Ketika Dosen Asik Membuat Mahasiswa Betah di Kelas

Senin, 19/05/2025 - 18:33
Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

Oleh : Adrian Sinapitulo

Klikwarta.com - Tak semua mahasiswa sanggup menyimak pelajaran dari awal sampai akhir dengan konsentrasi penuh. Terlebih jika materi yang disampaikan terasa berat atau cara penyampaian dosen terkesan monoton. Hal ini juga dirasakan oleh Naufal Syafrie, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, yang dengan jujur mengakui bahwa fokusnya kerap memudar di tengah-tengah perkuliahan.

“Awalnya sih semangat, duduk rapi, siap dengerin. Tapi lama-lama suka buyar juga fokusnya, apalagi kalau dosennya cuma bacain slide,” ujar Naufal saat diwawancarai.

Menurutnya, salah satu mata kuliah yang akhir-akhir ini terasa membosankan adalah Penulisan Laporan. Materinya memang penting, namun gaya pengajaran yang terlalu teoritis membuat mahasiswa cepat merasa jenuh.

“Materinya terlalu kaku, terus slide-nya padat banget. Rasanya kayak kepala dipaksa nelen buku panduan,” keluhnya dengan gaya bicara khas anak muda.

Teori Psikologi : Atensi, Motivasi dan Gaya Belajar

Keluhan Naufal ini sebenarnya mencerminkan beberapa prinsip dasar dalam psikologi pendidikan. Salah satunya adalah Teori Atensi (perhatian). Dalam konteks belajar, perhatian adalah gerbang awal agar informasi dapat diproses oleh otak. Jika penyampaian materi kurang menarik, atensi pun mudah teralihkan.

“Kadang jadi iseng buka HP, scroll-scroll doang, soalnya otaknya udah nggak nyantol lagi sama materi,” tambahnya.

Hal ini diperkuat oleh teori psikologi kognitif yang menyebutkan bahwa perhatian terbatas sifatnya (limited capacity). Jika tidak ada stimulus yang cukup kuat atau menarik, maka perhatian akan beralih ke hal lain—seperti media sosial.

Selain itu, Teori Motivasi Self-Determination dari Edward Deci dan Richard Ryan juga bisa menjelaskan situasi ini. Menurut teori tersebut, manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar: autonomy (kebebasan memilih), competence (kemampuan untuk merasa mampu), dan relatedness (koneksi sosial). Jika pembelajaran hanya berisi ceramah dan hafalan, maka mahasiswa merasa tidak memiliki kendali dan koneksi, sehingga motivasi intrinsik pun turun.

Saran dari Mahasiswa: Buat Lebih Interaktif

Namun, Naufal tidak hanya mengeluh. Ia juga memberikan saran konstruktif untuk dosen agar suasana kelas tidak membosankan. Salah satunya adalah memperbanyak interaksi.

“Coba deh dosen lebih sering ngajak diskusi, kasih studi kasus nyata, atau contoh laporan yang lucu dan menarik. Jadi kita nggak cuma duduk dan nyatet doang,” sarannya.

Ia juga menyarankan penggunaan media pembelajaran yang variatif, seperti video, grafik visual, atau praktik langsung. Hal ini sesuai dengan Teori Gaya Belajar (Learning Styles), yang menyatakan bahwa tiap individu memiliki preferensi cara belajar yang berbeda—ada yang visual, auditori, kinestetik, dan sebagainya.

Dengan mencampur berbagai metode penyampaian, dosen bisa menjangkau lebih banyak tipe mahasiswa. Hal ini juga sejalan dengan prinsip Multimedia Learning Theory dari Richard Mayer yang menyatakan bahwa penggunaan teks dan gambar/video secara bersamaan dapat meningkatkan pemahaman dan retensi informasi.

Sosok Dosen Inspiratif

Saat ditanya soal dosen yang gaya mengajarnya tidak membosankan, Naufal menyebut nama Bu Maida.

“Bu Maida itu ngajarnya kalem, tapi tetap bisa ngatur kelas. Beliau juga sering selipin cerita pribadi atau nasihat yang bikin kita mikir,” jelasnya.

Naufal masih mengingat satu nasihat dari Bu Maida yang membekas dalam pikirannya: “Ilmu itu penting, tapi cara lo bawa diri juga nggak kalah penting.”

Baginya, kalimat ini menunjukkan bahwa seorang dosen bukan hanya menyampaikan teori, tapi juga membentuk karakter dan sikap mahasiswa. Dalam psikologi, hal ini sejalan dengan Teori Pembelajaran Sosial dari Albert Bandura, yang menyatakan bahwa seseorang belajar tidak hanya melalui pengalaman langsung, tapi juga melalui observasi terhadap model (dalam hal ini, dosen).

Penutup : Peran Dosen dalam Membangun Pengalaman Belajar

Pengalaman Naufal mencerminkan situasi umum yang sering terjadi di ruang kelas: bagaimana pentingnya metode pengajaran yang komunikatif dan relevan. Mahasiswa saat ini tidak hanya ingin mendengar teori, tapi juga ingin merasakan keterlibatan dan kedekatan dalam proses belajar.

Peran dosen bukan hanya sebagai penyampai materi, tapi juga sebagai fasilitator dan inspirator. Ketika seorang dosen mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, mahasiswa pun akan lebih mudah fokus, memahami materi, dan bahkan merasa terinspirasi untuk berkembang.

Dalam dunia pendidikan yang terus berubah, mungkin sudah saatnya pendekatan pengajaran ikut berkembang. Karena seperti kata Bu Maida ilmu itu penting, tapi bagaimana cara menyampaikannya bisa membuat perbedaan besar di hati para mahasiswa.

Tags

Berita Terkait