Ekspedisi Prasasti Selobrojo di Lereng Gunung Kawi

Minggu, 21/02/2021 - 22:08
Ekspedisi Prasasti Selobrojo di Lereng Gunung Kawi

Ekspedisi Prasasti Selobrojo di Lereng Gunung Kawi

Klikwarta.com, MALANG - Prasasti beraksara jawa kuno berukuran panjang 58 cm, tinggi 31 cm, dan tinggi batu polos (penambalan semen) 64 cm, dulunya utuh, lantaran sempat dicuri orang tak dikenal, bagian bawah tulisan kondisinya terpaksa ditambal semen, karena patah.

Prasasti tersebut terbuat dari andesit, dan lokasinya dikepung gunung dan bukit. Di timur ada Gunung Kawi, di timur ada Gunung Kelud, di utara ada bukit Dorowati, dan di selatan ada bukit Lakpayan.

Cak Hari, pemerhati budaya, menelusuri prasasti yang terletak di Dusun Selobrojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, minggu (21/2/2021). 

Untuk menuju lokasi, medan berat harus dilewati, dari jalanan berlumpur, berlobang, hingga dipenuhi bebatuan. Jalur tersebut memang bisa ditempuh kendaraan jenis trail, tetapi untuk melakukannya dibutuhkan skill dan kecermatan berkendara. 

Toming anak dari Mulyono, menunjukkan jalan menuju lokasi keberadaan prasasti Selobrojo. 3 unit kendaraan jenis trail meluncur dari menembus hutan yang masuk kawasan lereng Gunung Kawi.

"Prasasti ini berada di Dusun Selobrojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Prasasti terbuat dari batu andesit, dan dibawahnya ada bebatuan. Untuk menuju kesini, harus hati-hati, karena jalanan curam, berlumpur, berlobang, berbatu".

Kondisi prasasti Selobrojo terlihat terawat, bahkan ada bangunan permanen yang melindunginya. Didalam bangunan itu, prasasti diletakkan ditengah bebatuan, dan disekitarnya berlantai keramik.

Selain bangunan permanen, ada 2 patung sosok yang hingga kini masih misteri, lantaran si pembuatnya, Jumadi, meninggal dunia. Tak satupun warga yang mengetahui kedua sosok yang digambarkan Jumadi, lantaran semasa hidupnya tidak ada informasi apapun darinya.

Manam selaku pemelihara situs peninggalan peradaban masa lalu itu menceritakan, dulunya pernah ada orang tak dikenal mencuri prasasti tersebut. Namun, beberapa hari kemudian, prasasti itu kembali ditemukan tergeletak dalam kondisi patah atau rusak. 

Hingga saat ini, belum diketahui siapa orang yang pernah mencuri benda purbakala itu. Dari kejadian tersebut, warga melakukan pencegahan agar pencurian tidak terulang kembali.

"Dulu pernah ada yang mencurinya, sekitar 3 tahun lalu. Tapi, beberapa hari kemudian, prasasti ini dikembalikan, kondisinya patah, lalu oleh warga di semen, agar bisa tersambung".

Dikatakan Manam, lokasi prasasti Selobrojo dipugar sekitar 4 tahun lalu oleh warga. Pemugaran dilakukan atas inisiatif bersama untuk menjaga, sekaligus melestarikan peninggalan leluhur.

Ada yang menarik dari keberadaan prasasti Selobrojo ini, apabila kompas diletakkan didekatnya, jarumnya akan berputar arah tak menentu. Belum diketahui, fenomena ini bisa terjadi, lantaran bebatuan yang ada disekitar prasasti bukanlah batu yang mengandung magnet.

Menurut Mulyono, yang berprofesi penyewa peralatan dan perlengkapan pesta, sekaligus pemerhati budaya, mitos yang berkembang di dekat lokasi prasasti Selobrojo, ada tempat yang dulunya pernah menjadi pemandian Mahapatih Gajah Mada, dan lokasi itu dinamakan Talang Watu.

Benar tidaknya mitos tersebut, masih tanda tanya besar, lantaran tidak ada dokumen atau manuskrip apapun yang mengarah pada cerita turun temurun ini, terkait eksistensi Mahapatih Gajah Mada di lokasi itu pada masa lalu.

Dari pencarian informasi di lapangan, hingga saat ini belum diketahui pasti, tulisan yang ada pada prasasti Selobrojo ini menjelaskan apa atau menceritakan apa, serta pada masa pemerintahan siapa, prasasti ini ditulis maupun ditulis oleh siapa. Dikarenakan, prasasti Selobrojo belum tersentuh tangan-tangan para ahli yang bisa membaca tulisan aksara Jawa kuno. (dodik)

Berita Terkait