Gelar Wicara “Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan untuk Meningkatkan Literasi” di Jakarta, Selasa (21/4).
Klikwarta.com, Jakarta, 22 April 2026 – Bertepatan dengan momen peringatan pemberdayaan perempuan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menyelenggarakan Gelar Wicara “Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan untuk Meningkatkan Literasi” di Jakarta, Selasa (21/4). Acara ini menyoroti peran krusial perempuan, khususnya para ibu dan pendidik dalam membangun fondasi kecerdasan anak bangsa dari wilayah pelosok.
Kegiatan ini secara khusus menghadirkan para pejuang literasi dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui program Inovasi Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) yang merupakan kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Australia, para narasumber berbagi kisah inspiratif mengenai perubahan pola pikir dan peningkatan kemampuan baca-tulis murid sekolah dasar di wilayah terpencil melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan bermakna.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa peningkatan literasi bukan sekadar tugas guru di kelas, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari lingkungan terdekat anak. Menurutnya, keterlibatan tokoh perempuan dan ekosistem lokal di NTT menjadi bukti nyata keberhasilan kolaborasi pendidikan.
“Kegiatan ini adalah rangkaian perayaan untuk menguatkan peran perempuan dalam pendidikan. Kami menghadirkan tokoh-tokoh dari NTT untuk berbagi praktik baik tentang bagaimana ekosistem daerah, mulai dari Bunda Literasi, kepala sekolah, guru, hingga forum taman bacaan bahu-membahu menumbuhkan minat baca,” ujar Hafidz saat ditemui usai acara.
Hafidz menambahkan bahwa penguatan literasi harus menyentuh tiga ranah utama, yaitu sekolah, masyarakat, dan keluarga. Ia menilai peran perempuan sangat sentral dalam menghidupkan budaya tutur dan baca di rumah sebelum anak-anak memasuki jenjang formal.
Hafidz juga menyampaikan harapannya agar praktik baik kolaborasi di Provinsi NTT juga dapat dilanjutkan di daerah-daerah lain. “Pada bulan Februari yang lalu, kami juga menggelar acara dengan tema penggunaan bahasa ibu atau bahasa daerah di kelas awal untuk meningkatkan proses pembelajaran. Kebetulan narasumbernya juga dari NTT, ada bupati, kepala sekolah, dan Duta Bahasa dari Bali,” tambah Hafidz.
Kepala Badan Bahasa juga mengapresiasi INOVASI sebagai mitra pembangunan di bidang pendidikan dan juga pemerintah daerah Provinsi NTT yang telah mendukung peningkatan literasi di daerahnya melalui berbagai program dan pendekatan.
Praktik Baik Peningkatan Literasi di NTT
Pada gelar wicara, Bunda Literasi Provinsi NTT periode 2025—2030, Mindriyati Astiningsih Laka Lena memaparkan bahwa kunci utama peningkatan literasi di daerahnya adalah ketersediaan buku bacaan yang bermutu dan menarik. Ia secara aktif melakukan advokasi kepada pemerintah daerah serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT untuk mengoptimalkan penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) dalam pengadaan buku yang telah dikurasi oleh Badan Bahasa. Mindriyati juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas para pendidik, terutama guru PAUD dan SD kelas awal agar proses belajar membaca tidak menjadi trauma bagi murid.
“Kami ingin memastikan proses belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi murid. Oleh karena itu, kami mendorong adanya asesmen menyeluruh di kelas awal agar anak yang belum lancar membaca tidak merasa minder. Kami juga berencana bergerak melalui gerakan ‘Satu ASN, Satu Buku Layak Baca’ serta berjejaring untuk membawa oleh-oleh berupa Pojok Baca di setiap kunjungan kerja di desa-desa. Di NTT, buku bacaan yang berwarna dan bergambar adalah sebuah kemewahan yang sangat dinantikan oleh anak-anak,” ungkap Mindriyati.
Langkah ini diperkuat dengan kolaborasi bersama Kelompok Kerja (Pokja) Literasi dan Forum Taman Bacaan Masyarakat untuk menyortir buku sesuai jenjang usia sehingga distribusi literasi tepat sasaran. Menurut Mindriyati, sinergi antara peran ibu melalui PKK dan dukungan mitra pembangunan seperti INOVASI menjadi fondasi penting dalam membangun budaya membaca yang berkelanjutan di bumi Flobamora.
Memaknai Hari Kartini: Perempuan sebagai Tiang Literasi Bangsa
Momentum ini juga menjadi refleksi untuk memakani semangat Kartini melalui pemberdayaan perempuan di sektor pendidikan. Bunda Literasi NTT, Mindriyati Astaningsih Leka Lana, menekankan bahwa perempuan adalah tiang keluarga dan pokok kehidupan bagi sekitarnya. Ia berpendapat bahwa kemajuan sebuah daerah dan negara sangat bergantung pada kesejahteraan dan keberdayaan perempuannya. Mindriyati juga memperluas cakupan literasi tidak hanya pada kemampuan membaca, tetapi juga literasi digital dan finansial guna membentengi keluarga dari dampak negatif seperti pinjaman dan judi online .
“Perempuan harus proaktif memberdayakan diri. Jika perempuan berdaya, keluarganya maju, daerahnya sejahtera, dan Indonesia pun akan maju. Kami terus mendorong ibu-ibu di desa, bahkan melalui kader PKK dan Posyandu untuk menjadi teladan literasi bagi anak-anaknya. Jika ibunya suka membaca, ruang bagi anak untuk mencintai buku akan terbuka lebar di rumah,” tegas Mindriyati.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen, Neni Ruhaeni, memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya pemberian panggung bagi perempuan-perempuan hebat dari daerah. Ia berharap semangat literasi ini menular kepada seluruh pengurus dan anggota DWP untuk terus meningkatkan kualitas diri sebagai agen perubahan di masyarakat.
“Saya berharap seluruh anggota DWP Kemendikdasmen memiliki semangat untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan dan literasi tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Perempuan yang berpendidikan akan mampu memaksimalkan potensinya sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan bangsa,” pungkas Neni.
Penguatan literasi nasional dapat tercapai melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, berbagai kelompok penggerak, dan mitra pembangunan. Pemberdayaan perempuan dalam ekosistem pendidikan juga menjadi salah satu kunci penting mengingat peran ibu dan guru perempuan sebagai pendidik utama bagi anak-anak. Dengan kolaborasi yang inklusif dan berkelanjutan, upaya peningkatan literasi ini diharapkan dapat melahirnya sumber daya manusia yang unggul dan kompeten demi mewujudkan visi Indonesia maju yang bermartabat dan berkarakter. (*)








