Budaya Membaca yang Kian Menipis di Indonesia

Selasa, 21/06/2022 - 15:06
Ilustrasi Perpustakaan – Sumber : pexels.com

Ilustrasi Perpustakaan – Sumber : pexels.com

Oleh: Najwa Avifah Octavia

Matahari telah terbit di ufuk timur. Sebuah kilau cahaya memasuki kamarku melalui jendela. Berat rasanya untuk bangun dari kasur ini. Hari libur menjadi faktor pendukung untuk tetap beristirahat dari segala kegiatan. Teringat akan tugas yang mengharuskan pergi ke perpustakaan nasional, akhirnya saya bergegas ke kamar mandi. Telah usai saya beriap-siap dan saya melanjutkan perjalanan ke perpustakaan nasional.

Dalam perjalanan ke perpustakaan nasional aku menggunakan KRL. Terlihat banyak sekali insan manusia yang sibuk akan kegiatannya. Ada yang tertidur untuk sekejap istirahat, bermain gawai dan melihat pemandangan sekitar rel kereta. Teringat akan tujuan ku ke perpustakaan, ada lintasan kecil mengenai negara Jepang. Negara Jepang yang bisa dikatakan negara yang literasi membacanya cukup tinggi.

Sampai tujuan ku di salah satu stasiun yang berada di Ibu Kota. Saat berjalan kaki menuju perpustakaan, ku lihat sekelilingku banyak manusia yang hanya bermain games saat mengisi waktu luang, tidak jarang manusia mengisi waktu senggangnya dengan membaca. Produk media cetak yang kini telah dimakan oleh waktu seiring perkembangan zaman.  Lihat saja sekarang penjual koran yang jarang pembelinya, begitulah sekarang nasib penjual koran tersebut.

Ku meghembuskan nafas dalam-dalam menghirup udara yang cukup berpolusi di Ibu kota. Di dalam hati berkata ingin rasanya kembali ke masa kecilku. Masa kecil yang masih senang ceria bersama teman-teman tanpa adanya alat tekologi canggih seperti masa kini. Bermain permainan tradisional, mencoba sesuatu hal yang baru dengan berpetualang dan yang paling ku suka adalah menikmati membaca buku di perpustakaan mobil keliling.

Mobil perpustakaan ini sangat digemari oleh aku dan teman-temanku. Dahulu setiap hari setelah pulang sekolah aku selalu bersiap-siap menuggu perpustakaan keliling tersebut. Perpustakaan keliling yang selalu tiba pukul tiga sore hingga lima sore. Banyak sekali buku-buku yang terdapat di dalam perpustakaan tersebut.  Hingga waktu semakin larut aku dan teman- teman masih menikmati bermain dan membaca di perpustakaan keliling tersebut.

Itulah sepenggal cerita masa kecil ku. Ada rasa sedih kini di dalam hati ku. Mengapa sekarang tidak ada lagi perpustakaan keliling tersebut. Bisa dikatakan perpustakaan keliling itu terdapat beribu-ribu hal yang positif. Mengajarkan kita untuk membaca sejak dini agar terbiasa ketika dewasa. Banyak ilmu yang didapat dan kebersamaan dengan teman-teman saat mencari ilmu.

Entah faktor apa yang membuat sumber daya manusia di negara Indonesia ini memiliki minat membaca yang sedikit. Apakah mungkin kita sudah sangat terbuai akan teknologi ? apa fasilitas yang kurang mendukung? atau diri kita yang malas untuk mencoba ??. Bisa kusimpulkan bahwa diri inilah yang malas meluangkan waktu. Keterbiasaan akan teknologi yang canggih adalah salah satu faktor mempengaruhi minat membaca yang sedikit.

Satu keinginan ku untuk negara Indonesia. Tidak muluk-muluk hanya saja aku ingin negara Indonesia menjadi negara yang kualitas pendidikannya bagus. Bisa kita contoh negara Jepang, Belanda, Finlandia, dan Swedia. Negara tersebut negara yang cukup maju, sumber daya manusia yang berkualitas menciptakan negara yang berkembang dan SDM yang berkompeten.

Negara seperti Jepang, Belanda, Finlandia, dan Swedia adalah negara yang sukses. Tidak hanya itu negara tersebut merupakan negara yang memiliki minat membaca yang tinggi. Kita bisa meniru negara tersebut dari sisi literasi membaca yang sangat diminati. Berawal dari membaca kita mendapatkan ilmu pengetahuan. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah manusia yang memiliki banyak ilmu. Dari sumber daya manusia berkualitas kita dapat mendorong negara Indonesia menjadi negara maju.

Keberlangsungan hidup negara ada ditangan kita. Ilmu adalah kunci dari segala kesuksesan. Dengan membaca maka kita mendapatkan sebuah ilmu. Seperti pepatah mengatakan, buku adalah jendela dunia. Sengat penting buku selalu kita baca dan dipelajari agar tidak tertinggal jauh dari segala informasi dan pengetahuan yang ada di dunia ini.

Berita Terkait