Menjadi Generasi Muda Multikultural di Era Globalisasi

Minggu, 20/11/2022 - 13:43
Generasi Muda

Generasi Muda

Oleh: Dina Rahayu Natalia (Prodi Manajemen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang)

Menurut Azyumardi Azra (2007), Multikulturalisme adalah serangkaian pandangan sekaligus pedoman hidup yang mengedepankan kebersamaan atas asas berbedaan, baik perbedaan agama, politik, sampai dengan perbedaan suku bangsa. Atau dapat diartikan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan dan hingga tingkatan ekonomi yang tidak setara antar masyarakat.

Apalagi di era globalisasi ini masyarakat harusnya semakin menjujung tinggi multikultural dalam kehidupan, karena banyak sekali dampak-dampak negative di era globalisasi.

Saat ini yang menjadi masalah di Indonesia sendiri adalah kurangnya sikap multikultural dalam kehidupan berbangsa apalagi banyaknya dampak negative dari gobalisasi yang semakin menyerang dan merajalela di Negara Indonesia. Tidak disadari banyak sekali masyarakat yang terbawa arus negative di era globalisasi.

  1. Pengaruh budaya asing di negara sendiri

Sering kali kita menemui pengaruh-pengaruh budaya asing yang masuk ke Indonesia, contohnya saja fashion kebarat-baratan atau saat ini yang lagi marak-maraknya adalah makanan, fashion, selera musik bahkan gaya hidup di Korea Selatan. Peran kita sebagai generasi muda disini adalah meminimalisir masuknya budaya asing ke Indonesia dengan cara membeli pakaian dengan brend lokal dan bangga mengenakannyan. Bisa juga dengan memakan dan menyukai makanan-makanan tradisonal di Indonesia. Serta melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia, karena kita tau apa yang dimiliki oleh negara Indonesia tidak kalah keren dengan negara lain.

  1. Perubahan kebiasaan

Perubahan kebiasaan atau sering disebut perubahan prilaku adalah adalah cara bertindak yang menunjukkan tingkah laku seseorang dan merupakan hasil kombinasi antara pengembangan anatomis, fisiologis dan psikologis (Kast dan Rosenweig, 1995). Pasti diera gobaliasi banyak sekali akibat-akibat dari dampak prilaku negative oleh masyarakat luas. Kita sebagai generasi milenial harus ambil peran dalam menagurangi dampak negatif di era globalisasi. Banyak hal yang dapat kita lalukan didalam lingkungan masyarakat, semua hanya tergantung dari kemauan kita apakah kita siap untuk melakukan pencehagan itu.

Ada tiga komponen yang mempengaruhi prilaku manusia, itu sebuah dasar yang bias kita ambil dalam menindaki prilaku negative masyarakat diera globalisasi. Yang pertama adalah Komponen kognitif merupakan aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia. Dari situ kita biasa memelakukan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang apa saja dampak-dampak negatif di era gobalisasi agar masyarakat tahu dan memahami koodisi itu. Dan akhirnya masyarakat bisa melakukan pencegahan pada diri mereka sendiri.

Yang kedua adalah Komponen afektif merupakan aspek emosional. Dimana masyarakat menujukan reaksi terhadap sesorang atau kejadian yang terjadi. Peran kita sebagai generasi muda dapat dilakukan dengan cara memperi contoh pencegahan dampak negative di era globalisasi. Salah satu cotohnya adalah bagaimana kita bisa menjalankan norma-norma yang berlaku di Indonesia tanpa adanya pelanggaran

Yang terakhir adalah Komponen konatif adalah aspek volisional yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Dimana kita bisa terfokus pada kebiasaan dan tindakan sehari-hari kita. Salah satu cotohnya adalah dengan cara hidup sehari-hari yang didalamnya menjadikan Pancasila sebagar dasar dalam kehidupan masyarakat. Bila kita melakukan hal-hal itu maka keterbiasaan tersebut bisa menjadi sebuah kebiasaan.

  1. Terjadinya ketimpangan social

Ketimpangan sosial adalah kondisi dimana terdapat ketakseimbangan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya, karena perbedaan status sosial, ekonomi maupun budaya.

Cara untuk mengatasi perbedaan agama, suku, adat, dan ras bisa menggunakan beberapa upaya. Upaya yang dapat dilakukan adalah membentuk negara yag multikatular dimana masyarakat diajarkan untuk saling menerapkan sikap toleransi antar anggota masyarakat tanpa memandang asal mereka, agama mereka atau keturunan apa mereka. Saling berbaur satu sama lain tanpa membeda-beakan apapun. Selain itu anak muda bisa menggunakan karang taruna sebagai alat untuk menghilangkan perbedaan dilingkungan tersebut dengan cara membuat program pengapdian kepada masyarakat.

Didalam kehidupan masyarakat pasti ada dampak-dampak positif dan negatif dari gobalisasi. Karena hal tersebut masyarakat perlu adanya upaya-upaya untuk meminimalisir terjadinya dampak negatif dari globaliasi. Salah satu yang paling berpengaruh besar adalah membentuk masyarakat yang multikatural. Hal ini merupakan peran besar generasi milenial untuk mewujudkan masyarakat multikultural guna mencegah dan mengurangi dampak globalisasi.

Berita Terkait