Tampak dari dalam rumah keluarga balita La Fatin kurang gizi dusun Ulusadar desa Waesala kecamatan Huamual Belakang Kabupaten Seram Bagian Barat Provisi Maluku.
Klikwarta.com, SBB-Maluku - Salah satu rumah warga Dusun Ulusadar, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku terlihat kumuh dan porak-poranda jauh dari kata layak huni dan sungguh memprihatinkan dengan dinding rumahnya terbuat dari gaba pohon sagu dan berlantai papan.
Rumah yang jauh dari kata layak huni itu milik balita kurang gizi bernama Fathin anak dari pasangan keluarga La Bondo dan Wa Nur In yang dibangun di atas rawa-rawa pada tahun 2013.
La Bondo dan Wa Nur In dan satu anaknya La Fathin sudah lama mendiami rumah gantung yang memprihatinkan jauh dari kata layak huni itu.
Wa Nur In kepada media ini mengatakan rumahnya di bangun dari tahun 2013 dan sampai sekarang sudah banyak mengalami kerusakan parah di dinding rumah yang terbuat dari gaba pohon sagu dan tiang penyangga rumah bagian tengah sudah patah.
"Kami merasa takut sekali, jika sudah datang angin, hujan kuat dan rumah ini bergoyang serta rumah ini sudah miring ke arah bagian kiri," ungkapnya.
Ditambahkanya, jika derasnya hujan maka air menembus dan masuk kedalam rumah melalui dinding rumah dan kami hanya punya satu rumah ini. "Kami sekeluarga mau lari kemana lagi dan kami tak punya apa-apa selain rumah ini," jelasnya.
Ditanyakan soal penghasilan suaminya, "Suami saya (La Bondo) bekerja sebagai nelayan dan berkebun. Untuk pendapatan suami sebagai nelayan dengan hasil Rp 10.000 dan terkadang capai Rp 17.000 per hari. Hanya itu sebatas penghasilan suami saya, dan belum dapat hasil sampai Rp 50.000 dalam sehari dan itu belum mencukupi kebutuhan sehari-hari kami sekelurga", ungkapnya.
Untuk bantuan rumah layak huni, belum ada sentuhan dari Pemerintah Daerah Kabupaten SBB untuk rumah layak huni itu sendiri. Tapi kalau bantuan berupa satu unit WC dari dinas Kesehatan sudah ada tapi belum dilengkapi dengan lampu dan airnya belum dipasang.
"Saya tidak punya uang, penghasilan suami saja tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dari mana uang untuk kabel dan beli pipa untuk perbaiki WC bantuan itu", cetusnya.
"Harapan saya kepada Pemerintah agar bisa melihat kondisi saya dan keluarga saat ini sesuai dengan kondisi yang kami alami dan dapat membantu untuk mendapatkan bantuan rumah layak huni. Kami orang tidak mampu dari segi ekonomi, penghasilan pas-pasan, sekali lagi saya berharap ada bantuan dari Pemerintah Daerah Kabupaten SBB", sambungnya menandaskan. (MFS)








