Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat
Klikwarta.com, Tangerang Selatan - Sebagai upaya dari pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) di satuan pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKPLK), menggelar Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran SLB.
Dalam sambutan sekaligus membuka acara, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menekankan pentingnya kompetensi guru yang didukung dengan pemanfaatan dan penguasaan teknologi sebagai kunci utama peningkatan mutu pembelajaran di SLB. Tugas yang diemban guru SLB menurutnya merupakan pekerjaan yang luar biasa karena menuntut kapasitas, kesabaran, dan komitmen yang lebih tinggi dibandingkan profesi pada umumnya.
"Guru-guru SLB telah mendedikasikan diri untuk melayani saudara-saudara kita yang memiliki kebutuhan khusus. Tentunya, semangat pengabdian dan nilai-nilai spiritual menjadi kekuatan penting dalam menjalankan tugas mulia tersebut," ungkap Wamendikdasmen Atip Latipulhayat, di Tangerang Selatan, Senin (29/6).
Mengutip pemikiran filsuf Martin Heidegger dalam The Question Concerning Technology, Wamen Atip menjelaskan bahwa teknologi merupakan cara manusia untuk memahami dunia. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan harus dilakukan secara tepat agar mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
"Guru harus memiliki pengetahuan, penguasaan, dan keterampilan agar mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Guru harus menjadi aktor utama kesuksesan program Digitalisasi Pembelajaran, sehingga IFP ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap mutu pendidikan," ujarnya.
Mengakhiri sambutannya, Wamen Atip mengajak seluruh peserta acara untuk terus memperkuat kompetensi, mengoptimalkan pemanfaatan teknologi, serta menghadirkan inovasi dalam proses pengajaran.
"Kalau kita ingin berubah menjadi lebih baik, maka kita harus terus menciptakan kreativitas yang melahirkan inovasi. Dengan inovasi itu, kita dapat menghadirkan semangat baru, memaknakan proses pembelajaran, dan meningkatkan mutu pendidikan," tutur Wamen Atip.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa transformasi digital di sekolah tidak hanya ditentukan oleh tersedianya perangkat teknologi, namun juga oleh kemampuan guru dalam memanfaatkannya guna mendukung proses pembelajaran. Melalui acara ini, seluruh peserta akan menyusun rencana tindak lanjut berupa pengembangan bahan ajar digital, produksi video pembelajaran, penyusunan permainan edukatif, serta diseminasi hasil pelatihan kepada rekan guru di sekolah masing-masing.
Selama empat hari pelatihan, para peserta akan memperoleh lima materi utama, yaitu pengembangan konten pembelajaran digital interaktif, pemanfaatan platform Ruang Murid pada Rumah Pendidikan, implementasi Pembelajaran Mendalam berbasis digital, penguasaan aplikasi penyuntingan video pembelajaran, serta pembuatan permainan interaktif sebagai media belajar. Lebih lanjut, peserta juga mendapatkan pendampingan intensif dari fasilitator dalam mengembangkan bahan ajar digital yang siap digunakan di SLB masing-masing.
“Dengan seluruh materi yang diperoleh, kami berharap para guru SLB mampu menjadi motor penggerak transformasi digital di sekolah, menghadirkan pembelajaran yang semakin inovatif, menyenangkan, inklusif, dan mengakomodasi kebutuhan belajar setiap peserta didik berkebutuhan khusus,” terang Dirjen Tatang.
Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran SLB berlangsung mulai tanggal 29 Juni s.d. 4 Juli 2026. Kegiatan ini menghadirkan para guru SLB terpilih dari 13 provinsi di seluruh Indonesia. (**)








