas di daerah selama setahun. Kuncinya adalah bisa beradaptasi, bekerja sama dengan lingkungan sekitar, konsisten, dan sabar,” katanya.
Selama mengikuti Tim Ekspedisi Patriot, Erick ingin membantu melakukan pemetaan menyeluruh terhadap potensi kawasan transmigrasi, mulai dari sektor pertanian, hasil laut, pariwisata, hingga industri kreatif. Menurutnya, pemetaan tersebut perlu dibarengi dengan pendataan mata pencaharian setiap keluarga agar program pemberdayaan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan mampu menciptakan sumber-sumber ekonomi baru dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
“Libatkan masyarakat melalui pelatihan dalam setiap proyek yang dijalankan. Anggota Tim Ekspedisi Patriot juga harus belajar memanajemen proyek sehingga pembangunan benar-benar berkelanjutan,” ungkapnya.
Meski menjadi salah satu peserta paling senior, Erick sama sekali tidak merasa canggung bekerja bersama peserta yang usianya puluhan tahun lebih muda. Justru sebaliknya, ia memandang kolaborasi lintas generasi sebagai kekuatan utama dalam membangun kawasan transmigrasi.
“Saya bisa belajar dari yang muda juga. Yang penting setiap individu menjaga kerja sama, tanggung jawab, kejujuran, toleransi, dan saling menghargai,” tuturnya.
Semangat yang sama juga dibawa Nurjiantoro. Sebagai seorang pendidik, ia memandang ruang kelas bukanlah satu-satunya tempat untuk mengajar. Baginya, ilmu pengetahuan akan jauh lebih bermakna ketika diterapkan langsung di tengah masyarakat dan mampu menghadirkan perubahan yang nyata.
“Menjadi seorang pendidik bukan sekadar mengajar di ruang kelas, melainkan menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Nurjiantoro.
Menurutnya, Tim Ekspedisi Patriot merupakan ruang pengabdian yang mempertemukan semangat generasi muda, ilmu pengetahuan, serta kebutuhan masyarakat dalam satu gerakan bersama. Karena itu, ia ingin mendorong lahirnya sinergi antara masyarakat transmigrasi dan masyarakat lokal melalui semangat gotong royong, saling belajar, dan berbagi pengalaman.
Di Klamono, Nurjiantoro melihat peluang besar untuk memperkuat sektor pertanian. Salah satu gagasan yang ingin ia dorong adalah pengembangan Bank Benih Lokal agar petani tidak terus bergantung pada benih dari luar daerah, sekaligus memperkuat kemandirian pangan masyarakat.
“Pengembangan Bank Benih Lokal menjadi solusi strategis untuk memastikan keberlanjutan produksi pertanian sekaligus menjaga keberagaman sumber daya genetik tanaman lokal,” jelasnya.
Berbekal pengalaman sebagai pendidik, koordinator lapangan, dan pendamping masyarakat, Nurjiantoro ingin membangun proses belajar yang berlangsung dua arah. Ia ingin berbagi pengalaman dalam analisis lapangan, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan program, sekaligus menyerap semangat inovasi yang dimiliki generasi muda.
“Saya siap membagikan pengalaman kepada rekan-rekan muda, tetapi saya juga ingin belajar dari semangat dan sudut pandang baru mereka. Kolaborasi antara kematangan strategi dan kelincahan eksekusi akan menghasilkan perubahan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Nurjiantoro meyakini Tim Ekspedisi Patriot akan menjadi katalisator pembangunan kawasan transmigrasi melalui knowledge spillover, pendampingan, dan inovasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Dengan memperkuat kapasitas masyarakat di bidang pertanian, pendidikan, kewirausahaan, dan pengelolaan potensi lokal, kawasan transmigrasi diyakini akan semakin produktif, mandiri, dan memiliki daya saing.
“Program Transmigrasi Patriot merupakan langkah strategis pemerintah untuk mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi melalui keterlibatan generasi muda. Saya yakin kawasan transmigrasi dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Nurjiantoro.
Kisah Erick dan Nurjiantoro menunjukkan bahwa pengabdian tidak pernah dibatasi oleh usia. Ketika pengalaman berpadu dengan semangat generasi muda, lahirlah kekuatan baru untuk membangun Indonesia dari kawasan transmigrasi. Dari Klamono–Segun, keduanya membawa harapan bahwa transformasi transmigrasi bukan sekadar program pembangunan, melainkan gerakan bersama untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tumbuh dari potensi masyarakatnya sendiri. (**)








