Perkuat Pendidikan dan Literasi, Kemendikdasmen Petakan Kemahiran Berbahasa Indonesia lebih Inklusif

Selasa, 23/06/2026 - 12:22
Kemendikdasmen Petakan Kemahiran Berbahasa Indonesia lebih Inklusif

Kemendikdasmen Petakan Kemahiran Berbahasa Indonesia lebih Inklusif

Klikwarta.comJakarta - Upaya memperkuat kualitas pendidikan, literasi, dan pembinaan kebahasaan di Indonesia kini semakin didukung oleh data yang terukur. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) terus memperluas pemetaan kemahiran berbahasa Indonesia melalui Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

 
Komitmen tersebut mengemuka dalam Diseminasi Nasional Kemahiran Berbahasa Indonesia yang digelar di Jakarta. Melalui kegiatan ini, Badan Bahasa mempublikasikan hasil UKBI Adaptif yang dirangkum dalam Buku Peta Kemahiran Berbahasa Indonesia, sebuah rujukan yang memotret tingkat kemahiran berbahasa masyarakat Indonesia secara nasional maupun provinsi.
 
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa hasil UKBI tidak sekadar menjadi data statistik, melainkan instrumen penting untuk memahami kondisi kemahiran berbahasa masyarakat di berbagai jenjang pendidikan, profesi, dan wilayah. “Data kemahiran berbahasa Indonesia merupakan informasi penting terkait tingkat kemahiran berbahasa Indonesia di berbagai jenjang pendidikan, kalangan profesional, dan wilayah tertentu. Para pemangku kepentingan dapat menjadikannya sebagai bahan evaluasi, bahkan sebagai dasar pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan kemahiran berbahasa Indonesia,” ujar Hafidz.
 
Hasil pemetaan tahun 2025 menunjukkan Angka Kemahiran Berbahasa Indonesia secara nasional berada pada skor 64,23. Sepanjang tahun tersebut, UKBI Adaptif diikuti 321.383 peserta dari 38 provinsi dan 493 kabupaten/kota. Partisipasi juga datang dari 243 warga negara asing yang berasal dari 51 negara.
 
Data tersebut memperlihatkan semakin luasnya pemanfaatan UKBI sebagai alat ukur kemahiran berbahasa Indonesia. Namun, Hafidz menilai partisipasi mahasiswa masih perlu ditingkatkan. Dari total peserta UKBI Adaptif tahun 2025, sebanyak 84,9 persen merupakan pelajar, sedangkan mahasiswa baru mencapai 10,3 persen atau 33.080 peserta. “Hal ini perlu menjadi perhatian perguruan tinggi agar kemahiran berbahasa Indonesia menjadi bagian penting dalam peningkatan literasi mahasiswa,” katanya.
 
Selain memperluas cakupan pemetaan, Kemendikdasmen juga memastikan layanan kebahasaan dapat diakses secara inklusif. Salah satunya melalui pengembangan UKBI Adaptif Disabilitas Rungu yang dirancang untuk memberikan kesempatan setara bagi penyandang disabilitas rungu dalam mengukur kemahiran berbahasa Indonesia.
 
“Kemendikdasmen berkomitmen menjembatani hak atas pendidikan dan kebahasaan yang inklusif sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang memuat hak berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi,” ujar Hafidz.
Pengembangan layanan tersebut telah dimulai sejak 2024 dan diuji secara nasional pada Oktober 2025 dengan melibatkan 222 peserta penyandang disabilitas rungu dari berbagai daerah. Materi ujian disesuaikan dengan pengalaman berbahasa peserta yang lebih banyak bertumpu pada informasi visual dan tulis tanpa mengurangi mutu pengukuran.
 
Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan, Moch. Abduh, mengatakan bahwa layanan ini akan terus dikembangkan agar semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat. “Kami akan terus menyiapkan berbagai bentuk adaptasi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi,” ujarnya.
 
Melalui pemetaan kemahiran berbahasa yang semakin luas dan inklusif, Kemendikdasmen berharap hasil UKBI dapat menjadi fondasi pengembangan pembelajaran, peningkatan literasi, serta penyusunan kebijakan kebahasaan dan pendidikan yang lebih efektif, berbasis data, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. (**) 

Berita Terkait