Esai, Hasil Seperti Apa yang Mau Aku Capai?

Senin, 10/07/2023 - 20:10
Sumber Foto : Hipwee

Sumber Foto : Hipwee

Oleh : Nadiyah Aulia

Klikwarta.com - Dalam kehidupan manusia tidak luput dari hal-hal yang diimpikan atau didambakan, semuanya melalui proses yang cukup panjang, lalu berakhir menyedihkan atau membahagiakan itu tergantung pada sudut pandang dan penerimaan dalam diri manusia itu sendiri.

Ada sebuah pepatah yang cukup terkenal, yang mengatakan bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil, dulu pepatah itu aku pegang teguh sebab proses yang sungguh-sungguh bukankah memang tidak akan mengkhianati hasil atau berujung mengecewakan. Aku percaya pepatah itu karena aku mengalaminya sendiri, dulu apapun yang aku inginkan rasanya mudah sekali untuk didapatkan terutama dalam hal prestasi.

Semuanya berakhir bahagia seperti yang aku inginkan. Namun, semakin beranjak dewasa sedikit demi sedikit kata-kata yang aku yakini dengan sungguh-sungguh itu, aku mulai meragukannya karena beberapa peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Proses yang katanya tidak akan mengkhianati hasil itu hanya sebuah kebohongan belaka. Aku sudah berusaha keras untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, tapi itu sia-sia dan tidak ada artinya, nyatanya aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan. Jadi, apakah benar proses itu tidak akan mengkhianati hasil? Apakah keberhasilan itu selalu ada campur tangan takdir? Atau usahaku kurang keras?.

Entahlah, sampai saat ini aku masih berusaha untuk mencari dan terus mencari kebenaran dari pepatah itu. Pernah suatu ketika aku mengeluh pada Ibuku, “Capek belajar terus, toh hasilnya begitu-begitu saja, sia-sia, nggak memuaskan. Padahal dulu enggak begitu.” keluhku dengan menggebu-gebu

Ibuku menghela nafas lantas menjawab, “Nggak ada yang sia-sia nduk, kalau dulu hasilnya selalu sesuai sama yang kamu inginkan bukan berarti selamanya terus seperti itu. Hidup itu ada naik turunnya, barangkali sekarang Gusti Allah sedang mengujimu nduk. Yang namanya manusia itu pasti melewati masa-masa pendewasaan, seperti kamu sekarang ini. Nggak selamanya yang kamu mau itu harus selalu dituruti, mungkin Allah mau kamu berpikir nduk, kalau semua yang ada di dunia ini pasti ada campur tangan Tuhan. 

Kamu juga nggak boleh lupa harus selalu melibatkan Allah dalam setiap urusan, mau kamu berusaha sekeras apapun, kalau Allah belum mau kasih ya Allah nggak akan kasih. Ikhtiar boleh tapi doa juga jangan lupa,” jelas Ibuku panjang lebar, khas seperti orangtua pada umumnya.

Namun, setelah Ibuku selesai bicara aku diam saja. Seolah tertampar dengan kata-kata yang Ibuku lontarkan barusan. Entahlah, hati dan pikiranku kalut antara membenarkan atau menyanggah perkataan Ibuku. Setelah merenungkan semuanya, aku mendapatkan jawaban yang setidaknya cukup membuatku tenang.

Benar yang Ibu katakan, ya pada akhirnya aku membenarkan perkataannya. Dari situ aku mulai berpikir, sebenarnya hasil seperti apa yang mau aku capai? Bukankah manusia itu memang makhluk yang tidak pernah puas, setelah prestasi “a” tercapai aku ingin mengejar prestasi “b” juga, lantas mau sampai mana aku mengejar. Kalau bukan karena tuhan, aku bukan apa-apa. Pada dasarnya manusia hanya makhluk lemah, segala takdirnya tidak terlepas dari campur tangan tuhan.

Mau bagaimanapun proses yang dilalui, kalau belum waktunya Tuhan mengiyakan aku bisa apa? Takdir Tuhan itu bersifat rahasia, barangkali apa yang terjadi sekarang ini adalah yang terbaik menurut Tuhan. Namun, bukan berarti aku berputus-asa lantas menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi, bukankah Sang Pencipta lebih tahu apa yang paling dibutuhkan untuk ciptaan-Nya. Tugas manusia hanya terus berusaha dan berdoa, untuk hasil akhir Tuhan yang paling tahu dan berhak memutuskan.

Tags

Berita Terkait