Ketahui Faktor Obesitas pada Remaja

Selasa, 19/07/2022 - 12:25
Ilustrasi obesitas pada remaja. Sumber foto: Unsplash.com/Priscilla Du Preez

Ilustrasi obesitas pada remaja. Sumber foto: Unsplash.com/Priscilla Du Preez

Oleh: Faqihah Husnul Khatimah (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Usia remaja rentan gizi lebih sehingga mengalami obesitas. Sebenarnya, faktor apa, ya, yang menyebabkan obesitas pada remaja?

Pertumbuhan fisik pada remaja memerlukan asupan gizi yang lebih tinggi. Namun, kelebihan gizi juga tidak bagus. Tanda kelebihan gizi di antaranya berat badan naik karena penimbunan lemak.

Studi yang ditulis Weni Kurdanti dkk di Jurnal Gizi Klinik Indonesia melaporkan rata-rata obesitas paling banyak dialami remaja usia 16 tahun. Data penelitian ini diambil dari sampel semua siswa-siswi SMA kelas X dan XI di Yogyakarta. Dari penelitian ini diperoleh beberapa faktor penyebab obesitas pada remaja.

Asupan energi

Konsumsi makanan energi tinggi ternyata meningkatkan risiko obesitas, lho. Rata-rata remaja obesitas mengonsumsi nasi 3 kali sehari, mie instan, nasi merah, kentang, singkong, dan ketela dengan intensitas tinggi. Jajan cilok, batagor, mie ayam, dan bakso waktu jam istirahat makan siang juga sebaiknya dikurangi untuk membatasi asupan karbohidrat. Bukan tidak boleh, tetapi secukupnya saja, ya! Lebih baik perbanyak makan buah dan sayur untuk memenuhi kebutuhan serat dalam tubuh.

Konsumsi fast food

Menurut penelitian, kelompok obesitas mengaku minimal 1x/bulan dan maksimal 1x/minggu makan fast food.  Padahal, fast food menyumbang gula dan lemak yang tinggi. Selain itu, fast food rendah serat sehingga kurang baik untuk tubuh. Penelitian lain menunjukkan remaja yang sering mengonsumsi fast food memiliki risiko 3,28 kali gizi lebih. Yuk, kurangi makan fast food!

Sarapan pagi

Penelitian menemukan sebanyak 65,3% remaja obesitas tidak sarapan pagi. Sarapan sangat penting untuk memulai aktivitas. Melewatkan sarapan membuat tubuh merasa sangat lapar dan makan dalam porsi berlebih ketika makan siang. Hal ini malah cenderung menaikkan obesitas. Sejalan dengan penelitian di Amerika Serikat yang menyatakan remaja yang meninggalkan sarapan cenderung mengalami obesitas dibandingkan remaja yang sarapan.

Aktivitas fisik

Siapa yang sukanya rebahan? Rebahan atau bersantai memanglah sangat nikmat, tetapi tahukah kamu bahayanya?

Beberapa penelitian mengemukakan remaja yang mengalami obesitas cenderung banyak makan dan sedikit aktivitas. Kemungkinan menjadi obesitasnya sebesar 1,7 kali. Pembakaran energi tubuh bisa melalui aktivitas fisik. Misalnya, mengikuti kegiatan ekstakulikuler di sekolah maupun di luar sekolah. Aktivitas fisik selama 60 menit sudah cukup untuk menjaga berat badan.

Faktor psikologis

Baru-baru ini, terlihat beberapa kampanye yang menyuarakan "Big is Beautiful". Media massa berperan dalam menempatkan standar tubuh ideal setiap orang. Mulai banyak artis-artis yang memiliki berat badan lebih tampil di layar kaca. Hal ini meningkatkan motivasi positif bagi remaja obesitas bahwa memiliki badan besar tidaklah menjadi masalah. Tentu ini membawa opini positif tentang makna kecantikan yang mulai berubah. Bak dua mata koin, hal ini bisa menjadi positif dan negatif. Negatifnya, muncul pikiran bahwa tidak apa-apa makan banyak karena kecantikan terpancar dari dalam (inner beauty). Namun, dari segi kesehatan ini bisa berakibat buruk karena meningkatkan risiko obesitas di Indonesia.

Faktor genetik

Penelitian menyebutkan remaja yang memiliki orang tua obesitas berisiko lebih besar dibandingkan remaja yang orang tuanya tidak obesitas. Gaya hidup orang tua akan menular ke anak. Selain itu, genetik berperan dalam naiknya berat badan.

Obesitas harus dicegah sedari dini. Selain berbahaya bagi kesehatan, obesitas juga cenderung menyulitkan kehidupan. Remaja yang dalam masa pertumbuhan seharusnya diberi edukasi mengenai gaya hidup sehat. Edukasi bisa melalui sekolah, keluarga, maupun media sosial. Memperbaiki dan memperhatikan keseimbangan makanan sangat diperlukan.

Lawan obesitas untuk Indonesia lebih sehat! (fhk)

Berita Terkait