Semarak FLS3N Dikmen 2026, Kemendikdasmen Apresiasi Karya Hebat Murid Indonesia

Senin, 12/10/2026 - 20:46
Semarak FLS3N Dikmen 2026, Kemendikdasmen Apresiasi Karya Hebat Murid Indonesia

Semarak FLS3N Dikmen 2026, Kemendikdasmen Apresiasi Karya Hebat Murid Indonesia

Klikwarta.com, Jakarta - Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Jenjang Pendidikan Menengah Tingkat Nasional tahun 2026 secara resmi telah ditutup. Ajang festival ini telah berhasil menampilkan karya-karya terbaik bidang seni dan sastra murid berprestasi  jenjang pendidikan menengah dari seluruh pelosok Indonesia.

Pada acara penutupan dan penganugerahan FLS3N Dikmen 2026, Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Maria Veronica Irene Herdjiono, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para peserta yang telah terpilih mewakili daerahnya masing-masing sebagai finalis FLS3N tingkat nasional.

Ia mengungkapkan para murid sudah bekerja keras mengikuti proses kompetisi dan berhasil menampilkan karya terbaiknya. “Bagi yang menang, terus tingkatkan kemampuan diri. Bagi yang belum berhasil, jangan berkecil hati karena kesempatan untuk berprestasi akan selalu terbuka luas,” ujar Irene di Jakarta, Jumat (9/10).

Irene menekankan para murid agar selepas kompetisi ini tidak berhenti berkarya dan terus meningkatkan kemampuan diri. Pengalaman mengikuti FLS3N ini diharapkan dapat menjadi motivasi untuk selalu mengembangkan kreativitas dan potensi yang dimiliki. Hal ini ia nilai penting agar prestasi mereka bisa menginspirasi dan memotivasi murid di Indonesia untuk mengikuti jejak dan menghasilkan karya di bidang seni dan sastra.

“Kepada adik-adik, selalu berusaha untuk berprestasi karena setiap talenta akan memiliki arti dan setiap karya dapat memberikan dampak dan inspirasi bagi negeri,” tutup Irene.

Rangkaian FLS3N Dikmen 2026 mencakup enam belas cabang ajang, yaitu Baca Puisi, Cipta Lagu, Cipta Puisi, Desain Poster, Film Pendek, Fotografi, Instrumen Solo Gitar, Jurnalistik, Kreativitas Musik Tradisi, Kriya, Komik Digital, Menulis Cerita Pendek, Menyanyi Solo Putra, Menyanyi Solo Putri, Monolog, dan Tari Kreasi.

Syarifah Nayla dari SMKN 1 Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, yang berhasil mendapatkan juara 1 cabang ajang Komik Digital mengungkapkan rasa syukur dan senangnya. Ia mengaku perjalanan menuju tingkat nasional terasa sulit dan menantang. Namun, dari keadaan seperti itulah dirinya belajar untuk bekerja lebih keras meningkatkan kemampuan.

“Alhamdulillah, saya lolos ke tingkat nasional dan bertemu dengan teman-teman hebat dari seluruh Indonesia. Setiap tingkat ajang memiliki kesulitan yang makin tinggi tapi itu membuat saya terus upgrade skill”, ujar Nayla.

Nayla menambahkan, dalam proses pembuatan produk, ia tetap menghadapi banyak tantangan, salah satunya adalah ketika ia mengalami kebuntuan dalam mengembangkan ide sehingga sulit menuangkannya ke dalam sebuah karya. Tapi, dengan bantuan guru pembimbing dan motivasi dari teman-teman, Nayla sanggup melewati semuanya.

“Oleh karena itu, persiapan ide lalu perencanaan dilakukan dengan matang sehingga bisa dikerjakan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan,” tambahnya.

Tak hanya itu, Nayla mengungkapkan pelajaran terbesar yang ia dapat dari mengikuti FLS3N ini adalah proses yang dilalui lebih penting daripada sekadar menjadi juara. Disiplin, pantang menyerah, menerima kritik, dan berani percaya diri dengan karya sendiri adalah modal utama. Menurutnya, untuk menjadi juara harus dimulai dari nol sehingga jangan takut untuk memulai dan teruslah berkarya. “Jangan berhenti di tengah jalan, kegagalan bukan akhir segalanya, dan kalian semua pasti bisa,” ujar Nayla memberi pesan.

Daffa Haikal, murid SMKS Informatika Al Irsyad Al Islamiyah, Jawa Barat, yang terpilih menjadi juara 1 bidang Fotografi, mengungkapkan perasaan yang sama. “Saya sangat bersyukur hasil kerja keras saya terpilih menjadi juara 1,” kata Daffa.

Daffa mengatakan tidak mudah untuk menghasilkan foto yang bagus. Ide dan lokasi pemotretan sangat penting. Keduanya harus sejalan dan bisa saling melengkapi. Beruntung, dengan bantuan sang ibunda, Daffa menemukan sebuah lokasi pemotretan yaitu sebuah sentra pembuatan emping melinjo.

Selain itu, Daffa mengaku sempat merasa tidak percaya diri melihat perlengkapan fotografi peserta lain yang lebih canggih dan mahal ketika mengikuti ajang tingkat provinsi di Bandung. Ternyata, ungkap Daffa, yang menjadikan sebuah foto itu bagus tidak ditentukan oleh kecanggihan kamera tapi oleh hasil jepretan apa pun perangkatnya. Selain itu, rasa percaya diri dan semangat yang tinggi juga menjadi modal utama di samping terus belajar dan berlatih memotret.

Hendhy Nansha, yang menjadi juri cabang ajang Kriya FLS3N Dikmen, mengatakan proses penjurian berjalan dengan lancar. Ia menganggap semua peserta adalah para juara karena tidak mudah untuk bisa sampai ke tingkat nasional tanpa menjuarai ajang tingkat sebelumnya.

Ia berpesan kepada calon peserta FLS3N tahun depan untuk mempersiapkan diri dengan baik, berlatih, dan belajar dari pengalaman peserta yang menjadi juara tahun ini. “Belajarlah dari para juara, berpikir kreatif, bekerja dengan tekun dan rapi, perhatikan setiap detail kecil, tingkatkan selera dengan melihat banyak referensi,” ungkap Hendhy menutup percakapan. (**) 

Berita Terkait