Wamen KKP Ajak Muhammadiyah Bangun Peradaban Biru Indonesia

Sabtu, 24/10/2026 - 22:41
Wamen KKP Irwan Meilano

Wamen KKP Irwan Meilano

Klikwarta.com, Solo -  Universitas serta para guru besar dan dosen selalu dipandang sebagai rujukan utama bagi pemerintah untuk berkonsultasi, baik dalam meminta arahan maupun nasihat terkait jalannya roda pemerintahan.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen KKP) RI Irwan Meilano dalam Sidang Senat Terbuka Upacara Hari Jadi ke-68 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, pada Sabtu (24/10).

Di awal pemaparannya, Irwan menukil Q.S. An-Nahl ayat 14 tentang nikmat Allah SWT yang menundukkan lautan bagi manusia agar bisa dimanfaatkan untuk sumber makanan, perhiasan, sarana transportasi, serta mencari karunia-Nya.

Selain itu, makna ayat tersebut bagi Irwan juga penting untuk diimplementasikan dalam menjaga keberlanjutannya. Salah satunya yakni UMS, yang dianggap mampu menjaga proses tersebut.

“UMS di usianya yang ke-68, akan terus menjadi bagian dari proses menjaga keberlanjutan tersebut,” ujar Irwan.

Dalam pemaparannya, Irwan menilik sejarah kelautan nusantara yang sebenarnya sudah berlayar melanglang buana. Menurutnya, sebab sejarah itu penting untuk dibangkitkan kembali dengan menamakannya sebagai Peradaban Biru.

“Yang pernah ada, harus bangkit kembali,” sebut Irwan.

Irwan mengisahkan pengalaman dahulu dari pelaut Makassar yang berlayar ke Australia Utara hanya untuk mencari teripang yang kemudian dipasok ke pasar Tiongkok.

Pentingnya membangun Peradaban Biru bagi Irwan, beriringan dengan jumlah penduduk dunia yang terus menambah namun lahan di daratan seperti sawah sebagai kebutuhan pangan semakin menyusut dari tahun ketahun.

“Kita harus mengingat kejayaan Indonesia di tahun 1700, yaitu pangan yang berasal dari laut, atau kita sebut sebagai pangan biru,” lanjut Irwan.

Untuk mengupayakan Peradaban Biru, Irwan menyebut perlunya sinergi antara pemerintahan dan tiap pihak, seperti UMS dan jamaah nelayan Muhammadiyah (JALAMU) yang dirintis Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. 

Ia mengutip pembelajaran Al-Maun dari Kiai Ahmad Dahlan yang memaknai kemajuan ketika kebermanfaatannya dirasakan langsung oleh kaum lemah.

“Dan dalam hal ini, nelayan adalah kaum lemah dan paling miskin di Indonesia,” jelas Irwan.

Menyinggung sinergitas, Irwan menawarkan kolaborasi dari salah satu bentuk pembangunan Peradaban Biru oleh Pemerintah yakni Kampung Nelayan Merah Putih. Irwan menilai UMS sangat relevan jika disertakan dalam kerja sama.

“Ada berbagai macam prodi, kkn tematik, tim kesehatan. Kita bisa bekerja sama banyak sekali, jadikan seribu kampung nelayan ini sebagai laboratorium,” ujar Irwan.

Di akhir pemaparannya, Irwan kembali mengajak tiap pihak untuk berkenan bekerja sama guna membangun Peradaban Biru yang berkelanjutan. Menurutnya kolaborasi adalah suatu keniscayaan.

“Dengan kolaborasi yang lebih kuat, kita akan bangun kembali Peradaban Biru Indonesia,” pungkas Irwan.

(Kontributor : Arif)

Berita Terkait